Rania, Raka, Cillia, Tania, Denia, dan mahasiswa lain bersiap-siap untuk pelajaran selanjutnya yakni pelajaran pak Yoga. Namun, tiba-tiba suasana menjadi mencekam, dan buruk saat Adelio Putra datang dengan aura dingin yang membuat mahasiswa ketakutan mengendikan bulu kuduknya.
Adelio melangkah maju dan memperkenalkan diri. "Halo, nama saya Adelio Putra, saya sementara waktu menjadi dosen kalian menggantikan Yoga Pramudya, ada peraturan yang harus kalian taati. Pertama Dosen selalu benar. Kedua kalau ada yang salah selalu ingat peraturan pertama. Ketiga saya suka disiplin, tidak boleh ada yang terlambat, jadi kalau kalian terlambat 5 menit saja, kalian harus meninggalkan kelas. Keempat mahasiswa dilarang bermalas-malasan, tidur, makan, main hp, bercanda dengan teman. Kelima saya tidak suka mengulangi pembahasan pelajaran, jadi kalau ada yang tidak paham, silakan minta bantuan pada mahasiswa paling cerdas. Keenam saya tidak suka dipanggil pak, kalian harus memanggil saya mister"
"Ok cukup ini perkenalan dari saya, ingat saya tidak suka diprotes apalagi dibantah. Silakan mahasiswa paling pintar duduk paling depan. Kalian harus cepat dan ikuti instruksi saya. Kalian yang paling pintar harus terdepan dan mendengarkan secara jelas pelajaran saya, kalian juga akan menjadi asdos selama pelajaran, jadi siapa? Silakan perkenalan diri kalian" ucap Adelio tegas dan berwibawa membuat para mahasiswa mau tak mau harus melirik berulang kali
Setelah terjadi saling pandang antara Tania dan Rania. Mereka pun memberanikan diri untuk melangkah maju dan memperkenalkan identitasnya
"Halo, saya Tania Veronika, panggil Tania, tidak suka make up, tidak seperti sebelah saya" ucap Tania blak-blakan dan mengarahkan pandang ke Rania
"Halo, saya Rania Tami, saya cantik dan pintar tidak seperti yang disamping saya" ucap Rania yang santai dan mengarahkan ke Tania
"Cukup, kalian berdua duduk, dan fokus pada pelajaran saya. Kalian harus bantu mahasiswa yang lain. Kalian juga harus siap dapat extra job dari saya, paham" ucap Adelio lugas dan tegas
"Paham" ucap Rania dan Tania serempak
"Bagus" ucap Adelio
Kemudian Adelio mengabsen satu persatu mahasiswa dan melanjutkan pelajaran. Adelio mengajar dengan cepat, lugas, dan padat. Suasana kelas benar-benar dingin, senyap, dan mencekam seakan mahasiswa masuk ke sarang harimau, semua mahasiswa takut pada Adelio. Setelah pelajaran usai Adelio pergi ke kantornya. Dan para mahasiswa menghela nafas lega seakan bisa lepas dari cengkraman berbahaya
"Sumpah demi apa? Mr. Adelio killer abis gue takut banget" ucap Cillia yang sempat gemetaran melihat sikap Adelio
"Kata Lo dia keren, mau jadi pasangannya, bukankah begitu?" Ucap Denia mengendikan bahu
"Entahlah gue lupa tuh" ucap Cillia asal. Dalam hati "siapa yang mau punya suami kaya gitu, garang abis bisa stres kali ya menghadapi setiap hari"
"Jangan pura-pura bloon, Lo tadi bilang gitu" ucap Denia yang mengingat perkataan Cillia
"Iya, khilaf" ucap Cillia santai
"Iya, Mr memiliki aura dingin, ngeri banget, masih mending pak Revan, walau killer tapi tetap santuy" ucap Rania
"Hmm, tumben muji pak Revan, jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padanya" celetuk Denia
"Nggak aku cuma bicara fakta" kilah Rania yang nggak mau jadi bahan gibah temannya
"Memang lebih baik pak Revan, hidup kita guys bakal sengsara selama pelajaran Mr" ucap Cillia sendu meratapi nasib jadi mahasiswa harus belajar dibawah tekanan dosen killer mending kalau pintar bisa mengerjakan tugas dengan baik. Ini pas-pasan dibawah tekanan gimana nilainya bisa baik.
"Yap setuju, bukannya paham malah ketakutan terus, yang ada nilai kita turun" celetuk Denia yang merasa otaknya tak bisa berpikir jernih dibawah tekanan
"Apa ada solusinya?" Ucap Rania yang merasa temannya butuh bantuan belajar
"Lo sama Tania harus baikan demi kita semua" ucap Denia yang memikirkan solusi untuk dirinya dan mahasiswa lain
"Ya" ucap Rania seakan pasrah
Dengan raut muka seakan terpaksa Rania dan Tania berjabat tangan menandakan berbaikan untuk sementara waktu. Mahasiswa yang ada merasa lega dan bisa tersenyum lagi
*****
Di ruangan kantor yang dimiliki, Adelio menghela nafas kasar dan duduk di sofa beristirahat sambil memainkan iPhone terbaru. Tak lama datanglah Revan dan duduk disebelahnya
"Welcome to Indonesia bro" ucap Revan menyambut kedatangan sahabatnya dari luar negeri
"Thanks" ucap Adelio biasa
"Gimana kabar Lo?" Ucap Revan
"Lo lihat gue baik, Lo sendiri gimana? Ucap Adelio yang cuek
"Lumayan" ucap Revan
"Lumayan apa bro? Lo punya masalah" ucap Adelio yang melihat ke arah Revan
"Setiap manusia pasti punya contoh gue, gue belum menaklukkan hati cewek yang dijodohin sama gue. Kalau Lo?" ucap Revan yang galau
"Oh, seorang Revan masa' sulit naklukin cewek. Seperti apa sih cewek itu" ucap Adelio yang menyindir
" Ya mahasiswa kita Rania Tami" ucap Revan
" Hmm mahasiswi" celetuk Adelio yang mengingat nama-nama mahasiswa yang tadi diajarnya
" Iya sama kayak lo, kan dijodohin sama Elisia Kimmy" ucap Revan
"Gue terpaksa setuju dijodohkan, karena mama dan papa maksa kalau nggak nerutin kemauan mereka gue nggak bakal jadi direktur di perusahaan. Gue juga harus memenuhi tantangan jadi dosen, hidup gue kok gini amat" ucap Adelio
"Hmm, posisi kita hampir sama. Tapi untungnya papa nggak pernah maksa yang ada gue aja yang sudah mulai suka sama Rania" ucap Revan mencurahkan hatinya
"Lo sendiri kenapa jadi dosen?" Ucap Adelio
" Hobi" ucap Revan yakin
"Oh, tapi cewek Lo aneh, masa' kayak saling sindir dengan Tania" mengingat bagaimana penampilan Rania di depan kelas
"Iya memang dari awal masuk sudah begitu keadaannya" ucap Revan santai. Revan bisa menerima semua kekurangan Rania asal Rania mau menerima cintanya.
"Hmm, mungkin dulu rembetan cowok" Adelio yang asal bicara
"Entahlah" ucap Revan lesu. Dalam hati "semoga apa yang ada di masa lalu tak membuatku sulit mendapatkan cintamu Rania"
"Semangat bro, masalah yang harus dihadapi meski sulit apalagi sebagai cowok, tentu harus kuat dan bisa membuat yang terbaik untuk pasangan kelak" ucap Adelio
"Tumben bijak, dimana bodyguard Lo" tanya Revan
"Pulang, mereka cuma memastikan gue bisa ngerjain tugas papa" Adelio yang bosan memainkan handphone
"Oh"
Revan dan Adelio pun sama-sama berjuang demi tujuan masing-masing. Revan demi cinta dan Adelio demi cita-cita jadi direktur perusahaan meski semua tak semudah yang dibayangkan, tapi keduanya akan berjuang dengan segenap hati. Begitu pula Adelio yang secara tak terduga mencemaskan kisah cintanya akankah dia bisa menerima sepenuhnya perjodohan dengan Elisia Kimmy ataukah tidak. Perubahan Elisia yang sempat ditunjukkan tadi membuatnya goyah dan hatinya seakan berbicara untuk menerima Elisia dengan sepenuh hati, akankah semudah itu. Pikiran Adelio yang rumit tapi belum mau menceritakan kisah sesungguhnya pada Revan.