Sefrin menutup pintu kamarnya. Lalu berlari dan segera menjatuhkan diri di kasur. Menutup wajahnya dengan bantal lalu berteriak sekuat tenaga. Setelah itu Sefrin melemparkan bantal yang menutupi wajahnya sembarang arah, dan segera bangkit lalu membuka jendela kamar. Mobil cowok itu telah pergi. Sefrin menekan getar didadanya, berulang kali menghirup udara. Tapi Sefrin tetap merasa sesak. Patokan udaranya terasa habis. Ada yang salah. Sefrin yakin itu, salah pada dirinya juga pada diri Alden. Mengapa? Sefrin tidak tahu. Karena yang Sefrin rasa ada hal yang berbeda. Sejak kapan tiba-tiba Alden berubah peduli padanya? Hingga membuat Sefrin tidak berkutik dibuatnya. Kapan? Dan Mengapa? Mengapa? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Sefrin. Tentang dirinya, tentang Alden, juga tentang perasaa

