Perusahaan Permata Abadi merupakan salah satu perusahaan terbesar di Asia. Perusahaan memiliki beberapa cabang di dalam maupun luar negeri. Perusahaan juga melingkupi hotel, real estate, yang terbaru perusahaan perhiasan Berlian Finix. Perusahaan Permata Abadi juga menjadi incaran para pencari kerja karena gaji tinggi, namun hal itu juga harus selaras dengan standar tinggi dan kinerja yang bagus. Para karyawan juga harus extra sabar dengan CEO baru Revan yang kalau marah suka mecat, otomatis nyali karyawan pada ciut dan hanya fokus pada pekerjaan.
Sama seperti saat ini, tiada angin maupun hujan, tiba-tiba Revan marah dan mengacak-acak dokumen. Revan dilanda stres karena kepikiran apa yang dikatakan sahabatnya Adelio. Apa benar selama ini Rania mencintai orang lain, dan karena itu dia nggak mau dijodohin dengannya, atau apa? Gumam Revan yang mengacak rambut
Karyawan yang melihat situasi tersebut tidak ada yang berani masuk ke ruangan ataupun menegur karena takut dipecat. Sementara itu Rania yang kerja di shift kedua merasakan keanehan kantor dan bertanya pada rekan kerjanya
"Kak Caca" sapa Rania yang menyamar jadi Tara
"Iya ada apa Tara?" Tanya Caca
"Kenapa aura kantor jadi serem?" Tanya Tara
"Itu karena CEO lagi marah-marah, karyawan yang ada berani masuk dan ikut campur, semua takut dipecat" ucap Caca jujur
"Bilang ke kak Jose kan bisa" ucap Tara santai
"Nggak bisa Tara, manajer lagi meeting di luar" ucap Caca menjelaskan
"OMG, terus gimana?" Ucap Tara bingung
"Biarin aja situasi seperti itu, pak Revan lagi mode galak, salah dikit bisa langsung out dari kantor" ucap Caca
"Ok aku paham" ucap Tara
"Kamu jangan aneh-aneh, ntar kamu dalam masalah" ucap Caca memperingatkan
"Nggak janji" ucap Tara santai. Dalam hati "aku akan ikut campur jika situasi tak kunjung membaik, kalau ada apa-apa tinggal nelpon kak Jose pasti beres"
"Apa?"
"Nggak ada apa-apa yok lanjut kerja"
"Ayo"
Keduanya pun melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Waktu terus berjalan, namun situasi perusahaan tak kunjung membaik. Dengan terpaksa Tara mengumpulkan keberanian pergi menuju ke ruangan Revan. Tara mengetok pintu, tapi tidak ada sautan. Tara pun melangkah masuk secara perlahan dan melihat betapa kacau ruangan, dokumen berceceran dimana-mana dan Revan dengan muka kusut, rambut berantakan.
"Ha ha pak bos lucu" ucap Tara santai
"Berani kamu masuk ke ruangan saya, saya pecat kamu" ucap Revan ketus dan netra tajam
"Ya saya cukup berani, kalau bos macam-macam saya akan nelpon kak Jose, dan lihat apa yang akan dilakukan kakak saya" ucap Tara tidak kalah galaknya
"Tara jelek, aku malas ladenin kamu, sana keluar" ucap Revan
"Saya sebenarnya malas bos, tapi lihat kekacauan ini jadi saya ikut campur" ucap Tara
"Kamu harus tau dimana posisimu cewek jelek" ucap Revan ketus
"Bos nggak tau ya, karena ulah bos karyawan lain pada ketakutan, karena situasi seperti itu juga mempengaruhi kinerja karyawan, hasilnya nanti pasti nggak maksimal" ucap Tara yang nggak mau kalah
"Sok tau"
"Memang saya tau, bos kenapa berubah dari keren jadi kayak singa, ada masalah?" Ucap Tara santai
"Kamu ngataian saya, sudah jelek culun lagi" ucap Revan sewot
"Ya ampun bos kok sensi amat, mana sih pawangnya" gerutu Tara
"Emang binatang" ucap Revan
"Maksud saya pawang cinta, bos jangan berpikir negatif terus, kalau ada masalah ya cerita, siapa tau saya memberikan solusi" ucap Tara tenang
"Sekarang sok menggurui saya" ucap Revan
"Terserah bos lah" ucap Tara yang bete sembari membereskan dokumen di kantor, memilih mana yang penting.
"Jangan ngambek Tara, saya cerita deh"ucap Revan. Dalam hati "kok aku nggak suka Tara ngambek"
"Beneran bos" ucap Tara antusias
"Iya. Jadi gini saya punya teman, teman punya gebetan, gebetan itu sepertinya punya cowok yang dicintai padahal teman saya cinta banget sama dia, gimana menurutmu?" Ucap Revan. Dalam hati" kok kata-kata ku muter-muter, biarlah pasti Tara paham"
"Sebentar deh bos, itu teman bos atau bos sendiri" ucap Tara tenang
"Teman" ucap Revan. Dalam hati " kok pintar banget langsung paham"
"Masa', kalau teman kenapa bos yang frustasi"
"Terserah"
"Ok jangan galak, saya kasih solusi. Pertama bos harus selidiki secara benar apa gebetannya sudah punya pacar atau belum. Kedua jika memang bos cinta banget coba deh perjuangkan dengan baik mulai dari pertemanan dulu. Ketiga kasih perhatian yang tulus, selalu ada disaat dia membutuhkan"
"Terus jika dia serius sama cowok lain gimana?" Ucap Revan ragu
"Do'a lah bos. Do'a pada Allah insyaallah pasti ada jalan, jika terbaik untukku lancarkan, tapi jika bukan carikan pengganti secepatnya, gitu bos" ucap Tara asal ceplos
"Oalah, bagus juga idemu, nanti saya terapkan" ucap Revan
"Oh beneran bos, kirain temannya" ledek Tara
"Huh" ucap Revan. Dalam hati "kok bisa keceplosan, muka ditaruh dimana"
"Udah selesai kan bos, sekarang bos ke toilet, rapiin tuh yang lecek, saya beresin kekacauan ini" ucap Tara sambil memulai kembali membereskan ruangan
"Kamu ini Tara sudah seperti istri aja main perintah sama atasan" gerutu Revan
"Memang bos mau punya istri seperti saya, saya hanya nasehatin, bos kan pemimpin harus wibawa jangan kusut gitu" ucap Tara menjelaskan
"Iya. Tapi kamu harus tau saya nggak mau punya istri culun nyebelin kayak kamu" ucap Revan
"Saya juga nggak mau punya suami tukang marah-marah dan manja" ucap Tara tak mau kalah
"Awas kau Tara" ucap Revan sembari berjalan pergi menuju toilet
"Sabar-sabar" ucap Tara. Dalam hati "pak Revan unik banget, tingkahnya sulit dimengerti"
20 menit kemudian, Revan kembali ke ruangan dengan wajah segar dan penampilan rapi. Ketika masuk Revan menemukan ruangan sudah bersih dan tertata dengan bagus, dan ada nasi goreng dan jus di meja. Dan saat Tara sudah beranjak pergi, ia dihentikan Revan.
"Culun, kembali ke ruangan saya" ucap Revan
Dengan langkah gontai Tara terpaksa berbalik kembali ke ruangan Revan
"Ada apa bos?" Tanya Tara
"Makanan dan minuman ini buat saya" ucap Revan
" Jelas buat bos, memang buat siapa lagi" ucap Tara
" Saya tidak berselera, cepat bawa pergi" ucap Revan
"Bos harus makan, dari tadi belum makan. Saya baik menyiapkan semuanya, dijamin enak, kan saya yang masak" ucap Tara
"Kamu bisa masak" ucap Revan
"Bisa dong bos, saya calon istri idaman" ucap Tara dengan kepercayaan diri
"Nggak percaya tuh"
"Terserah"
"Tara saya tanya?"
"Apa bos?"
"Kalau kamu suntuk, bete, dan nggak semangat. Apa yang kamu lakukan?"tanya Revan
"Refreshing bos. Pergi ke tempat wisata, mall, pantai, atau piknik di taman kota" ucap Tara santai
"Boleh juga, besok temani saya piknik" ucap Revan
"Kok saya, nggak ada yang lain" ucap Rania mendumel
" Nggak ada, semua sibuk" ucap Revan
"Saya juga sibuk bos, kuliah dan bekerja"
"Nggak peduli, saya tidak suka dibantah"
"Ok"
"Good, besok kamu harus siap, saya jemput pagi"
"Ya"
"Siapkan pula makanannya" ucap Revan sembari memberikan uang 3 lembar seratus ribuan
"Ok bos. Sekarang saya pamit dulu" ucap Tara sambil memasukkan uang ke kantong saku celana
" Nggak boleh, tunggu saya selesai makan" ucap Revan
"Ya" ucap Tara. Dalam hati "kumat lagi manjanya"
Revan POV
Saat aku pergi ke perusahaan, aku masih saja kepikiran akan perkataan sahabatku Adelio. Apa benar alasan Rania menolak perjodohan karena dia mencintai orang lain. Apa aku bisa bersaing dengan orang itu. Rasa frustasi tak bisa memikirkan solusi aku mengacak rambut dan membuang file. Entah kenapa otak pintar ku tak bekerja jika berurusan dengan yang namanya cinta. Karyawan semua patuh dan tak berani masuk ke ruangan.
Tapi tiba-tiba Tara culun datang dan masuk ke ruangan ku. Aku berusaha mengusirnya namun semua seakan sia-sia karena dia keras kepala dan nggak kalah galaknya denganku. Secara perlahan tanpa kusadari aku menceritakan apa yang kurasakan, rasanya lega beban dibenakku hilang. Tara bahkan memberikan solusi yang menurutku masuk akal. Tapi dia terus memerintahkan seakan dia istriku, amit-amit punya istri nyebelin kayak dia. Aku pergi ke toilet dan merapikan penampilan, setelah dirasa ok, aku kembali ke ruangan.
Saat di ruangan, ku jumpai ruangan sudah bersih, dan dokumen rapi, serta makanan dan minuman di meja. Pekerjaan Tara cukup bagus, saat kulihat Tara pergi menjauh, ku memanggilnya untuk kembali dan menanyakan sesuatu. Ternyata mengobrol dengan dia menyenangkan, kuputuskan untuk piknik dengannya besok. Entah apa alasannya tapi aku nyaman dia selalu ada di dekatku. Aku pun makan masakan Tara dan memaksanya untuk tetap di ruangan sampai aku selesai makan, makanan Tara memang lezat seperti masakan restoran, aku benar-benar menikmati makanan ini.
Rania POV
Aku bekerja di shift kedua dan kudapati suasana kantor yang suram. Semua ulah bos Revan, aku memberanikan diri untuk masuk ke ruangannya. Meski bos mengancam tapi aku tetap berani agar masalah selesai dan kondisi perusahaan kondusif. Awalnya bos nggak mau cerita dan aku hanya fokus merapikan dokumen. Entah kenapa tiba-tiba dia menceritakan kisahnya meski awalnya dia bilang itu kisah temannya. Aku pun memberikan solusi dan menyuruhnya untuk pergi ke toilet kan nggak lucu penampilan pemimpin berantakan, apa yang nanti dipikirkan karyawan.
Namun dia salah paham akan niatku, dia merasa aku sudah seperti istrinya, ya kali aku mau punya suami seperti dia jutek, suka marah, manja. Kesal aku dibuatnya, dia selalu membuat kesabaranmu habis. Setelah membereskan ruangan, kubuatkan nasi goreng dan jus serta meletakkannya di meja. Saat pergi menjauh, aku terpaksa kembali karena bos memanggilku. Dia benar-benar menyebalkan dengan memutuskan untuk piknik denganku. Menyuruh sesenak jidatnya mentang-mentang kaya, huh aku butuh kesabaran extra.
Author POV
Setelah menemani Revan makan, Rania pergi dan membereskan barang-barang. Rania pulang dengan Jose yang telah menunggunya di parkiran setelah meeting di luar. Sementara itu Revan pulang ke rumah dan merenungkan apa yang sebenarnya terjadi padanya.