MC 5 - Kesepakatan

1217 Words
Ini bukan ciuman pertama Teta, hanya saja ia tidak suka dilecehkan. Teta membenci pria yang seakan memudahkan sentuhan fisik dan mengira akan bisa membuat perempuan luluh, laki-laki itu salah! Karena Teta bukan termasuk di dalamnya. Teta melajukan motornya lebih cepat agar cepat sampai di kediaman Bang Jali. Hanya empat bulan! Dan Teta akan berusaha dengan keras agar bisa memenuhi tugasnya. *** Velia segera berlari ke kantor PT Boga Rasa. Satu jam lalu ia merasa bangga, bahkan sedang menyiapkan pesta perayaan untuk penyambutan jabatan baru sang kekasih. Namun, begitu mendengar bahwa Panca tidak hadir bahkan diduga menghilang secara tiba-tiba membuat Velia melupakan segala konsep pesta yang ia buat. Mata cantik Velia yang agak sipit tapi tajam itu tampak sembab. Begitu melihat Sufi—mama Panca—velia segera menghambur ke pelukan Sufi. “Tante, kabar Panca itu tidak benar kan? Panca bukan orang yang nggak bertanggung jawab,” ucap Velia diiringi isak tangisnya. Sufi menggeleng, tangisnya pun luruh. “Semoga Panca segera ditemukan, tante hanya punya Panca, hanya Panca anak tante.” Velia memeluk Sufi dan mengusap punggung wanita berusia empat puluh tujuh tahun—yang masih tampak cantik itu. “Tante—Rendi mendengar kabar tentang Panca, Rendi akan berusaha ikut membantu mencari Panca.” Rendi mengucapkan dengan tulus. Sekilas Rendi melirik ke arah Velia hingga mereka saling bersitatap sejenak, tapi segera membuang muka. “Makasih Rendi. Kamu juga harus istirahat, tante dengar kamu juga baru pulang dari luar negeri.” “Makasih Tante, tapi Rendi nggak apa-apa. Kalau Tante butuh bantuan, segera kabarin Rendi ya. Rendi mau ke Opa dulu,” ucap Rendi kemudian mengangguk sopan dan canggung ke arah Velia tapi sama sekali tidak direspons oleh Velia. “Tante, kita pulang dulu atau ke ruangan Panca? Tante Sufi kelihatan lelah, jangan sampai sakit.” Ada nada cemas dari ucapan Velia. Sufi bersyukur bahwa Panca memliki kekasih seperti Velia yang memang sejak dulu Sufi tahu bahwa gadis ini begitu mencintai putranya. *** “Bang Jali—“ Lelaki bertubuh tegap dengan kulit kecokelatan itu berbalik, menyambut Teta dengan senyum lebar dan puas, mempersilakan Teta untuk duduk di kursi yang berada di seberangnya. “Bagaimana? Dia sudah sadar?” “Sudah Bang.” “Bagus Teta, saya selalu puas dengan pekerjaan kamu yang memang tidak pernah gagal.” “Terima kasih, Bang.” Laki-laki itu meneguk kopinya yang hitam pekat dengan asap masih mengepul. “Semua sudah disiapkan. Yakinkan dia untuk mau bekerja sama dengan kita dalam waktu empat bulan. Terus perhatikan jangan sampai dia kabur, atau semua dari kita tidak akan selamat.” Teta mengangguk dengan percaya diri kemudian dia berdiri. “Teta—“ Bang Jali menyeringai tapi sorot matanya tajam. “Bermainlah dengan cerdas dan hati-hati pada pesona anak manja itu. Tapi aku tahu bahwa dia tidak akan mudah mempengaruhimu.” Teta tidak menjawab, ia hanya segera pamit dan berlalu dari tempat Bang Jali. *** Di atas sofa tua warna merah bata, Panca bolak-balik melihat ke arah kaca rumah. Setiap ada suara motor, ia segera menolehkan kepalanya dan bergegas melihat apakah itu Teta atau bukan. Dua orang laki-laki, yang berbeda bentuk badan itu—yang satu gempal yang satu cenderung kerempeng—mereka malah asyik sedang menyantap baso kuah. Padahal Panca sendiri sedang tidak tenang karena si Suketi belum juga datang. Panca ingin meminta maaf karena telah berbuat hal yang tidak pantas. Ia sangat mencintai mamanya, menghargai perempuan, sehingga tentu saja mencium seorang perempuan tanpa persetujuan atau bahasa kerennya sekarang adalah consensual, adalah tindakan pelecehan. Panca hanya dalam keadaan terusik dan terdesak. Ia masih merasa bingung dengan tiba-tiba diculik seperti ini. “Hei, muka kartun! Beneran nggak mau incip baso ini?” tanya Abas. Panca melihat ke arah mangkok yang dipegang Abas, ia meringis dalam hati, membeli baso dari abang-abang gerobak? Panca tidak pernah melakukannya, tapi kalau kedai-kedai baso yang satu porsinya minimal seharga empat puluh lima ribu tentu saja sering. Terlebih melihat bagaimana merahnya kuah bakso itu membuat Panca bergidik ngeri, membayangkan bagaimana proses pembuatan sausnya yang pasti dari tomat dan pepaya busuk yang diinjak-injak. Maka, Panca hanya menggeleng tidak mau menanggapi lebih. “Orang punya banyak duit kayak dia gini, mana tahu enaknya rasa bakso jalanan? Ngapain juga lo tawarin! Dasar dodol!” si pria kurus yang Panca kenal dengan Rois itu malah menggeplak kepala si gempal. Kini ia merasa bagaikan beradegan di film-film home alone yang diculik oleh kawanan penculik. Ada yang otaknya encer, ada juga yang otaknya tersumbat. Mungkin memang perannya harus begitu ataukah memang itu sudah kepribadian dari mereka. Entahlah Panca hanya merasa lucu! Ia pria dewasa, dua puluh lima tahun dan kini dipaksa harus menjalani kenyataan bagaikan si kecil Kevin Mc Callister, mengikuti alur para penculiknya. Mungkin dua orang di depannya mudah Panca baca, tapi si Suketi? Panca baru bertemu dengan perempuan yang cenderung tidak peduli dan masa bodoh macam itu. Suara motor terdengar, Panca segera bangkit—merasa lega—karena melihat kedatangan si Suketi itu. Tapi kenapa gue merasa lega?! Iya. Panca juga bingung kenapa harus merasa lega. Begitu pintu dibuka dan sosok Suketi itu terlihat, Panca hendak menyapa dan menyapa, tapi hanya dilirik sekilas dan cenderung segera berlalu ke dalam, tidak mempedulikan Panca yang mematung dan tidak percaya bahwa ia akan mendapat respons begini. Dasar Suketi! Ingin rasanya Panca meneriakkan kalimat umpatan untuk perempuan jadi-jadian itu. Namun, ia tahan. Teta kembali lagi ke ruang tamu. “Setelah kalian makan segera balik ke markas!” titahnya yang diangguki oleh kedua temannya. Lalu ia berjalan ke arah Panca dan mengeluarkan senjata laras pendeknya. Panca langsung dalam posisi siaga. “Duduk!” Kini Panca mengetahui satu hal lagi, selain dia mirip Suketi yang tidak memiliki perasaan, perempuan di hadapannya itu juga tampaknya tukang titah. Sekali lagi, Panca bukan menurut, ia hanya mengikuti alur dari permainan ini. “Kami hanya akan menahanmu di sini selama empat bulan, ikuti apa yang harus kamu lakukan selama di sini. Atau kalau kamu tidak mengikuti apa yang kami mau, bukti-bukti bahwa perusahaan Boga Rasa terlibat dalam politik dagang impor dan ekspor kedelai.” Teta mengeluarkan ponsel dengan merek Samsung GT C-3592—sebuah ponsel flip. Ini bukanlah ponsel Samsung flip yang berharga dua puluh jutaan itu, tapi merupakan ponsel lipat jadul keluaran tahun 2011 dan masih jaringan 2G! Panca mendelik sekaligus juga merasa iba, apakah memang perempuan di hadapannya itu tipikal pecinta barang-barang vintage dan tidak menyukai modernisasi dan yang kekinian. Satu lagi yang mencolok adalah warnanya pink! Lagi-lagi pink! Apa jangan-jangan nih cewek tampilan Suketi tapi hati hello kitty?! Panca bahkan sampai lupa dengan kasus politik dagang impor kedelai yang sama sekali tidak diketahuinya. “Apa yang kamu lihat?” tanya Teta dengan nada dingin. “Lebih baiknya kamu membaca ini,” ucap Teta menyodorkan bukti-bukti yang ia punya. Panca membacanya. Sebuah file PDF, berisi foto dan beberapa bukti laporan perjanjian. Panca mengerutkan dahinya, nama Opanya tertera dengan jelas. “Bagaimana?” Panca kali ini menatap Teta dengan serius. “Apa yang lo mau dari gue?” “Empat bulan berada di desa ini dan menjadi petani kedelai dan ikut mengolahnya, sekali kamu mencoba melarikan diri, maka bukti ini akan sampai ke media, dan kamu pasti tahu seberapa efeknya.” Panca cengo. Ia kira si Suketi dan para kroninya ini akan meminta tebusan uang dan sebagainya, tapi menjadi petani kedelai dan mengolahnya selama empat bulan? Entah bagaimana dengan hidupnya ke depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD