Iklan sabun sudah buyar, tapi Panca masih betah diam di tempatnya berdiri, hingga akhirnya tepukan di bahunya menyadarkan Panca dari lamunan. Teta hanya menggerakkan kepalanya ke arah pintu masuk gudang, memberikan kode pada Panca untuk mengikutinya berjalan. Masih dengan pikiran dan hatinya yang seakan waspada, Panca mengikuti Teta dari belakang sembari terus menggumam dalam hati.
Jaga hati
Jaga diri
Cuma Velia, ya Cuma Velia
“Selain menanam kedelai, tugas kamu setiap tiga hari sekali juga melakukan kontrol pada hasil panen yang ada di gudang ini. Memastikan bahwa penyortiran biji kedelai yang baik dan kualitas sudah terpisah dengan biji yang kualitasnya jelek. Lalu biji yang kualitasnya jelek ini, tidak dibuang dan akan diolah kembali untuk jadi pakan ternak.”
Panca masih betah menatap punggung sempit Teta.
“Pernyortiran biji hasil panen tugasku juga?”
Teta menggeleng, “Ada bagian sendiri.”
Lalu Panca terbesit sesuatu dalam pikirannya. “Semua hasil panen ini proses pendistribusiannya ke mana? Tengkulak atau pabrik untuk olahan makanan dengan bahan dasar kedelai?”
“Tengkulak kita masih membatasinya dan berusaha untuk memotong jalur ini agar harga kedelai tidak terlalu tinggi terutama bagi para UKM berskala mikro yang memproduksi tahu, tempe, oncom ataupun s**u kedelai.”
“Apa kita tidak menyasar mendistribusikannya ke pabrik-pabrik besar, seperti pabrik Boga Rasa milikku?” Panca bangga menyebutkan Boga Rasa adalah miliknya.
Teta berbalik menatap ke arah Panca, sedikit mendecakkan bibirnya lirih.
“Itulah peranmu di sini. Apakah orang-orang seperti kalian yang memiliki kekuasaan dan daya ekonomi yang tinggi, benar-benar memperhatikan kami—para petani kecil—untuk bisa terus berdaya saing dengan produk kedelai impor yang justru banyak melibatkan produsen-produsen besar macam kalian.”
Ucapan Teta seakan menohok Panca. Ia sadar, bahwa selama hampir tiga tahun sejak kelulusan kuliahnya di luar negeri dan kembali ke Indonesia serta ikut berkecimpung di dunia bisnis perusahaan keluarga, pikiran dan fokus Panca hanya pada bidang manajemen perusahaan. Tapi bukankah tidak salah kalau dirinya hanya fokus pada manajemen bisnis perusahaan, bukan pada proses bahan baku dasar produknya, toh sudah ada yang mengurusi sendiri. Namun, apa yang dikatakan Teta ada benarnya juga menurut Panca, bahwa pikirannya terlalu sempit. Harusnya sebagai calon pemimpin, dirinya benar-benar memahami dari hulu ke hilir, dari dasar-dasar substansial, sehingga lebih peka pada keadaan. Terutama tentang isu produksi impor kedelai yang justru jadi lahan basah untuk korupsi, yang sebelumnya Panca tidak pernah tahu.
Teta yang melihat respons Panca hanya diam kembali menjelaskan. “Sebagai calon CEO tentunya nggak mungkin kan kalau kamu cuma ongkang-ongkang kaki dan sok jadi pemimpin yang berkuasa dibalik nama besar Lian Pradja dan Boga Rasa, karena itu buktikan! Setidaknya berhasillah dalam satu kali masa panen, dan—jangan pernah coba-coba untuk melarikan diri, atau kamu sudah tahu sendiri apa risikonya.”
***
“Hai Cinderella.” Suara Rendi yang agak serak dan berat itu membuat bulu kuduk Velia berdiri. Laki-laki itu semakin menghimpit dan mengintimidasinya. Memberikan senyumannya yang mengerikan, tapi Velia pura-pura tak gentar menghadapi laki-laki yang kini semakin tampak rupawan dengan rambut ponytail-nya itu.
Velia berdecih. “Hai juga Prince. Sedang bersenang-senang dengan mainan baru? Atau memang sekarang ini kamu senang berpetualang?” Velia menyedekapkan kedua tangannya silang ke d**a, tatapannya mengejek ke arah Rendi.
Rendi hanya menyeringai, suaranya kian berat dan penuh penekanan. “Sekarang ini aku sedang berpetualang yang jauh lebih besar.”
Velia menaikkan alisnya, “Oh ya?”
Rendi mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Velia, dan berbisik lirih. “Kali ini aku akan menang, Cinderella, aku pastikan itu.” Tubuh Rendi kembali tegap dan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana jins belelnya. Sebelum berbalik meninggalkan Velia yang tengah menatapnya dengan pandangan takut, Rendi memberikan smirk-nya pada Velia dengan tatapan seolah-olah berkata ‘aku pasti menang’.
Velia menghela napasnya pendek-pendek. Dadanya benar-benar bergemuruh, tangannya yang mengepal erat membuat buku-buku jarinya yang sudah putih itu tampak semakin pias. Dan … bertambah semakin tegang dan pucat pasi di wajah Velia ketika suara Baldin memanggil namanya.
Tidak! Tidak boleh seorang pun yang tahu mengenai apa pun yang berkaitan antara dia dan Rendi.
***
Selama perjalanan kembali ke rumah sangkarnya, Panca terus berpikir keras. Ada banyak hal yang menjadi sangat janggal mengenai penculikannya ini. Ia merasa ancaman Teta bukanlah sesuatu yang bisa ia takuti meski memang saat perempuan itu menodongkan senjata dan bunyi pelatuk yang siap ditarik mampu membuatnya merinding. Hanya saja, untuk sebuah ukuran kasus penculikan, ini lebih cocok disebut sebagai romusha atau kerja paksa.
Sama sekali tidak ada tindakan kekerasan fisik yang diterimanya kecuali ancaman Teta, tapi Panca sendiri ya amit-amit kalau sampai ia berusaha melarikan diri dan Teta benar-benar melesatkan peluru ke tubuhnya. Panca masih penasaran, mengenai mengapa dirinya diculik dan dijadikan sandera? Siapa sebenarnya juragan yang disebut Pak Kar itu, dan mengapa si Suketi memiliki dua nama panggilan yang berbeda.
Sekar ….
Panca terus menggumamkan dalam hati mengapa ia seolah tidak asing dengan nama Sekar ini, tapi ia seolah lupa di mana mengenal nama ini.
Kini, mereka sudah berada dalam rumah sangkar telah membersihkan diri untuk siap tidur. Teta yang sudah berganti kaus dan celana training itu bahkan sudah menggelar kasur usang dan tipis bergambar Hello Kitty di bawah lantai. Panca berdeham karena merasa sungkan bila ia yang seorang laki-laki malah asyik tidur di kasur atas yang lebih tebal dan empuk.
“Gimana kalau kamu tidur sini aja.” Celetukan Panca mendapatkan respons sorotan tajam dan menghunus dari netra Teta, sehingga membuat Panca buru-buru meralat ucapannya. “Maksudku kan kamu cewek, perempuan masa tidur di kasur dekil dan tipis gitu.”
“Tidur di bawah sini ada pendasarannya.” Teta sudah berbaring dan memunggungi Panca, menarik selimutnya sampai ke pundaknya dan tidak mempedulikan lagi gumaman Panca—memilih untuk menutup matanya.
“Aku nggak akan kabur kalau itu yang kamu takutin,” ujar Panca lagi.
“Tidur Panca,” ucap Teta dengan suara yang mulai berat karena kantuknya.
Panca hanya mendengkus dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Ia melirik punggung Teta. Entah mengapa bayangan Teta yang saat memasak di dapur tadi dan sorot matanya saat menepuk pundaknya membuat Panca terus bertanya-tanya. Namun, sekali lagi Panca menepis pemikirannya dan terus merapal dalam hati mantranya.
Seratus dua puluh tujuh hari lagi, jangan penasaran, jangan penasaran sama si Suketi.
Panca akan terus merapalkan mantra anti Teta-nya. Ia tidak boleh mudah terpengaruh dengan perempuan gaib itu. Bagaimanapun Panca harus dan akan tetap mencari cara melarikan diri dari sangkar ini.