Air dari shower membasahi tubuhnya yang putih bersih dan mengkilat, lalu menyabuninya. Sekitar 15 menit, pria itu keluar dengan memakai handuk.
Kemejanya yang berserakan di lantai dipungutinya, kemudian dipakainya. Ponselnya berdering, tapi diabaikan. Ia tahu, tentu saja telepon itu dari mamanya. Malas deh, pagi-pagi sudah diceramahi.
Setelah selesai berpakaian, diraihnya ponsel itu. Tak sengaja, pandangannya teralihkan pada sebuah benda yang tergeletak di lantai. Ia mengernyit, lalu tangannya meraih benda itu.
"Kado?" Ia tersenyum sinis. "Pasti punya gadis otak udang itu?"
Pergi atau tidak? Dua hal yang terpikirkan oleh Deirdre, sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya.
Ia menghela napas. "Untung aja kak Ciara percaya kalau kadonya ketinggalan di taksi. Apa aku beli lagi aja, nggak usah diambil lagi. Kalau ketemu sama cowok itu lagi gimana? Atau mungkin, petugas hotel udah buang kado itu?"
Fix! Deirdre ganti baju, ambil dompet, lalu bergegas ke Mall dengan mobilnya. Selama 30 menit perjalanan, ia bergumam bingung. "Beli barang lain, atau barang yang sama?"
Hal itu terus dipertimbangkannya, bahkan setelah sesampainya ia di Mall. Ia memilih dua barang, antara kalung atau jam tangan mewah. Kemarin, ia memilih jam tangan yang sama.
Pegawai yang melayaninya memandangi Deidre, lalu ia bertanya, "Jadi, Mbak mau beli yang mana?"
"Em ... Saya juga bingung," gumam Deirdre. "Saya beli kalung ini saja."
Pelayan itu membawa kalung tadi untuk dibungkusnya. Setelah membayar, ia akan memberikannya pada Ciara. Sambil berjalan keluar, ia menghubungi kakaknya itu.
"Halo, Kak. Bisa ketemuan."
"Hari ini? Kayaknya nggak bisa," sahut Ciara agak berbisik.
Deirdre berhenti melangkah, tertegun. "Kenapa?"
Suara di seberang sana terhenti sejenak, lalu Ciara kembali berbisik, "Nanti aku kasih tahu. Udah dulu, ya."
Deirdre menatap layar ponselnya, menghela napas kecewa. "Ya, sudahlah." Ia mengangkat kantong belanjaannya. "Besok aja aku kasih."
Ciara kembali ke tempat duduknya, setelah berdiri menjauh beberapa meter untuk menerima telepon.
Papa, mama, sepasang suami-istri dan anak lelakinya sedang duduk semeja dengan tatapan serius. Mereka menoleh pada Ciara ketika gadis itu datang dan duduk di sebelah ibunya.
Wanita yang dipanggil mama itu mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Siapa yang menelepon?"
Ciara terhenyak, menjawab gugup, "Em … Cuma teman."
Tatapan ibunya itu membuat Ciara semakin gugup. Sepertinya, tak mudah membuat ibunya itu untuk percaya. Namun, ibunya tak bicara apa pun, perlahan menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum sopan pada tamu mereka.
"Sebelumnya, kami mau minta maaf atas apa yang terjadi kemarin," kata seorang pria paruh baya berkacamata dan berperawakan kecil, dengan kulit kuning langsat yang telah berkeriput.
Kemudian, wanita yang terlihat lebih muda dari suaminya itu menimpali, "Benar, Madam. Tiba-tiba Enrique memiliki urusan yang sangat penting. Jadi—"
Wanita itu melirik anak lelakinya dengan tatapan tajam, yang berarti sebuah peringatan.
"Enrique akan meminta maaf, dan kita bisa mengulang acara pertunangan yang sempat kacau kemarin."
Pria berusia 30 tahuanan itu menoleh dengan mata mendelik, tercengang dengan ide yang tercetus tanpa persetujuan dari mulut sang ibu.
"Ma!" tegur Enrique. Namun, yang didapat malah sebuah tatapan garang dari ibunya.
"Ya, kami tidak masalah," kata mamanya Ciara. "Tapi kalau menurut hemat saya, lebih baik kita langsung merencanakan pernikahan mereka saja."
"Apa?!" Ciara dan Enrique sontak berseru. Lalu, keduanya sama-sama tertegun dan menoleh.
"Kenapa tidak?" tanya Pak Anton, ayah Enrique menatap keduanya secara bergantian dengan heran.
"Karena aku…."
Enrique mana bisa bilang kalau ia telah kehilangan keperjakaannya dan hanya ingin menikah dengan wanita otak udang itu.
"Karena apa, Enrique?" tanya mamanya, nadanya bicaranya penuh penekanan meski terdengar lembut.
"Karena saya tidak menyukai Ciara. Jadi," Enrique beranjak dari kursinya. "Jangan paksa saya untuk menikahi dia, ataupun perempuan lain!"
Kedua orangtuanya tercengang. Enrique menyulutkan amarah orangtuanya, yang akan siap meledak.
"Kalau begitu, saya permisi."
Enrique berbalik, diam-diam tersenyum puas setelah mengejutkan semua orang dengan ucapannya. Tak peduli, seberapa marahnya orangtuanya.
Malu dan marah bercampur aduk. Jane dan Anton menunduk, lalu pria itu meminta maaf pada orangtua Ciara.
Enrique berjalan keluar restoran. Seorang sopir menyambutnya, mempersilakan untuk memasuki mobil. Namun, baru akan masuk, ponselnya berdering.
"Ya, halo? Bagus! Kirimkan semua datanya sekarang!" Senyum misteriusnya terkembang sambil mematikan ponsel. "Nona otak udang. Namanya bagus juga."
"Aku sudah tidak suci lagi," gumamnya, menatap bayangan dirinya pada cermin di kamar mandi.
Setelah kejadian itu, Deirdre lebih sering menghela napas panjang, menyesali kebodohannya yang terbujuk untuk menenggak miras malam itu, lalu kehilangan kesucian dari seorang pria asing.
Ia melirik ke arah lain dan termenung. "Tapi, cowok itu ganteng juga, ya? Siapa namanya? Enrique? Kayak nama orang Spanyol?"
Kemudian, ia tersentak. Tunggu dulu! Kenapa ia malah memuji pria itu? Apalagi, terlintas badan kekar dan perut kotak-kotak Enrique yang seperti roti sobek.
"Aaaahh! Buang jauh-jauh pikiran itu!" jeritnya, setelahnya kedua tangannya memukul marmer westafel. "Aduh!" keluhnya. Lagian, siapa suruh melakukan hal itu dengan keras?
Tangannya yang memerah ditiupnya sambil berjalan keluar. Suara bel apartemennya berbunyi. Langkah yang tadinya mengarah ke kamar, beralih menuju pintu masuk.
"Siapa yang bertamu sore-sore gini? Apa jangan-jangan kak Ciara?" Senyumnya merekah, membayangkan bahwa yang di depan pintu adalah kakaknya.
Ia pun membuka pintu, sambil berseru riang, "Ada apa kak Cia—"
Namun, ia berhenti saat berucap ketika mengetahui bahwa seseorang di balik pintu ini bukan kakak tirinya, melainkan pria itu!
"Kamu!"
Enrique tersenyum mencemooh, melambaikan tangan. "Hai, ketemu lagi."
"Kenapa kamu ada di sini? Kamu stalker, ya?" Langsung saja, Deirdre menumpahkan tudingan itu.
"Apa cowok seganteng aku punya tampang stalker?"
"Mau tahu jawabannya?" Deirdre melipat kedua tangannya ke d**a.
"Jawablah."
"Iya!" jawab Deirdre ketus, sontak membuat membuat Enrique tersinggung.
"Apa?" Enrique mengernyit marah, lalu mendengus. "Beginikah cara kamu memperlakukan pria yang sudah memberikan keperjakaannya untuk—"
Deirdre memelototkan mata, terhenyak, lalu spontan menutup mulut Enrique yang berbicara sembarangan.
"Diam!" bentaknya dengan suara pelan sambil melirik ke kanan dan kiri pada lorong yang sepi. "Kamu mau buat saya malu?"
Enrique mengenggam tangan Deirdre, menyingkirkannya dari bibirnya. "Apa untungnya aku melakukan hal itu? Aku ke sini ingin menagih janji."
"Janji?" Deirdre membeo, mengenyit.
"Iya."
Enrique perlahan melangkah ke depan, sontak membuat Deirdre melankah mundur karena terintimidasi. Terus, perlahan, sampai mereka berada di dalam apartemen Deirdre.
Gadis itu mulai bingung dan cemas. "Kamu mau apa? Janji apa yang kamu maksud?" tanyanya dengan terbata-bata.
Bukannya mendapat jawaban, Deirdre semakin dibuat takut oleh senyuman Enrique. Langkah Deirdre sudah mentok, terhalang oleh sofa, hingga tubuhnya terhuyung, lalu jatuh di atas sofa.
Enrique memanfaatkan ini dan ikut terjatuh, alih-alih menyelamatkan Deirdre. Ia menindih tubuh gadis itu, lagi-lagi tersenyum misterius yang menciutkan nyali Deirdre.
"Kau harus menikah denganku."[]