Aku bukan mainanmu!

1100 Words
"Jangan gila!" jerit Deirdre, meronta. "Kalau memangnya pernikahan itu lelucon apa? Kalau kau mencari wanita untuk dipermainkan, cari yang lain!" Bentakan Deirdre justru mengundang tawa dari Enrique. Deirdre mengernyit heran entah ada apa dengan pria itu? Deirdre menghela napas panjang ketika pria itu perlahan berdiri. Enrique merogoh saku dalam blazer-nya, mengeluarkan sebuah kotak yang kemudian dilemparkan pada Deirdre. "Kado kak Ciara?" gumamnya heran, lalu mendongak pada Enrique dengan pandangan penuh tanya. "Bagaimana bisa ada padamu?" "Kecewa, aku pikir kau akan mengucapkan terima kasih padaku," kata pria itu, tersenyum jail. Menjengkelkan! "Oh, oke. Terima kasih. Tapi, tolong jawab pertanyaan saya." Mulai lagi, Enrique mendekatkan wajahnya. Sepertinya, wajah cantik gadis itu tak pernah bosan untuk ditatapnya. "Bukannya malam itu kita tidur bersama?" Blush. Pipi Deirdre seketika memerah, sontak ia memalingkan wajahnya. Tapi, hal itu tidak dapat disembunyikan, dan pria itu tersenyum geli sambil menjauhkan tubuhnya. "Aku pergi dulu," kata Enrique, berjalan meninggalkan Deirdre yang masih terpaku di sofa. "Ih, menyebalkan!" . . . Karena adiknya menghubunginya tadi, Ciara datang ke apartemennya. Saat ia akan keluar dari lift, pas sekali Enrique memasuki lift di sebelahnya. Ciara melintasi lift yang akan tertutup. Sekilas, ia melihat wajah pria itu. Awalnya, ia tak menyadari. Namun, baru beberapa langkah melewati lift, ia tertegun. "Tadi itu ... Nggak mungkin Enrique, 'kan?" gumamnya, mengernyit. Ia menoleh lift tadi sambil berpikir. Lalu, dugaan itu dihelanya. Baginya, mungkin ia sudah salah lihat tadi. Di dalam kamar, Deirdre mengalihkan pikirannya dari pria sinting tadi dengan menonton sebuah film. Di saat pikirannya sudah tenang, suara bel pintu mengusik. "Jangan-jangan cowok itu lagi?" duganya, melirik pintu. Ia mendecak. "Bodo ah!" Namun pikirannya ragu, sampai tak tahan untuk beranjak dari kursi. "Siapa tahu, itu bukan dia. Coba aku cek dulu deh!" Deirdre menghampiri pintu, lalu mengintip dari sebuah lubang yang ada di pintu itu. "Kak Ciara!" serunya pelan dengan girang. Buru-buru pintu itu dibukanya, menyambut sang kakak dengan senyuman. "Masuk, Kak!" Ciara melangkah masuk ke dalam sambil bertanya, "Apa yang ingin kau bicarakan, sampai meminta bertemu?" Deirdre menggandeng lengan kakaknya, membawanya ke sofa yang ada di ruang tamu. "Aku udah janji mau kasih hadiahmu, 'kan?" Senyum yang tadinya melekat di bibirnya, menghilang dalam sekejap. "Nggak usah. Pertunangannya dibatalkan." "Dibatalkan?" seru Deirdre, kaget. "Kok gitu?" "Pria itu tidak mau menikah denganku." "Ish! Pria bodoh mana yang menolak Kakakku yang cantik ini?" ujar Deirdre, tak bermaksud mengumpat, melainkan mencoba menghibur Ciara. "Matanya pasti buta. Udah, Kak, jangan dipikirin. Cowok jelek kayak dia nggak pantes buat Kakak." Seperti itulah yang diinginkan Deirdre, senyum Ciara terkembang mendengar ucapannya tadi. "Tapi, dia ganteng, Dek." "Ya, ganteng lah! Kan dia cowok," seloroh Deirdre. "Kak, cowok yang lebih ganteng itu banyak. Udah, lupain dia, oke!" Ciara hanya diam. Adiknya tidak tahu, bahwa debaran cinta dirasakannya sejak pertama kali bertemu dengan pria yang dijodohkan untuknya itu. Makanya, ia tak ragu untuk mengatakan "iya", saat rencana pertunangan dicanangkan. "Oh, iya!" seru Deirdre tiba-tiba. "Aku ambil hadiahnya dulu, ya." Ciara mengangguk, dan Deirdre langsung beranjak menuju kamarnya untuk mengambil kotak hadiah yang sudah dipersiapkan. Akan tetapi, langkahnya terhenti, tak jadi menghampiri lemari tempat penyimpanan hadiah yang baru dibelinya. Ia termenung begitu pandangannya teralihkan pada kotak hadiah yang berisi jam tangan. Ia menghela napas berat. "Kado mana yang akan aku kasih, ya?" Bimbang sekali! Tapi pada akhirnya ia memilih kotak kado yang ada di lemari. Kado itu sudah tercemari oleh sentuhan tangan pria sinting itu. Deirdre memberikan kotak kado berwarna merah muda itu pada kakak, sesampainya ia di ruang tamu. "Meskipun pertunangannya udah batal, aku tetap akan kasih hadiahnya. Anggap aja kado ulang tahun." Ciara tertawa kecil sambil menerima kotak itu. "Iya, deh. Terima kasih, ya." ☘ Penolakan Enrique terhadap Ciara membuat Lidya pusing. Tak ada satu pun hiburan yang membuatnya bisa melepaskan stresnya itu, bahkan majalah fashion yang memperlihatkan tren pakaian terbaru. Baru beberapa halaman dibukanya, ia mendecak, lalu melempar majalah itu ke meja. Ciara memasuki ruang tamu, menyapa mamanya sambil tersenyum. "Mama kok cemberut gitu?" tanyanya seraya duduk di samping Lidya. Lidya menghela napas. "Bagaimana Mama tidak kesal. Perjodohan kamu dengan Enrique batal! Padahal, Mama sudah mengidam-idamkan pernikahan ini. Kalian itu ... Pasangan yang sempurna, tahu?" Ucapan mamanya bukan penghiburan, melainkan sebuah luka. Ciara tersenyum dalam rasa duka. Jujur, ia sangat sedih karena pria yang sangat diinginkan akhirnya lepas dari tangan. "Sudahlah, Ma. Kalau memang tidak jodoh, mau diapakan lagi?" kata Ciara tersenyum kecut. "Ya, kau benar," sahut Lidya setuju sembari mengangguk. "Tapi tetap saja, karena hal itu, kerjasama perusahaan papa dan keluarga itu jadi batal. Dan mama jadi penasaran, apa yang membuat Enrique tidak menyukaimu? Kau itu cantik, cerdas, lembut dan dewasa." "Mungkin, dia punya pacar," tebak Ciara, muram saat mengatakannya. "Ah, sudahlah! Deirdre benar! Pria bukan hanya Enrique. Aku harus cari pria lain!" Lidya mengernyit saat anaknya menyebut nama Deirdre. Kemudian, ia berseru marah, "Apa kau masih menemui anak itu? Bukannya Mama sudah bilang berkali-kali? 'Jangan pernah temui anak itu!' Kenapa kau masih saja tidak menurut?" Ciara menundukkan kepala, menyesali bibirnya yang tanpa sengaja menyebut nama Deirdre. "Oh, Mama tahu! Pertunangan kamu batal pasti karena dia—anak pembawa sial!" "Bukan, Ma," sahut Ciara, langsung mendongak dengan wajah memelas. "Deirdre tidak ada hubungannya dengan semua ini." Lidya semakin murka, bisa-bisanya anak kesayangannya membela anak dari perempuan pelakor itu! Sepertinya, ia barus bertindak. Anak pembawa sial itu harus enyah dari kehidupan keluarganya! ☘ Pagi yang bagus untuk berolahraga. Deirdre memulainya dengan berlari-lari kecil di sebuah taman sambil menghirup udara segar. Jika merasa lelah, ia beristirahat pada sebuah bangku taman. "Ah! Lupa bawa air lagi!" keluhnya, kesal pada kecerobohannya. Ia celingak-celinguk ke seluruh area taman, mencari pedagang asongan yang menjual minuman. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan sebotol air minum ke hadapannya. Ia terhenyak, lalu mendongak untuk melihat wajah orang itu. Namun, kemudian ekspresinya berubah jengkel karena orang yang tidak diharapkannya muncul lagi. "Apa kau tidak bosan mengejarku?" tanyanya agak ketus. Enrique duduk di sampingnya, lalu meletakkan botol air minum di tangan Deirdre. "Minum dulu. Kalau kau mau mencoba melawanku, kau harus pulihkan tubuhmu dulu." Apa dia bercanda? Deirdre tersenyum sinis, lalu meletakkan botol minuman itu ke tangan Enrique sembari menyindir, "Tidak, terima kasih." "Aku akan menjawabnya kalau kau mau meminumnya," bujuk Enrique, tidak kehilangan ide. "Aku sudah tahu jawabannya," sahut Deirdre acuh tak acuh. "Pergilah!" "Kalau aku tidak mau?" Deirdre beranjak dari kursinya. "Kalau begitu, biar aku yang pergi." Meskipun ia melangkah pergi, Enrique tetap mengikutinya, bahkan sampai ke lobi apartemennya. Ia semakin jengkel. Ingin rasanya berbalik, lalu memaki-maki pria itu di depan umum. Namun, ia malah terkejut karena tak jauh dari tempatnya, ia melihat seorang wanita setengah baya berpakaian anggun tengah melintas. Ia mendelik, lalu buru-buru berbalik. "Gawat!"[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD