03. Penculikan Pierce

2353 Words
Arus angin dari arah berlainan terasa memukul mundur pelarian mereka. Lebih ganas, dingin, dan begitu menusuk sampai ke tulang. Spirithorn seakan-akan menolak kedatangan Amorette dan Pierce, ingin mengusir keduanya untuk cepat-cepat pergi dari tempat ini. Tentu saja mereka menolak. Sepasang sepupu itu sadar betul, makhluk abnormal dengan wujud hitam utuh tersebut masih mencoba untuk meraih mereka. Terang rembulan lagi-lagi tidak membantu. Amorette dan Pierce sudah terlalu jauh dari lembah tadi. Pepohonan rimbun sudah kembali, tetapi belum tampak kuil atau kehidupan sekitar sini. Jalurnya entah mengapa terasa berbeda dengan jalur datang mereka. Amorette sesekali melongok ke balik pundak selagi ia mengekor Pierce dengan kecepatan tinggi. Ia tidak melihat keberadaan siluet tadi, atau lebih tepatnya kinerja visual Amorette mengalami kesulitan. Figur hitam utuh itu bercampur baur dengan pekatnya pemandangan mencekam di belakang mereka. Spirithorn betul-betul kontras dengan sebelumnya. Mulai dari angin, irama penuh intimidasi dari kertak-kertuk sulur, dan ditambah lagi dengan berseraknya dedaunan kering dan patahan ranting di atas permukaan tanah. Kadang kala, kaki Amorette hampir dibuat tersandung. Sepertinya perbukitan ini memang berniat untuk menjadikan mereka tumbal. Desing angin bagaikan pelesat peluru tertangkap di indra pendengar Amorette, bersumber dari arah belakang. Amorette kian bergidik begitu ia menoleh dan samar-samar mendapati pergerakan siluet tadi. “Pierce, makhluk itu masih mengikuti kita,” bisik gadis itu, ketakutan. Paras tampan Pierce tampak penuh dengan peluh kala ia melirik sekilas sang sepupu. “Perhatikan depan kita, Amor. Jangan lihat arah lain,” balas Pierce, tenang. Sebetulnya, Pierce sama kalut dengan Amorette. Hanya saja panik dalam situasi abnormal seperti saat ini hanya akan mengeruhkan suasana. Lebih-lebih, ada Amorette—sepupu manisnya meski terkadang memuakkan—yang perlu pemuda itu jaga. Ia tidak mungkin membiarkan sesuatu menimpa keselamatan Amorette, termasuk siluet berengsek, bebal, dan mengerikan yang masih belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri pengejaran. Netra cokelat Pierce memicing tajam ke jajaran pepohonan pada bagian kiri, kira-kira sepuluh meter dari pelarian mereka saat ini. Otak pemuda itu mengira-ngira sejenak kapan tepatnya mereka dapat sampai di sana. Ia berniat menaikkan kecepatan langkah, tetapi Amorette mengalami kesulitan untuk mengimbangi langkah besarnya. Surai cokelat pirang dan paras eloknya sudah bersimbah peluh. Tiap langkah Amorette juga tidak setanggap tadi. “Bertahan sedikit lagi.” Pierce mengusap lembut ruas-ruas jemari sepupunya. “Tiga meter kedepan, kita akan berbelok tajam.” Atensi Amorette tertuju kepada arah pandang Pierce. Ia tidak bisa melihat apa pun selain pepohonan rimbun. Namun, daerah sana kelihatan sedikit lebih beda. Ada sedikit celah, cukup untuk satu orang, pada tiap batang pepohonan. Jika ditelisik lebih dekat, rupanya ada sebuah jalan setapak mengarah entah ke mana, tetapi jauh lebih sempit dan sepertinya sulit untuk dilintasi. Otaknya belum siap mencerna ketika pemuda itu tahu-tahu saja menarik tangan Amorette dan berbelok tajam ke arah kiri sana. Entakan di bagian punggung Amorette membuat gadis itu tidak sempat berhenti. Pierce mengikuti dari belakang. Keduanya masih berlari melintasi jalan setapak di antara celah pepohonan. Sempitnya cukup membuat mereka terhambat. Pierce sesekali melongok ke belakang, baru menangkap lengan Amorette di depan dan membawa sepupunya berlindung di balik sebuah batang cukup tebal. Kaki Amorette terasa lemas bukan main. Ia bersandar di permukaan batang tersebut, sedangkan Pierce masih mengatur deru napas tanpa sedikit pun melucutkan kewaspadaan. Menilik dari betapa sunyi arah datang mereka, sepertinya siluet itu telah kehilangan jejak keduanya. Pierce terus memicingkan netra dan menghela napas. Tidak lama, dapat ia rasakan tangan mungil Amorette meremas erat kain pakaiannya. Pierce menarik kembali tubuhnya untuk bersemuka dengan Amorette. “Apa kau terluka?” tanyanya, cemas. Amorette menggeleng terpatah-patah. “Aku baik-baik saja,” gumamnya. “Makhluk apa itu, Pierce?” “Entahlah, aku sama sekali tidak tahu.” Pierce mengusap lembut surai cokelat pirang Amorette, menyingkirkan beberapa helaian yang menutup paras kusutnya. “Ia sudah tidak terlihat lagi. Kita telah aman.” “P-Pierce—” Gurat pucat Amorette semakin menjadi-jadi. Dapat ia lihat dari balik pundak Pierce, lagi-lagi siluet itu muncul entah dari mana. Bertepatan dengan itu, Pierce mendeteksi sinyal bahaya dari arah belakang. Ia lekas berbalik, menghadap siluet tersebut. Figur hitam utuh itu memancang tinggi, mungkin setengah meter lebih tinggi darinya. Aura hitam masih menguar, kali ini mencapai daerah pinggang. Siluet itu bertumbuh? batin Pierce, sontak beringsut mundur dengan salah satu tangan terentang lurus kepada Amorette, menjaga sepupunya dari depan. Sepasang kaki Pierce mendadak tidak dapat ia gerakkan, seperti kram tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa laiknya mengalami kecacatan. Bingung, akhirnya ia menurunkan pandangan, mendapati aura hitam itu telah mengeluarkan sebuah sulur tidak kalah hitam dan sudah membelit kedua kakinya sampai bagian betis. Sejak kapan?   Dicobanya pemuda itu untuk meloloskan diri, namun sia-sia saja. Ia sama sekali tidak dapat merasakan kakinya. “Pierce!” pekik Amorette, manik birunya mengilat cemas dan pipinya telah basah seutuhnya. Dengan tangan gemetar, Amorette mencoba untuk menggerakkan bagian kaki yang masih terbebas dari aura hitam. “Lepaskan Pierce, kumohon.” “Amor, pergi sekarang.” Pierce berusaha untuk menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar. “Kau masih punya waktu untuk melarikan diri. Sekarang.” “Tidak,” Amorette menggeleng keras, “tidak tanpa kau!” Bertepatan dengan itu, sulur lain muncul dari aura hitam siluet. Figur abnormal itu masih diam saja, seakan-akan keberadaan makhluk itu di sini hanya untuk mengerahkan sulur-sulurnya kepada mereka. Afek datarnya benar-benar terasa mencekam kala Amorette memandangnya takut-takut. Tidak lama, bagaikan cambuk, sulur itu memelesat dalam kecepatan tinggi ke arah Pierce—bukan, bukan kepada Pierce, melainkan …. “Amor!” Pierce membulatkan netra. “Pergi dari sana, sekarang!” Terlambat. Semua berlangsung dengan cepat. Pierce menutup rapat-rapat sepasang netranya, tidak sanggup melihat sulur makhluk itu berniat menerkam sang sepupu di belakang. Pierce tidak dapat melakukan apa pun. Ia tak mampu bergerak, berbalik, dan menamengi sang sepupu menggunakan punggungnya. Pemuda itu merasa gagal melindungi Amorette. Lain hal dengan Pierce, Amorette bahkan tidak sempat menutup mata. Ia hanya berdiri, mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang akan menimpanya sebentar lagi. Namun, satu detik selanjutnya, Amorette terkesiap. Pierce spontan kembali membuka netra saat kesadaran pemuda itu telah naik ke permukaan. Bagaikan melihat sihir, sepasang sepupu itu kembali membulatkan netra, terheran-heran. Satu buah perisai cukup besar mengawang tepat di depan mereka, terbuat dari legiun titik-titik kuning, menamengi Amorette dan Pierce dari sulur hitam itu. Perlu beberapa detik bagi Amorette untuk tersadar bila titik-titik kuning tersebut merupakan kunang-kunang di lembah tadi. Reaksi Pierce tidak jauh berbeda dari Amorette. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Ia melihat perisai itu bukan sebagai kumpulan kunang-kunang, melainkan proyeksi atas suatu rantaian memori. “Pierce, kakimu.” Yang dipanggil masih linglung. Tanpa sadar, ia berhasil menggerakkan kaki dari atas tanah. Rupanya siluet hitam itu telah menarik kembali sulur-sulurnya. Alih-alih sigap pergi, Pierce lagi-lagi menatap kosong proyeksi di depan pemuda itu. Ia dapat melihat dan mendengar banyak hal. Suara Amorette atas namanya terasa begitu jauh, padahal gadis itu berdiri dengan kalut tepat di belakang Pierce. Amorette dibuat cemas bukan main karena diamnya pemuda itu. Segera ia menangkap lengan Pierce, menyentak penuh kesadaran sepupunya satu itu. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Amorette, panik saat melihat perisai kunang-kunang itu terus dihantam bertubi-tubi oleh sulur sang siluet. “Pierce, kita pergi se—” Sulur hitam lain datang dari arah tak terduga. Makhluk abnormal itu melecutkan sulur ke atas langit sampai jatuh tepat ke arah Amorette. Sebelum ia sempat mengelit, tubuh Pierce langsung mendekap erat gadis itu, menamengi sepupunya dari lecutan sulur. Amorette lagi-lagi membeliak. Sulur hitam lambat laun membelit perut Pierce sampai lingkaran tangan pemuda itu di pinggangnya mengendur. “Pierce?” bisik Amorette. “Tidak. Jangan mengambilnya, kumohon.” Di ambang kesadaran, Pierce memicingkan sedikit netranya lemah, memandang sendu gadis itu. “P-Putri—viel …,” bisik Pierce, lalu sulur itu terangkat di udara bersama tubuhnya, bergerak turun, dan keduanya sama-sama meresap ke dalam figur siluet yang hitam utuh. “Pierce!” Amorette berniat menghampiri siluet, namun perisai kunang-kunang tidak mengizinkannya pergi. Ia malah berakhir terpental ke batang pohon. Visualnya kemudian merekam bagaimana siluet tersebut mencelus ke permukaan tanah, meresap begitu saja, dan mereka menghilang tanpa jejak. Amorette meremas surainya kasar. Air mata kembali lolos dari netranya begitu ia menjerit pilu, “Sial, Pierce!”   *   Embusan kelam dari angin Perbukitan Spirithorn menampar halus pipi basahnya. Gemeretak gigi Amorette beradu dengan tubuh menggigilnya. Gaun serut biru tanpa motifnya sudah terbelenggu oleh daun berukuran besar yang kebetulan tergeletak tidak jauh darinya tadi. Amorette paham betul, angin malam akan membuatnya sakit, namun ia tidak berniat secuil pun pergi. Sepuluh menit telak, ia tidak berganti posisi. Terduduk dengan kedua kaki terlipat ke depan d**a, Amorette membenamkan wajah. Ulu hatinya masih terasa nyeri pasca kepergian Pierce, seakan-akan sesuatu tak kasatmata membogem mentah bagian terdalam dari dirinya secara bertalu-talu. Ia memutuskan untuk menunggu keajaiban—entah Pierce akan kembali dengan utuh atau siluet tersebut datang untuk mengantar Amorette menemui sepupunya itu. Dari balik sepasang netra terpejam rapat, Amorette bisa merasakan cahaya menelusuk dari sela-sela kaki dan tangannya. Dengan pelan, diangkatnya kembali paras kusut Amorette, memandang dunia luar. Seekor kunang-kunang tidak lama datang mendekat. Dua antenanya tertunduk lesu, seperti merasa bersalah atas insiden mengerikan itu. “Pergilah, jangan kemari.” Amorette menolak kedatangan si kunang-kunang dengan mengibaskan satu tangan. Ia bersiap membenamkan muka lagi, namun dibuat urung kala titik-titik kuning di seantero perbukitan muncul secara bertahap. Helaan napas terlontar dari bibir Amorette. Ia tidak paham dengan legiun entitas tersebut. Mereka seperti menolak untuk pergi dari sisinya setelah siluet abnormal itu menculik Pierce. Mungkin ingin menemani Amorette sampai seseorang menemukan presensinya. Tetapi, melihat kunang-kunang membuat d**a Amorette bergemuruh. Formasi perisai makhluk itu membuatnya gagal meraih Pierce. Ia tidak berhasil menolong pemuda itu dari sulur hitam tersebut. Amorette ingin marah, namun ia tekan kemarahan itu dengan meloloskan cairan bening. Bila Mom dan Dad menemukan Amorette hanya seorang diri, lantas apa yang harus Amorette katakan? Semua insiden ini terjadi di luar nalar. “Apa mau kalian sebenarnya?” Akhirnya, ia berhasil mengeluarkan suara. Masih sedikit serak karena ia sempat terus-terusan meneriakkan nama Pierce. “Aku sangat berterima kasih karena kalian menolongku. Namun, mengapa kalian melarangku untuk membebaskan Pierce?” Jemari lentik Amorette tertahan di udara. Ia biarkan si kunang-kunang tadi mendaratkan keenam ruas kakinya di atas sana, tidak lagi mencoba untuk mengusir, toh mereka tidak akan pergi. Manik biru Amorette masih berkaca-kaca ketika netranya bertumbukan dengan manik sehitam jelaga kunang-kunang. Dari dekat, makhluk itu tampak menggemaskan. Apalagi ketika ia mengetukkan kedua antena ke ruas-ruas jemarinya. Amorette tertawa kecut. Tidak ada balasan, tentu saja. Dengan tangan lain, segera disekanya air mata yang hampir lolos kembali dari pelupuk. Amorette memutuskan untuk beringsut dari posisi duduk. Sepertiny dengan keberadaan dia di sini, hanya akan membuatnya berakhir menggila karena berbicara dengan hewan. Lekas saja ia berdiri, bermaksud untuk berbalik dan kembali menuju arah datang mereka. Bertepatan dengan itu, lagi-lagi ia terkesima. Tiada jalan setapak bekas arah langkahnya tadi. Hanya ada jalan lain, jauh lebih besar dan berimpitan oleh semak belukar. Jalan itu tanpa ujung dan cukup menanjak. Yang paling jauh terlihat ialah himpunan pepohonan. Jalan lebar itu bersembunyi di antara pohon-pohon. Sebenarnya, bukan itu saja yang membuat Amorette terkesima. Legiun kunang-kunang menerangi seluruh bagian. Mulai dari semak belukar, jalan lebar, sampai pepohonan di ujung sana. Mereka beterbangan di mana-mana. Amorette mengejapkan netra begitu seekor kunang-kunang—sepertinya sama dengan yang memanjat jemarinya tadi, terbang sejajar tepat di depan wajah gadis itu. Kemudian tubuh oval itu berbalik membokongnya, mulai terbang ke depan. Amorette tergugah untuk mengikuti sambil sesekali tatapannya mengedar ke kanan dan kiri. Angin malam masih berembus. Lengan Amorette terus mengusap satunya. Seakan-akan sadar, belasan kunang-kunang dari semak belukar beterbangan di sekeliling Amorette. Entah mengapa, ia mulai merasakan hangat. Ini sungguh di luar dugaan Amorette. Apa yang sebenarnya terjadi? Perjalanan menuju himpunan pepohonan itu tidak memakan waktu lama. Ia sudah tiba bersama para kunang-kunang, membaurkan diri dengan hutan. Terang rembulan masuk melalui celah dedaunan. Selain kunang-kunang, rembulan juga menerangi setiap langkah kaki Amorette. Tanpa sadar, ia mengulaskan senyum tipis, seakan-akan lupa dirinya baru saja kehilangan Pierce. “Kau ingin aku ke mana?” tanya Amorette. Di luar dugaan, si kunang-kunang berbalik menghadapnya. Ia lalu terbang dan bertengger di pundak gadis itu. Dengan gerakan ruas-ruas kakinya, Amorette paham makhluk itu menyuruhnya untuk tetap maju—mengikuti jalan paling terang di antara cabang-cabang jalan lain. Mereka memang sudah melalui banyak cabang. Jalan itu tidak lebih lebar dari jalan mereka detik ini. Sampai Amorette lagi-lagi berhadapan dengan empat percabangan. Satu dari empat di antaranya penuh dengan titik-titik kuning. Para kunang-kunang mengisi cabang paling kanan akhir. Itu satu-satunya jalan yang perlu diikuti oleh Amorette. Tanpa berpikir panjang, ia meneruskan langkah ke sana, meski ia sendiri tidak tahu ke mana kunang-kunang itu akan menuntunnya pergi. Lagi-lagi jalan setapak, batin Amorette. Dengan setengah mantap, Amorette menelusuri jalan tersebut. Ia mendadak seperti kembali ke Perbukitan Spirithorn, di mana ia akan menemukan lembah tadi. Benar-benar sama persis. Amorette mulai cemas, takut bila siluet lain akan datang mengintimidasinya. Tidak ada lagi sang sepupu yang bisa menjaganya dari figur hitam utuh itu. Pierce, aku benar-benar membutuhkanmu. Amorette menahan tangisnya lagi. Si kunang-kunang beranjak dari pundak dan mengetukkan kedua antenanya di pipi Amorette. Bibir ranum Amorette mengap-mengap. Apa kunang-kunang itu sedang mencoba untuk menghiburnya? Sebetulnya, apa yang terjadi? “Putri, dampingan kami cukup sampai di sini.” Sebuah suara maskulin seketika mengagetkan Amorette. Ia terhenti kala itu juga, mencari-cari sumber suara, tetapi tidak dapat ia temukan selain kunang-kunang. “Kami senang bisa bersua dengan Putri setelah sekian lama. Datanglah kepadanya. Ia menunggu Anda sejak lama. Bahagia selalu, Arcaviel Oakley ….” Dalam satu kejapan, Amorette mendapati sosoknya sendirian. Tanpa kunang-kunang dan hanya ada terang rembulan. Amorette mengedarkan pandangan ke sana sini, sampai kelap-kelip di depan sana menangkap atensi gadis itu seutuhnya. Amorette segera berlari. Ia melupakan suara itu untuk sementara waktu, menduga sumber kelap-kelip itu berasal dari rumah-rumah di desanya, Silkvale. Deru napas Amorette tidak beraturan saat ia berhasil menapakkan kaki di penghujung sana. Seulas senyum yang sempat terpatri di paras eloknya memudar secepat kilat. Satu buah anak panah memelesat tepat di samping pelipis kiri Amorette, sedikit terpeleset sehingga ujungnya tertancap pada rerumputan tak jauh di belakangnya. “Siapa kau?!” Amorette meneguk liurnya dengan susah payah. Bukan desanya yang ia dapatkan, justru ia malah mendapati diri terkepung oleh belasan penunggang kuda beratribut zirah. Lengkap dengan busur dan anak panah di tangan mereka.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD