02. Ancaman Siluet Hitam

2152 Words
Dua orang kalis beringsut maju. Jubah putih tanpa noda, sama bersih seperti tabiatnya, terjuntai sampai ke permukaan lantai berdebu kuil. Mereka bersisian menghadap sebuah pahatan patung pria dengan perawakan gagah perkasa. Patung pria itu bertelanjang d**a dan daerah bawahnya tertutup sebagian oleh pahatan kain. Lengannya yang tampak kekar memegang sebuah obor. Pahatan rambut patung pria itu, terlepas dari esensi batunya, terlihat seperti asli dan hidup. Kapabilitas para pemahat Silkvale benar-benar tak dapat diragukan lagi. Amorette beralih muka dari pahatan patung pria dan dua orang kalis tersebut. Visualnya mundur ke belakang mereka. Para orangtua—termasuk Baron, yang katanya ingin mendoakan calon anak mereka—berbaris dengan apik, membentuk persegi panjang utuh. Jarak mereka antarsatu sama lain sebesar satu lencang ke samping. Masing-masing dua tangkai bunga sedap malam tergenggam di sana, bersamaan dengan asa untuk para putra dan putri mereka yang mengudara ke langit. Dapat Amorette lihat, kedua orang kalis melangkah maju dan mundur selagi satu tangan mereka memutari bertangkai-tangkai bunga sedap malam di udara. Dialek mantra mulai mereka ucapkan, sama sekali tidak dapat Amorette cerna artinya. Dari suara pelan sampai ke suara lantang, Amorette mengamati saksama tradisi itu, sedangkan Pierce menguap lebar di samping. “Ini tidak lebih baik dari melihat muka si Oggrey-Oggrey it—” BRUK! Suara jatuh cukup keras mengalihkan atensi Amorette dari tradisi Silkvale. Gadis itu spontan menoleh ke arah sang sepupu, menahan napasnya kala ia lihat posisi Pierce saat ini—telentang di belakang dengan satu kaki tertahan di dudukan kursi. Sama sekali bukan posisi etis. Alih-alih bangkit, Pierce justru mengusap-usap pinggang sembari mencak-mencak. “Pierce?” Amorette mulanya kaget. Satu detik berikutnya, tawa Amorette pecah. “Itulah mengapa pamali untuk berucap sembarangan di tempat bersejarah ini.” Amorette mengulum tawa. Pierce tidak menghiraukan sepupunya. Ia segera menarik satu kakinya dari dudukan kursi, kemudian duduk bersimpuh di atas permukaan tanah. Pierce merutuk kebodohannya tanpa henti. Belum lagi, dapat ia rasakan berpasang-pasang netra dari para remaja sepantar mereka tengah menikam pemuda itu—dengan kilat menahan tawa dan meledek. Insiden terjengkang ini bermula saat Pierce bermaksud untuk bersandar. Ia tergugah untuk tidur lantaran terlalu bosan. Akan tetapi, otak Pierce melupakan fakta bila kursi panjang tempatnya dan Amorette duduk saat ini tidak memiliki sandaran—dan voilà! Begini kira-kira keadaan pemuda itu sekarang. Jatuh, iya. Ditertawakan, juga iya. Menahan jengah, apalagi. Lengkap sudah. Jemari lentik Amorette kemudian terulur bebas di depan wajah cemberut Pierce. “Mau sampai kapan kau duduk di bawah sini, Pierce?” tanyanya. Setengah hati, Pierce menerima uluran tangan Amorette. Pasca berdiri, ia menepuk kain celana bagian bokongnya beberapa kali, baru berbalik memunggungi Amorette. Manik biru sepupunya mengilat keheranan. Sepertinya Pierce benar-benar ingin pergi dari kuil. Jadi, selagi menatap sana sini untuk memastikan Mom, Dad, atau Baron tidak melihat kepergian Pierce, Amorette buru-buru beringsut dari tempat. Ia mengekor Pierce. “Kau ingin ke mana?” “Mencari sungai untuk membersihkan noktah di celanaku.” Pierce merespons dengan suara pelan. “Kenapa kau mengikutiku?” “Kukira kau kesal denganku.” Diam-diam, Pierce tersenyum tipis. “Mustahil. Lagi pula, aku lebih kesal dengan tradisi itu. Jenuh sekali.” “Jangan lupa, kau akan menjadi si orangtua yang akan berdoa suatu saat nanti.” Amorette bersisian dengan Pierce. “Omong-omong, kau tahu jalan?” “Tentu saja tidak.” Amorette spontan berhenti. Pierce melongok ke arah sepupunya dari balik pundak. “Apa?” lanjutnya. “Suatu kekeliruan aku mengikutimu, Pierce.” Pierce tergelak singkat, sedangkan Amorette lanjut melangkah di samping pemuda itu. Derap alas sepatu mereka menggesek permukaan tanah. Kertak-kertuk membelah senyap Perbukitan Spirithorn. Amorette dan Pierce sama-sama mengikuti intuisi sendiri untuk menemukan sungai—area di mana titik pendakian selalu berhenti di sana. Artinya, mereka kini menuju daerah terpelosok, letaknya cukup jauh dari kuil. Entah mendapat keberanian dari mana sampai Pierce tidak gentar secuil pun, bahkan di balik pekatnya bukit saat ini. Lain hal dengan Pierce, Amorette mulai tidak tenang. “Pierce, kita kembali saja,” pintanya. “Kau kira sedari tadi aku sedang apa?” balas Pierce, melirik singkat sepupunya. Ada sarat frustrasi dalam binar netra cokelatnya. “Apa maksudmu?” Pierce menghela napas kala sorot risau Amorette tertangkap di indra penglihatnya. “Ini salahku,” gumam pemuda itu, “tenang saja, aku akan mencari jalan kembali ke kuil.” Kita tersesat, intinya begitu. Jawaban Pierce membuat Amorette semakin tidak tenang. Ia tidak menyangka Perbukitan Spirithorn akan semenakutkan ini. Belum lagi, Pierce tidak sempat mengambil obornya yang sengaja ia tancapkan untuk sumber penerangan kuil bersama obor-obor lain. Alhasil, mereka membelah jalan setapak tanpa pencahayaan. Kabar baiknya, pepohonan daerah pendakian mereka saat ini tidak serimbun tadi. Rembulan penuh menerangi kedua orang itu dari atas. Tidak seterang mentari, namun sangat cukup untuk meminimalisasi kerisauan Amorette. “Amor, berhenti sebentar.” Rentangan tangan kiri Pierce di sisi tubuh Amorette seketika memecahkan lamunannya. Kening Amorette terlipat dalam, keheranan dengan pemandangan bermeter-meter di depan mereka. “Sungai?” timpalnya, ragu-ragu. Pierce sama skeptisnya dengan Amorette, namun ia tetap merespons, “Ini lebih seperti … rawa-rawa?” terka pemuda itu. “Di atas bukit? Aku meragukan itu.” Tidak ada rawa di Spirithorn. Silkvale mungkin primitif, terpelosok dari metropolis. Akan tetapi, para penduduk tetap tersentuh edukasi. Lebih-lebih, mustahil betul bila para pendaki menilai ‘sungai’ sebagai ‘rawa’. Jelas kedua itu kentara tidak sama. Lain hal dengan sungai semestinya, semisal intensitas aliran air yang deras dan berliku-liku, sungai di depan Amorette dan Pierce berbentuk kubangan campuran lumpur dan air. Riaknya tampak begitu tenang. Secara kebetulan, netra sepasang sepupu itu melirik satu sama lain. Detik ini, pikiran mereka sama—sama-sama ingin menelusuri Perbukitan Spirithorn lebih jauh, sampai dibuat lupa dengan tradisi yang tengah berlangsung. Entah Gill dan Amalie masih mendoakan mereka bersama para orangtua lain, atau kemungkinan terburuknya, sudah sadar bila putra dan putri mereka raib. Menatap lurus, Amorette bisa merasakan sesuatu melingkari pergelangan tangan gadis itu. Ia melirik sekilas, rupanya jemari Pierce. Amorette lebih tenang sekarang. Ia memang takut, terlebih sebentar lagi mereka berdua akan memasuki kawasan Perbukitan Spirithorn yang jauh dari kesan familier untuknya. Namun, ia percaya Pierce tidak akan membiarkan mereka terpencar. Jajaran pepohonan berakhir sepuluh meter kedepan, mungkin berjarak lima meter sebelum sampai ke kubangan. Pierce mengepalai perjalanan tanpa melepaskan tangan Amorette dari sisinya. Selama menelusuri jalan setapak yang berimpitan dengan pepohonan, netra biru Amorette mengintai sisi kanan dan kirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian diembuskan secara perlahan. Hingga hampir tibalah mereka—kira-kira tiga meter sebelum jajaran pepohonan berakhir. Amorette terkesima. Benarkah saat ini mereka masih menapak di Spirithorn? Jauh di luar asumsi sepasang sepupu itu, pemandangan di depan sini lebih dari sekadar daerah berkubang. Permadani rerumputan penuh embun membentang sana sini. Kontur tanahnya menurun ke dataran cukup rendah bila dibandingkan pijakan mereka. Tidak ada apa-apa di bawah sana selain tebing-tebing batu mengelilingi dataran—menutup diri dari dunia luar. Pierce meneguk liurnya. Tanpa sadar ia bergumam, “Dunia Seberang?”   Tidak mungkin, batin Amorette. Tidak ada seorang pun pendaki pernah sampai kemari, apalagi ia dan Pierce masih tergolong ingusan alias belum pernah mendaki Spirithorn sebelumnya. Lantas, di manakah mereka? Bagaimana dengan sungai? Tidak ada. Hanya permadani rerumputan, tebing-tebing batu, dan … kunang-kunang? “Indahnya,” manik biru Amorette mengilat antusias ketika seekor kunang-kunang mendarat di jemari lentiknya yang tertahan di udara, “hai?” Dua antena makhluk kecil itu menghadap paras Amorette. Sayap mungilnya mengipas-ngipas dengan irama tetap. Dapat Amorette lihat sepasang manik hitam jelaga itu terpancang kepadanya seorang. Tubuh oval dengan pancaran kuning makhluk itu bergerak-gerak mengikuti ruas-ruas keenam kaki tipisnya yang terus mengetuk kulit tangan Amorette. Gadis itu lekas meluruskan tinggi jemari lentiknya dengan manik birunya untuk melihat kunang-kunang lebih dekat. Tanpa sadar, ia tersenyum manis. “Amor, lihat.” Pierce menunjuk arah depan dengan dagu. “Ada banyak di antara mereka.” Benar saja, kala Amorette mendongak, indra penglihatnya menangkap legiun kunang-kunang lain. Sepintas, cahaya hasil pancaran tubuh oval mereka bagaikan titik-titik, menerangi lembah—sebut saja begitu, dengan sangat indahnya. Amorette benar-benar seperti berada di dunia lain. Atau, ia mungkin tidak akan terkejut lagi bila lembah ini merupakan ‘Dunia Seberang’. “Ah.” Amorette spontan berucap kala kunang-kunang tadi terbang pergi dari sisi gadis itu, berbaur lagi dengan para entitas sejenisnya—itu dugaan Amorette sebelum atmosfer berputar seratus delapan puluh derajat. Legiun titik-titik kuning tiba-tiba raib pada waktu serentak, tidak terlihat lagi di mana-mana. Senyap tercipta kembali. Hanya ada siulan udara malam, mengikis tebing-tebing batu melalui suhu dinginnya. Gadis bersurai cokelat pirang itu lekas mengusap-usap lengan. Pantas saja permukaan tebing tidak rata dan berlubang, mengingat betapa menusuknya udara di daerah lembah asing ini. Amorette mulai mengangkat jemari lentiknya untuk melepaskan sanggulan, sampai surai cokelat pirangnya terjuntai hingga ke punggung. Tetapi, tetap saja keadaannya tidak lebih baik dari tadi. Helaian surai sedikit tebalnya mungkin telah menyaring udara untuk masuk, namun tengkuknya malah semakin terasa dingin. Amorette menggigil. “Pierce, mari kita kemba—Pierce?” Jantung Amorette mencelus. Ia tidak melihat batang hidung sepupunya saat ia menoleh ke sana sini. Respons dari pemuda itu nihil. Ketakutan, sedetik berikutnya Amorett langsung menaikkan oktaf suara dengan gemetar, “Pierce?!” Amorette menjengit. Satu tepukan mendarat tiba-tiba di pundak kanannya. Ia buru-buru melongok, kemudian kakinya terasa lemas. Lega bukan main saat figur Pierce telah berdiri tepat di belakang gadis itu. “Kukira kau—” Pierce menjentik permukaan kening Amorette. “Aku hanya buang air kecil, bodoh,” akunya, tidak tahan melihat sorot dan nada ketakutan dari sepupu naifnya satu itu. Paras elok Amorette cemberut. Ia mendorong singkat pundak Pierce, berniat menuju daerah perbukitan untuk kembali menuju kuil—tetapi, langkahnya terhenti. Berbeda dengan tadi, gurat gadis bersurai cokelat pirang itu berganti pias. Pierce terheran-heran. Ia menyapu pandangan Amorette dengan mengibaskan telapak tangan, namun tidak mengundang reaksi apa pun dari sepupunya. “Amor?” bisik Pierce. “P-Pierce, tolong katakan bila kau telah meminta izin untuk membuang air kecil dengan penguasa bukit.” Pierce mengerutkan kening, “Kenapa tiba-tiba?” Amorette menggigit keras-keras bibir ranum bagian bawahnya. “Belakangmu, sekarang,” lirih gadis itu, dengan debaran jantung bertalu-talu. Leher Pierce terpaksa menengok ke balik pundak tegapnya. Seketika, ia dapat melihat apa yang tertangkap oleh indra penglihat Amorette. Tiga meter dari depan jalan setapak perbukitan, siluet hitam seorang pria bertubuh jangkung dan abnormal terpancang lurus di sana. Itu bukan manusia, merupakan kesimpulan sepasang sepupu tersebut. Terang rembulan sampai kepada sang siluet, namun makhluk itu tetap berada dalam wujud hitam utuh, sedangkan dari permukaan rerumputan, aura hitam menguar dan menutup sampai ke betis-betisnya. Ia terlihat beringsut maju. Langkahnya bertahap. Meski netra atau organ tubuh siluet lainnya tidak tampak, Amorette dan Pierce sadar betul makhluk itu sedang menginspeksi mereka secara bergantian. “Dalam hitungan ketiga,” Pierce memundurkan langkah untuk membisiki Amorette, “kita balik menuju perbukitan, memapas sisi kanannya.” Gadis itu menggeleng keras, kelihatan tak sependapat. “Bukankah itu rawan? Bagaimana jika kita menuruni lembah saja?” “Terlalu berisiko. Kita sama sekali tidak familier dengan daerah ini—dan kehadirannya bisa saja berkaitan dengan lembah asing ini, Amor.” Pierce menangkap lengan Amorette yang berkontraksi. “Lagi pula, jarak kita dengan kuil akan semakin jauh.” “Bagaimana jika—” “Jangan khawatir.” Jemari Pierce meremas subtil kepalan tangan Amorette, terenyuh sesaat kala ia merasakan dingin, ketakutan, dan kerisauan di sana. “Kau tahu aku, Amor. Aku tidak mungkin menempatkanmu ke dalam posisi bahaya.” Dada Amorette menggelegak. Batinnya bergolak. Ia belum sempat mempertimbangkan ketika tahu-tahu saja Pierce mulai menghitung maju. Netra biru Amorette terpancang ke depan. Dapat ia lihat siluet itu masih meneruskan langkah secara bertahap. Kanan, kiri, kanan, kiri—begitu seterusnya. Aura hitam siluet kian mengudara, kini telah melambung sampai ke atas paha siluet. Sulur-sulur di antara aura hitam seakan-akan meneriakkan kedua remaja itu bila mereka niscaya tidak akan dibiarkan pergi dengan selamat. Pada hitungan pertama, Amorette merapatkan netra erat-erat, meraup udara malam di seputar lembah sebanyak mungkin. Lain hal dengan Pierce, netra pemuda itu memancang lurus, terfokus kepada sang siluet. Dapat Amorette rasakan jemari kukuh sepupunya menyelinap masuk ke dalam kepalan tangan gadis itu, mengusap lembut ruas-ruas jemarinya. Pierce memasuki hitungan kedua. Bertepatan dengan itu, manik netra biru Amorette sudah terekspos sempurna. Ia hampir siap untuk mengikuti arah langkah Pierce ke mana saja. Amorette selalu memercayai sepupunya. “—Tiga. Percayakan ini kepadaku.” Sensasi tidak mengenakkan spontan mendominasi hulu hati Amorette. Hormon adrenalnya terpacu, sampai-sampai dapat ia rasakan bagaimana rona halus di seluruh penjuru tubuhnya bergidik ketakutan. Saking terasa geli di daerah perutnya, Amorette mendadak mual. Kudapan pagi dan siangnya terasa bergerak naik ke atas. Segera diremasnya erat-erat gaun serut biru tanpa motif yang masih ia kenakan. Pasca memantapkan diri untuk mengabaikan semua sensasi itu, ia buru-buru mengekor Pierce. Kedua remaja itu sama-sama menerobos udara kosong, memapas tepat samping kanan makhluk abnormal penuh intimidasi tersebut. Baru setelahnya, Amorette dan Pierce kembali membaurkan diri dengan cekamnya area Perbukitan Spirithorn. Yang dirasa-rasanya jauh lebih mengerikan dari sebelum mereka menapakkan kaki pada daerah berlembah penuh keabnormalan ini.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD