EP 8

1135 Words
Setelah Raka, kini Denia dan Cillia yang pergi karena urusan keluarga. Rania mematung dengan sebal karena temannya pada sibuk padahal dia ingin bermain. Tiba-tiba Revan datang menuju Rania "Kamu sendiri" ucap Revan "Iya, temanku sibuk" gerutu Rania "Boleh ku temani?" Tanya Revan "Boleh" ucap Rania sembari memperhatikan penampilan Revan "Ok" ucap Revan "Kamu tadi yang traktir kan?" Tanya Rania "Iya begitulah" ucap Revan santai "Makasih. Sebenarnya kamu itu siapa? Kok sepertinya aku tidak asing denganmu" ucap Rania ragu "Kamu kenal saya" ucap Revan sambil membuka kacamata "Pak Revan, bapak kenapa ada disini?" Ucap Rania yang terkejut "Saya ingin jalan-jalan aja, suntuk di rumah" ucap Revan "Bapak keren lo, aku sama yang lain nggak bisa ngenalin" ucap Rania "Memangnya beda banget dari biasanya" ucap Revan "Beda pak, kelihatan lebih tampan dan muda" ucap Rania polos. Dalam hati "kok keceplosan, emang sih Pak Revan lebih cakep dengan penampilan itu, tapi nanti dia GR. Huh kok nggak kepikiran sih" "Terima kasih pujiannya Ran. Kamu mau tetap disini atau main. Nanti saya temani, biar nggak sendiri" ucap Revan. Dalam hati "asyik Rania perhatiin banget sama aku, semoga perlahan dia luluh dan cinta sama aku" "Dari tadi juga mau main, tapi nggak ada teman. Bapak memang nggak keberatan main sama aku" ucap Rania ragu "Nggak. Yaudah saya tukarkan koin dulu. Kamu tunggu disini" ucap Revan pergi menuju tempat pertukaran koin "Iya pak" ucap Rania Tak lama setelah menukar koin, Revan menghampiri Rania. Keduanya pun bermain Maximum Tune, Dance, Basket ball, Claw Machine, dan lain-lain. Di permainan Claw Machine Revan berhasil memenangkan boneka bear berwarna cokelat ukuran sedang dan memberikannya pada Rania "Ran, ini untuk kamu" ucap Revan sembari memberikan boneka "Terima kasih, ternyata bapak asyik juga" ucap Rania yang memegang boneka dan tersenyum "Kamu setelah ini, mau pergi kemana?" Ucap Revan. Dalam hati "senyummu indahkan duniaku Rania" "Ke toko buku pak" "Saya ikut, ada beberapa buku yang ingin saya beli" "Iya pak" Rania dan Revan beranjak ke toko buku. Setelah 45 menit mereka membawa banyak buku untuk dibayar di kasir. Saat Rania akan membayar, Revan mencegahnya "Saya aja yang bayar" ucap Revan "Pak saya nggak enak ditraktir terus" ucap Rania  "Tidak usah dipikirkan, saya ikhlas kok" ucap Revan. Dalam hati "apapun saya bisa berikan asalkan kamu bahagia" "Iya deh, tapi lain kali saya traktir bapak" ucap Rania "Ok, deal"  Revan membayar semua buku, kemudian mereka pergi dari toko sambil berbicara "Pak terima kasih atas semuanya, hari ini terasa menyenangkan" ucap Rania tulus "Sama-sama. Ran kata yang lain kamu sekarang kerja. Apa itu benar? Tanya Revan  "Benar pak, saya sekarang kerja di salah satu perusahaan di Surabaya" ucap Rania "Kamu betah disana" ucap Revan "Dibetah-betahin pak, meski bos muda, dan tampan tapi nyebelin banget. Harus extra sabar lagian saya butuh uang" ucap Rania dengan wajah cemberut. Dalam hati " kapan lagi jelekin kamu mumpung kamu nggak ngerti" "Kalau nggak betah bisa resign, saya bisa bantu kamu untuk cari kerja ditempat lain" ucap Revan. Dalam hati "kamu lucu banget Ran" "Nggak perlu pak, saya pasti akan terbiasa" ucap Rania. Dalam hati" aku tuh sudah kerja di kantor kamu, tapi malas ah ngaku nanti bisa gawat" " Oh ya, ini sudah waktu makan siang. Kamu mau resto yang mana? Tanya Ravan "Nggak usah resto pak, di warung pinggir jalan aja" ucap Rania santai "Memangnya kamu nggak jijik makan ditempat seperti itu" ucap Revan ragu "Nggak tuh, mungkin bapak kali" ucap Rania sambil memandanginya "Ran lama-lama saya risih kamu panggil bapak terus, kelihatan lebih tua. Saya itu hanya beda 3 tahun dari kamu. Masa' saya harus dipanggil bapak" ucap Revan mengerutkan kening "Loh bapak kan dosen saya" "Tapi ini diluar kampus. Lagian saya bukan bapak kamu, panggil dengan istilah lain dong" "Ok deh saya pikirkan dulu" "Jangan lama" "Ok, kalau gitu kak Revan aja" "Boleh juga, yuk cepat saya lapar" "Bapak sih ngajak ngobrol terus" gerutu Rania "Panggil bapak lagi" ucap Revan  "Maaf kak Revan" ucap Rania cengingiran tanpa bersalah Keduanya pun ke luar mall, dan pergi ke salah satu warung di pinggir jalan. Mereka menyantap pecel lele dan minum es teh. Rania makan dengan lahap sampai belepotan. Revan yang melihatnya terkekeh geli "Gimana enak? Tanya Revan "Enak pak" ucap Rania sambil menyuapkan lagi makanan di mulutnya "Mau tambah? Tanya Revan "Memang boleh pak" ucap Rania ragu "Boleh nanti saya bayar" ucap Revan "Siip" ucap Rania  "Nih tisu, kamu belepotan" ucap Revan sembari memberikan tisu "Makasih pak" ucap Rania cengengesan Revan POV Hari ini aku pergi ke mall karena suntuk seminggu kerja. Tak disangka saat aku tiba di kafe kulihat Rania dan temannya sedang bercengkrama dan selfie ria. Aku melihat senyum terukir indah, membuat hatiku berdegup kencang. Cinta membuat ku semakin tak berdaya, aku tak bisa mengalihkan pandanganku pasc Rania. Untunglah aku memakai kacamata hitam jadi tidak ketahuan. Aku juga berinisiatif membayar makanan mereka. Mereka cukup terkejut dan mengucapkan terima kasih. Seakan keberuntungan berpihak padaku, kulihat satu persatu teman Rania pergi. Kulihat Rania termenung, ku beranikan diri menghampiri dirinya dengan style anak muda, pasti dia tidak mengenaliku. Namun salah dia ternyata dia mengenalku. Untungnya dia tidak canggung dan asyik bermain denganku. Saat memenangkan boneka, kuberikan kepadanya. Hal itu membuat nya senang meski sederhana. Kami melanjutkan perjalanan ke toko buku, aku kembali membayar bukunya meski sempat menolak, katanya tak enak. Namun dia menerimanya dengan syarat sewaktu-waktu dia traktir. Bagiku tak masalah soal uang asal Rania disampingku. Aku sempat mengeluh karena memanggilku bapak terus, akhirnya dia mengubahnya menjadi kak. Mungkin lebih baik kalau dia panggil sayang. Berharap terus sampai saat itu tiba. Aku mengajaknya makan siang, dia memilih makan di warung pinggir jalan. Meski ragu, ternyata Rania nyaman makan di tempat seperti itu. Bahkan saat makan dia tak jaim, makan sampai belepotan. Itu kelihatan lucu aku terkekeh geli melihatnya. Rasanya aku ingin hari ini tak berakhir karena dengan Rania rasanya aku sangat bahagia. Rania POV Hari ini aku sibuk mulai dari memasak, make over Tania, dan pergi ke mall. Aku sempat bete karena temanku pulang padahal aku ingin main. Untunglah ada pak Revan yang menemaniku bermain meski  ragu karena penampilannya berbeda membuatnya semakin muda dan tampan. Aku sempat tak mengenalinya. Permainan pak Revan bagus bahkan memenangkan hadiah boneka untukku. Kemudian kami ke toko buku, dan lagi dia membayar semuanya. Meski sempat menolak tapi akhirnya kuterima dengan syarat sewaktu-waktu aku menaktir dirinya. Ia menyetujui. Dia juga sempat menggerutu karena memanggilnya bapak terus, akhirnya ku ubah menjadi kak.  Setelah itu kami makan di warung pinggir jalan meski dia sempat terkejut, tapi bagiku biasa. Saat makan disana, aku menyantap dengan lahap hingga belepotan. Dia memberikan tisu, aku pun menerimanya meski agak malu akan tingkah ku. Setelah itu kak Revan mengantar ku pulang, aku mengarahkannya agak jauh agar tak ketahuan. Aku mengucapkan terima kasih sembari perlahan melangkah pergi ke rumah Tania dengan riang gembira membawa boneka dan buku. Saat sampai rumah aku langsung ke kamar dan berbaring di tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD