EP 9

1012 Words
Author POV Hari Senin yang cerah Rania pergi ke kampus lebih awal untuk memastikan kebenaran rumor mengenai Elisia Kimmy yang baru-baru ini menjadi salah satu primadona di kampus. Rania melangkah secara perlahan menuju ke sebuah ruangan yang berada di sudut untuk mengamati keadaan sekitar. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Revan yang menghampirinya "Ran, kamu sedang apa?" Ucap Revan sembari menepuk bahu Rania "Kamu siapa?" Tanya Rania yang terkejut sembari membalikkan tubuh dan melihat orang yang menepuk bahunya "Saya Revan dosen kamu" ucap Revan santai "Maaf pak, saya kira orang lain, kenapa bapak ada disini?" Tanya Rania yang bingung keberadaan Revan yang ada disampingnya "Kamu sendiri mengendap-endap, mencurigakan" ucap Revan blak-blakan "Saya ingin memastikan kebenaran berita tentang Elisia Kimmy, terus anda" ucap Rania tenang "Saya tadi lewat, terus melihat sikap kamu aneh, makanya saya kemari" ucap Revan santai "Oh bapak kok perhatian banget sih" ucap Rania polos merasa bahwa Revan peduli padanya "Kamu itu mahasiswi saya, saya tidak mau kamu melakukan hal yang dapat merugikan dirimu atau yang lain" ucap Revan tenang. Dalam hati "sebenarnya aku hanya ingin didekatmu, melindungi, dan tak boleh ada yang lain dihatimu selain diriku" "Pak saya ini sudah dewasa tau mana yang baik atau buruk" ucap Rania dengan melipat tangannya di dada "Oh ya" ucap Revan santai tak merasa perkataan bisa menyinggung perasaan "Yaudah sekarang pak Revan pergi, saya mau tetap disini" ucap Rania ketus "Kamu berani ngusir saya Rania Tami" ucap Revan lugas "Bukan begitu pak, saya rasa anda mempunyai banyak pekerjaan yang lebih penting daripada disini yang hanya membuang waktu" ucap Rania ragu. Dalam hati "sebenarnya apa sih yang dipikirkan pak Revan kok aneh perhatian tapi juga galak, huh sebal aku" "Siapa yang bilang buang waktu" ucap Revan dengan muka ditekuk "Saya" ucap Rania santai. Dalam hati "sabar tuh mulai lagi mode killer" "Cukup berdebat denganmu tidak ada habisnya, sekarang diam dan lihat orang kamu kepoin bentar lagi datang" ucap Revan mengalihkan perhatian dan menunjuk ke arah Elisia Kimmy "Ok" ucap Rania sembari memperhatikan keadaan Tak berselang lama seorang mahasiswi cantik keluar dari Mercedes hitam terbaru, Yap Elisia Kimmy kulit putih, paras cantik, senyum merekah seperti Citra Kirana. Elisia memakai dress selutut berwarna cream, coat coksu, high heels, rambut terurai berjalan dengan anggun seperti catwalk membuat semua netra tertuju padanya, mempesona memikat kaum Adam dan membuat iri kaum hawa. "Pak, Elisia Kimmy benar-benar berubah, cantik nan sempurna, aku kalah banget" ucap Rania yang nampak murung merasa kalau dia telah kalah cantik dengan Elisia Kimmy "Kamu tidak boleh berkata seperti itu, setiap orang pasti punya kelemahan dan kelebihan masing-masing, tidak ada yang sempurna, jangan minder, itu tidak seperti dirimu, lihat mukamu jadi jelek" ucap Revan dengan bijak. Dalam hati "bagiku tidak ada yang lebih cantik dan sempurna selain dirimu Rania, semoga Tuhan membuat hatimu memilih diriku" "Hmm, pak masa' mukaku jadi jelek" ucap Rania dengan ekspresi masam "Iya jadi jelek kalau tetap seperti itu, kamu akan cantik kalau tersenyum" ucap Revan yang menggoda Rania "Iya makasih pujiannya" ucapnya sambil tersenyum manis "Oke, sekarang kita ke kelas sebentar lagi pelajaran dimulai" ucap Revan. Dalam hati "manis sekali senyummu mampu membuat hariku terasa menyenangkan" "Loh pak nggak mau lihat lebih lama The most wanted baru" ucapnya dengan melirik netra Revan Saat dua netra saling melihat berbarengan, membuat Revan hampir salah tingkah " Nggak, sekarang kamu ke kelas atau nanti terlambat nilaimu taruhannya" ancam Revan sembari pergi ke arah kelas. Dalam hati "Jangan melihatku seperti itu Rania, itu bisa membuat degup jantungku nggak karuan" "Jangan dong pak" ucap Rania sembari berjalan menjaga jarak dibelakang Revan Akhirnya Revan sampai di kelas, diikuti Rania dibelakang. Kemudian Revan memulai pelajaran dengan jelas dan lugas. Semua mahasiswa memperhatikan dan belajar dengan tekun. Semua tau apa resiko jika dosen killer ngamuk, nilai mereka jadi taruhan. Jadi tidak ada mahasiswa yang tidur, malas-malasan, maupun main hp. Revan menghela nafas ia merasa senang semua mahasiswa sekarang disiplin. Setelah pelajaran usai, terdengar krasak krusuk membuat kegaduhan. Rania dkk mencoba mencari tau permasalahan dan kemudian Raka datang membawa kabar heboh "Ka, Lo kenapa ngos-ngosan ada masalah apa?" Tanya Denia melihat Raka yang berlarian dan mengeluarkan banyak bulir keringat. Denia pun mengeluarkan tisu dan memberikan pada Raka "Makasih. Itu guys, gue tadi lihat Adelio Putra bersama bodyguard, sekarang mereka menuju ke kantor" ucap Raka yang mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang penuh keringat yang kemudian duduk di kursi "OMG, gimana orangnya tampan apa tidak?" Ucap Cillia penuh semangat. Cillia sangat suka lihat cowok ganteng apalagi yang pintar bin tajir. "Lo lihat sendiri lah, bentar lagi lewat" ucap Raka "Ingat Cillia, dia itu tunangan Elisia, kamu jangan aneh-aneh" ucap Denia mengingatkan sahabatnya "Ya, gue tau, gue cuma ingin lihat cogan" ucap Cillia "Ok" ucap Denia dan Rania serempak Raka dkk dan mahasiswa lain melihat dari kelas masing-masing berharap cemas ingin melihat sosok Adelio Putra. Adelio muncul dengan 5 bodyguard. Adelio Putra kulit putih, wajah tampan seperti Ryan Wijaya, penampilan nacis, dengan sorot dingin membuat keren dan disegani. Ia melangkah dengan percaya diri. "Wihh keren banget" ucap Cillia yang berdecak kagum "Iya, tapi kelihatan ngeri banget" ucap Rania melihat sorot netra tajam Adelio "Itu namanya stay cool Ran, kampus kita keren banyak cowok tampan, dan cewek cantik, perfect" ucap Cillia "Iya, tapi Lo nggak masuk, yang masuk Rania dan Elisia" ucap Raka yang blak-blakan "Enak aja, gue juga cantik" gerutu Cillia yang tak terima akan omongan Raka "Kalau dilihat dari sedotan" ledek Raka pada Cillia "Udah jangan ribut, bentar lagi pelajaran pak Yoga, fokus guys" ucap Rania yang menengahi pembicaraan "Iya tapi gue ngarep banget bisa punya jodoh kayak mereka, tampan, pintar, tajir, pasti menyenangkan tiap hari melihat pemandangan yang menyejukkan" ucap Cillia sembari menghayal punya pasangan sesempurna itu " Cukup Cillia, istighfar" ucap Denia mengingatkan sahabatnya. Prinsip Denia hidup harus realistis kalau menghayal itu harus yang bisa digapai "Apaan sih lo" gerutu Cillia mengerucutkan bibir "Jangan banyak menghayal yang bukan-bukan cukup belajar, lulus lalu kerja" ucap Denia bijak "Ok belajar sekaligus dapat pacar" "Terserah Lo" "Ok" Rania, Denia, dan Raka geleng-geleng kepala melihat Cillia yang keras kepala. Sekarang mereka fokus sembari menatap buku, dan membaca sekilas sebelum pelajaran pak Yoga dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD