Kali ini Panca tidak lagi susah untuk bangun di subuh hari. Baru tujuh hari tapi seakan jam biologis dan ritme hidupnya sudah menyetel secara otomatis bahwa kini—dan selama seratus dua puluh tiga hari lagi—ia masih harus menjalani masa penculikan yang konyol ini. Panca mulai memahami teknik menanam kedelai, meski ia tidak terlalu cepat dalam pengerjaan jika dibandingkan dengan Pak Kar, setidaknya ia sudah berhasila menanam bibit kedelaidi satu petak sawah yang luas.
Petugas yang mengawasinya pun bergantian, terkadang Abas dan Rois, atau orang-orang berbadan gempal mirip dengan preman atau bodyguard, tapi bila yang menjaga saat ia bekerja adalah Teta, maka perempuan itu hanya sendirian. Seperti sekarang ini, Teta yang mengawasinya bekerja, dan sedang duduk di sebuah gazebo kecil yang dibuat dari bambu. Sesekali sembari menabur bibit kedelai—sambil mengelap wajahnya yang basah oleh keringat—Panca melirik ke arah Teta yang entah sedang sibuk menulis apa, karena terlihat begitu serius dengan kerutan alis di wajahnya yang tidak pernah mengendur.
Hari ini memang lebih terik dari kemarin, membuat Panca sering kali menelan ludahnya saking sering merasa haus, bahkan tanah yang sawah ini pun terlihat agak lebih kering bukan gembur seperti saat pertama kali Panca menanam dengan Pak Kar. Hal ini membuat Panca juga agak kesulitan bila tanah terlalu kering. Panca membungkuk dan kembali menanam bibit kedelai. Satu lubang ia tanam tiga biji bibit dengan diberi jarak satu tugalannya antara 20-25 cm.
Punggung Panca terasa basah dan berkeringat. Ia tegapkan punggungnya itu, lalu merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Panca pun ingin rehat sejenak dengan minum. Ia berjalan ke arah gazebo yang lebih mirip gubuk itu. Panca yang sudah menjulang di sebelah Teta dan mengambil air minum dari teko kecil yang dibawa oleh Teta. Setiap hari ada dua teko yang disiapkan, air putih dan es kopi sesuai permintaan Panca. Setidaknya Panca masih bersyukur, permintaanya yang lebih memilih es kopi dari pada kopi hitam panas, agar membantunya dari dahaga terutama saat matahari sudah kian tinggi.
Panca sudah mengambil teko air putih yang ada di sebelah Teta, bahkan ia sudah berdeham kecil, tapi Teta sama sekali tidak menoleh ke arahnya atau melirik pun tidak. Susah sekali memang mengalihkan perhatian seorang Teta si Suketi ini. Namun, baru setelah sebuah suara halus dan lembut memanggil nama Teta, gadis itu baru menoleh.
“Kak Sekar—“ panggil suara milik seoranga gadis yang membuat Panca dan Teta menatap ke arah gadis itu. Seorang gadis dengan rambut panjang hingga mencapai pinggang karena dibiarkan terurai. Gadis manis itu terkesiap melihat seorang Panca yang berdiri di hadapannya. Ia menunduk dengan wajah bersemu merah, dan membuat gerakan dengan menyelipkan rambutnya ke telinga.
“Oh Ila, antar makanan?” tanya Teta.
“I—iya Kak,” jawab Ila dengan malu-malu. Teta hanya mengangkat sebelah alisnya, memperhatikan gadis yang baru kelas XI SMA ini dan akan mengikuti ujian nasional itu tampak salah tingkah. Teta pun melirik ke arah Panca, bertepatan dengan Panca yang sedang menatapnya, hingga justru mereka berdua saling terkejut dan segera mengalihkan pandangan.
Teta segera berdiri dan mengambil rantang yang sedang dibawa oleh Ila. “Makasih ya Ila, sampaikan ke ibu.”
“Iya Kak.” Masih dengan semburat merah di pipinya, gadis remaja itu dengan percaya diri memperkenalkan dirinya kepada Panca. “Hai Aa, nama saya Sayila, tapi panggil aja Say,” ucap Ila yang membuat Panca dan juga Teta sama-sama melongo. Teta ingin tertawa sebenarnya, tapi ia paham bahwa gadis di depannya ini mungkin sedang merasakan pubertas karena melihat wajah seorang Panca. Sedangkan Panca sendiri hanya nyengir. Ia sudah biasa sebenarnya, hanya saja kali ini adalah seorang gadis remaja.
“Oh ….” Panca menggaruk kepalanya, “Panca,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Kak Sekar kalau butuh apa-apa bilang aja ke Say ya, bantu di sawah ini juga nggak apa-apa kok, nanti Say bantu.”
Teta hanya nyengir kaku dan sedikit terkejut gadis itu mengubah nama panggilannya yang biasanya akrab dipanggil Ila malah kini ia menyebut dirinya sendiri dengan Say. Maka Teta hanya menganggukkan kepalanya.
“Boleh nggak Kak kalau Say nemenin Kak Teta nunggu di sini,” pinta gadis belia itu.
“Eh—“ ucap Panca dan Teta bersamaan. Sungguh mereka berdua tidak menyangka bahwa gadis muda nan belia putri dari Pak Kar ini, sepertinya cukup agresif.
Teta pun menoleh ke Panca, ia mengedikkan dagunya ke arah sawah, seakan menitahkan Panca untuk kembali bekerja, tapi memang dasar Panca yang tidak mengerti kode dari Teta malah masih bergeming di tempatnya. “Kembali kerja.”
“Bentar dulu ih capek,” sahut Panca.
“Semakin siang bakal semakin panas hari ini,” balas Teta lagi.
“Ya namanya juga siang pasti panas, kalau dingin itu malam.” Panca tidak mau kalah.
“Ini ada es kopi Aa Panca mau,” ucap Ila dengan lembut sembari mengangkat teko kecil berisi kopi. Panca hanya mengangkat gelas plastiknya—menunjukkan bahwa ia habis minum es kopi. “Oh—“ gadis itu mengulas senyum.
Dengusan napas Panca yang kasar akhirnya membuat Panca meliriknya sekali lagi dan kembali ke pekerjaannya. Namun, sebelum berbalik, Panca menyempatkan diri untuk berbisik lirih di telinga Teta. “Cemburu ya.” Kemudian segera saja berlalu sambil tertawa lebar dan memasang kain handuk kecilnya dan memakai topi anyamnya lagi.
Panca sedang menjalani misinya sendiri, dan ia harus berhasil kali ini.
***
“Pak Lian, ini sudah hari ketujuh dan perkembangan kasus Panca masih belum ditemukan keberadaanya,” ucap sang sekretaris.
Laki-laki berusia senja itu pun hanya menghela napasnya yang tampak berat, “pastikan tidak ada media yang tahu mengenai hal ini. Panca memiliki popularitas yang cukup tinggi, karena dia berhubungan dengan Velia. Sebisa mungkin adakan pertemuanku dengan Velia dan Baldin. Gadis itu tampaknya sedang mencari Panca dan aku khawatir gadis dan temannya Panca itu akan mengungkapkan ke publik bahwa Panca diculik. Kamu tahu ‘kan apa dampaknya bila publik tahu bahwa Panca hilang.”
Sang sekretaris mengangguk. “Baik Pak, akan saya jadwalkan segera. Sang sekretaris hendak berlalu pergi, tapi panggilan Lian Pradja membuat sang sekretaris urung.
“Pastikan Rendi sudah berada di pabrik cabang dan jangan sampai lengah mengawasinya.”
“Siap Pak.”
***
Baldin dan Velia saling tatap dan mengerutkan dahi mereka masing-masing, ketika mereka bertemu di lift yang akan membawa mereka ke lantai delapan.
“Lo open BO?” tanya Velia.
Baldin berdecak. “Lebih mahal bayar kamar hotelnya dari pada bayar cewek yang gue booking kalau sampai gue ‘open room’ di sini.”
“Ya, barang kali aja kan.”
“Lo sendiri lagi di booking?” Baldin hanya berniat bercanda, tapi Velia menatapnya tajam.
“Enak aja, gue ada janji ketemu klien di sini.”
“Oh, paham sih paham.”
“Apaan sih Bal, jangan fitnah deh.”
“Lho gue kan cuma—“ ucapan Baldin disela oleh bunyi denting lift. Baldin mempersilakan Velia untuk keluar lebih dulu, tapi gadis itu masih betah mengerucutkan bibirnya karena bercandaannya tadi.
Velia berjalan terlebih dulu dan diikuti oleh Baldin yang jalan di belakangnya. “Lo kenapa ngikutin gue sih Bal?”
“Siapa juga yang ngikutin lo, gue juga lagi ada janjian.”
Velia sendiri sedang melihat ke kanan kiri—mencari nomor kamar yang ditujukan padanya. Pandangannya berbinar ketika ia menemukan kamar 809. Sayangnya, lagi-lagi ia terkejut karena Baldin pun ikut berdiri di depan pintu kamar tersebut. Bahkan tangan mereka sempat saling bersentuhan karena bersamaan memencet bel.
“Ish—“ ucap Baldin dan Velia bersamaan tidak percaya. “Lo juga diminta ke sini?” tanya Baldin dan dijawab Velia dengan mengangguk dengan tatapan tidak mengerti. Begitu pintu terbuka, tampak wajah familier sekretaris Lian Pradja menyapa dan menyambut mereka berdua, dan mempersilakan untuk masuk ke ruangan. Sebelum menutup pintu kamar hotel 809, sang sekretaris menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian memberikan kode dengan menggerakan telunjuknya pada seorang office boy yang sedang menyapu lantai. Segera si office boy tersebut mengangguk dan membuka sebuah pintu yang menuju pintu darurat untuk melakukan tugasnya.
***