Mi tek-tek adalah masakan yang dimasak dan disajikan oleh Teta untuk malam ini. Mi yang rasa dan bentuknya hampir mirip dengan mi anglo atau mi nyemek dari Yogya itu—tampak menggugah selera Panca yang memang sudah kelaparan.
Tidak ada meja makan, hanya sebuah tikar yang dihamparkan oleh Teta dan menata masakannya. Panca menggaruk tengkuknya pelan, jika diamati, mereka ini tampak seperti pengantin baru yang masih malu-malu. Justru Panca yang malu-malu dan wajahnya memerah, membayangkan sebuah pernikahan. Sedangkan Teta datar seperti biasanya.
“Hanya ada ini dan jangan protes.”
Mana ada Panca berani protes untuk saat ini, kalau nggak nanti akan kena kokang senjata Teta lagi. Panca memilih hanya mengangguk tidak menyahut ucapan Teta. Perutnya sudah meronta dan menari minta segera dipenuhi kebutuhannya. Tanpa sungkan, Panca segera mengambil satu porsi mi tek-tek dan menambahkan nasi hingga tiga centong, dan di atasnya sudah ada telur rebus juga sambal. Mata Panca bahkan berbnar-binar entah karena menghidu aroma mie tek-tek atau memang karena takjub dengan menu makan malamnya yang sangat biasa itu.
“Hm—“ gumaman Panca terdengar, netranya semakin berbinar cerah saat melahap mi dan nasi—duo karbohidrat yang selalu pantang ia santap, terlebih makan malam. “ntaw bowleh nyambah lagi ya!”
“Hah?!” Teta mengernyitkan dahinya dan melongo—tidak jelas di pendengarannya, apa yang diucapkan oleh Panca.
Segera Panca menghabiskan dan melahap habis makanannya. Panca nyengir, “minta tambah boleh?”
“Yakin?” Teta malah balik bertanya dan Panca pun mengangguk antusias.
“Ya—boleh sih, ta—“ ucapan Teta berhenti karena Panca sudah mengambil sisa mi yang ada di dalam mangkuk. Teta hanya menghela napasnya pasrah. Ya sudah biarkan saja, gumam Teta dalam hati.
Setelah menyelesaikan makanan dan minumnya dengan segelas air putih hangat, Panca menutup makan malamnya dengan sendawa sebagai rasa syukurnya. Sendawa! Sesuatu yang selama ini hampir ia hindari dan tidak pernah ia lakukan karena selalu menjaga image-nya. Sekali lagi Panca hanya mengulas senyum tak berdosa, ketika suara sendawanya keluar. Saat hendak menahan sendawanya yang akan keluar lagi, justru malah gantian kentutnya yang keluar.
Sial! Malu-maluin!
Teta mendelik tajam ketika mendengar bunyi ‘tut’ yang spontan dan cempreng. Sedangkan wajah Panca sudah memerah hingga ke telinga saking malunya. Nahan yang atas justru yang bawah yang loss dol!
Kan kampret!
Untung kentutnya enggak bau, karena kalau begitu, habis sudah reputasi Panca sebagai pria tampan dan CEO perusahaan besar yang ternistakan karena sebuah sendawa dan kentut!
Untungnya lagi Teta kembali memasang wajah datarnya—sedatar papan triplek—dan kembali meneruskan makannya. Entah perempuan di depannya itu, apakah memang masa bodoh atau pura-pura tidak dengar, yang jelas Panca ingin segera berlari ke kamar dan membenamkan kepalanya ke bawah bantal dan tidur! Namun, karena ingat titah Teta untuknya tadi untuk mengecek hasil panen kedelai, membuat niat Panca untuk kabur jadi urung.
***
Velia menggigit-gigit kukunya yang kali ini tidak memakai kuku palsu. Ia sedang berada di sebuah restoran Jepang yang menyajikan aneka mi udon dan tempura. Sayangnya kuah kari dari mi udon yang mengepul itu, tidak membuat Velia lapar. Kepalanya masih dipenuhi oleh Panca dan Panca.
Sampai saat ini, sama sekali tidak ada perkembangan. Yang membuat Velia heran adalah, mengapa berita hilangnya Panca yang mendadak saat hendak pelantikan sama sekali tidak terendus media. Ini seorang Panca Arjo Mahawira—seorang putra mahkota yang hilang tapi senyap dan tidak menghebohkan publik.
“Vel, lo tuh belum makan sama sekali, ini udon keburu dingin ntar,” ucap Siska memperingatkan.
“Udah ada kabar belum sih Sis?” nada cemas Velia sangat kentara.
Siska menggeleng kemudia melanjutkan kembali menyuapkan mi udon dan beef-nya.
“Kayaknya habis ini gue harus ke tempat tongkrongannya Panca dan anak-anak kayak biasa. Gue harus tahu ada info update Panca yang sebenarnya.”
“Ya … silakan,” jawab Siska yang tampak cuek-cuek saja.
“Lo nggak ngerti jadi gue,” ketus Velia.
“Dan, lo juga nggak ngerti jadi gue yang laper!”
Velia menyedekapkan tangannya, dan menghempaskan punggungnya ke sandaran tempatnya duduk. Kakinya menghentak-hentak di lantai dengan tidak sabar. Tangannya pun sama membuat gaduh dengan mengetuk-ketukkan jari-jarinya di atas meja. Hal ini sungguh membuat Siska memutar bola matanya ke kanan dan kiri.
“Lo bisa nggak sih sabar! Lo juga butuh asupan makanan! Biarin lima belas menit gue untuk makan dengan tenang dan nyaman.”
“Oke lima belas menit!” seru Velia senang.
Sang Cinderella itu pun dengan semangat melihat ke arah ponselnya, mengamati pergerakan detik hingga ke menit yang terus bergerak. Sesekali ia menyuapkan sedikit mi udon dan kuah karinya. Makannya hanya formalitas yang penting terisi. Sebelum kabar kekasihnya benar-benar ditemukan, Velia sepertinya tidak akan pernah bisa tidur dan makan dengan tenang.
***
Masih pukul sembilan malam, tapi memang kafe dan bar ini sudah ramai saja. Suara dentuman musik R&B mengalun dari tembang lawas Dilemma yang dilantunkan Nelly feat Kelly Rowland itu mengalun menghibur para pengunjung. Siska dan Velia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kafe dan bar yang besar dan berlantai dua—mencoba menemukan teman-teman satu geng Panca.
Siska menepuk pundak Velia. “Kayaknya mereka di lantai dua Vel, mana pernah mereka di lantai bawah. Ya nggak sih?”
Seketika Velia ingat, ucapan Siska memang benar. Panca dan teman-temannya itu, lebih suka suasana ramai yang privat—tanpa gangguan dari orang atau kelompok lain. Maka akhirnya mereka bergegas ke lantai atas. Dan mencoba melihat-lihat, ruangan nomor berapa yang berisi teman-teman Panca itu.
Netra Velia membeliak ketika ia justru menemukan Rendi yang tengah menyeringai kepadanya dengan pose menyedekapkan tangannya dan bersandar pada pintu ruang nomor dua. Velia tidak peduli sebenarnya laki-laki itu sedang apa dan mengapa ada di tempat ini, hanya saja bertemu dengan Rendi sungguh adalah hal yang paling tidak Velia inginkan sekarang ini.
Rendi melangkah perlahan ke arahnya. Membuat Velia semakin terpaku dengan degup jantungnya yang kian kencang. Tubuhnya bahkan seakan bergetar dengan sorot mata Rendi yang tajam dengan senyumannya yang mengintimidasi. Siska pun ikut merasa was-was dan tidak menyangka akan bertemu dengan Rendi di tempat ini.
Begitu jarak Rendi dan Velia hanya tinggal sejengkal, laki-laki dengan tinggi 181 cm itu sedikit menunduk mengarahkan tatapannya masih terus tertuju pada Velia yang masih bergeming.
Rendi mengeluarkan suara beratnya yang dibuat seolah serak itu untuk menyapa Velia. “Hai Cinderella.”
Velia menahan napas. Suara Rendi mampu membuatnya merasakan kecemasan hingga tangan Velia yang berada di sisi tubuhnya—mengepal erat.
Baldin yang hendak ke kamar mandi dan keluar dari ruangan nomor tujuh yang ia sewa dengan teman-temannya itu, memicingkan matanya ketika menangkap sebuah pemandangan yang tak asing—Rendi dan Velia.
***
Panca mengusap-usap perutnya yang terasa kenyang. Kini perutnya terasa tidak nyaman karena begah dan kembung, terlebih mereka sedang berjalan kaki menuju tempat pengumpulan hasil panen yang kurang lebih berjarak hampir 300 m itu, lengkap sudah rasanya! Karena semakin membuat perut Panca seakan tertusuk-tusuk dan semakin nyeri.
Teta melirik Panca dan mengamati gerak-gerik Panca. Sebenarnya, inilah yang tadi hendak Teta peringatkan. Dengan perut yang terlalu penuh lalu berjalan kaki, tentu saja akan membuat Panca merasa tidak nyaman dan sakit di perutnya. Tapi karena kerakusan seorang Panca Arjo Mahawira—yang katanya CEO—membuat Teta hanya bisa menggeleng tidak percaya.
“Tahan sakit perutnya, tadi sudah diperingatkan—“
“Kapan?” ucap Panca sewot.
“Sebelum kamu akan tambah porsi, tadi aku sudah mau mengatakannya, tapi malah kamu sela.”
“Ya kan harusnya pas di awal, kamu tuh bilang dulu, kalau kita akan jalan kaki, Suketi! Mana jauh lagi!” Panca masih betah menggerutu.
“Tiga ratus meter itu nggak jauh.”
Sudahlah berdebat sama Teta akan semakin membuat perutnya melilit. Maka Panca hanya diam dan bertahan dari rasa tidak nyaman. Sebuah gudang yang cukup besar, dan di depannya terdapat sebuah pos yang ternyata terdapat Abas dan Rois juga beberapa pemuda yang lain—mungkin bertugas sebagai penjaga.
Panca dan Teta mendekat ke arah pos yang cukup besar itu.
“Ta, lo ke sini?” tanya Abas yang dijawab anggukan oleh Teta. “Wuih sama si ganteng, gimana sukses bertaninya?” nada Abas yang bercanda terkesan mengejek Panca, tapi Panca memillih cuek saja dan memperhatikan isi pos dan mengamati wajah-wajah yang berada di dalam pos tersebut.
Ada sebuah TV layar datar berukuruan 32 inchi itu—tengah memutar sebuah iklan sabun mandi yang menampilkan sosok yang begitu Panca hafal—Velia. Iklan sabun mandi itu memang dibintangi oleh sang kekasih yang sebenarnya bukanlah seorang artis atau selebriti. Velia hanyalah seorang sosialita muda yang dikenal publik secara luas dan memiliki pengikut di i********: karena berteman dengan banyak artis. Sehingga wajar jika akhirnya sang kekasih yang memang berwajah oriental dan lembut itu, mendapatkan tawaran iklan.
Teta melirik ke mana arah tatapan Panca. Sebuah TV yang menayangkan sebuah iklan sabun berdurasi sekitar empat puluh lima detik yang dibintangi oleh seorang iklan cantik. Rahang Teta mengetat begitu melihat wajah cantik itu, ia pun kemudian melengos. Tapi Panca masih bergeming—menatap layar LED itu. Mungkin kangen pacarnya, pikir Teta.
Selama penayangan iklan itu, Panca terus bergumam dalam hati.
Baru dua hari satu malam, tapi gue lupa sama Velia. Si Suketi ini terlalu dominan dan itu nggak baik buat gue.