Diculik Enrique

1061 Words
Mata Deirdre mendelik. Di dalam hati bergumam: "Please, jangan lihat ke sini!" Enrique heran melihat gadis ini tidak beranjak dan melihat ke sebuah arah. "Ada apa? Apa yang sedang kau lihat?" Benar! Pria ini! Akan tambah gawat kalau Lidya melihatnya dengan Enrique. Maka, ia mendorong pria itu, membawanya bersembunyi ke manapun agar Lidya tidak melihat mereka. "Kau mau membawaku ke mana?" tanya Enrique. "Aku tahu, pasti ke tempat yang nyaman untuk kita bermesraan?" "Bermesraan kepalamu!" umpat Deirdre. "Udah, ikut aja!" Enrique berpikir sembari mengingat semua ekspresi yang ditunjukkan oleh Deirdre tadi. "Apa kau sedang menghindari seseorang?" Deirdre mendecakkan lidah. Bawel sekali pria ini! "Iya, kita menghindari seekor macan buas." "Macan?" Pria itu mengulangi dengan nada heran. Setelah mereka mencari tempat bersembunyi, Deirdre mengatur napasnya sejenak. Lalu, ia bersandar pada tembok, dan otaknya mulai memikirkan sebuah cara untuk keluar dari situasi ini. Tapi sebelumnya, ia harus menyelesaikan satu masalah dulu. Pria yang ada di sebelahnya ini! Deirdre meliriknya, lalu berkata dengan napas masih terengah-engah. "Pulang deh sana!" "Hm? Kau mengusirku?" tanya Enrique, melongo, lalu tersenyum sinis. "Wah! Baru kali aku diusir oleh seorang wanita. Hanya kau, wanita yang begitu berani melakukannya." "Apa susahnya mengusir pria sepertimu?" cibir Deirdre. "Hei, dasar gadis otak udang—" "Apa?" Deirdre tersentak, lalu berbalik menghadapnya dengan gusar. "Otak udang?" Enrique tersenyum mencemooh, tidak tahu apa yang bakal terjadi jika menantang gadis itu. Yap! Handuk yang melingkari lehernya dilepaskan untuk Deirdre pakai sebagai pemukul pria bermulut sampah itu. "Coba katakan sekali lagi? Otak udang?" Murka gadis itu, bertubi-tubi memukul Enrique. Enrique berusaha menghindar, tetapi sia-sia karena pukulan Deirdre selalu tepat sabar. Ia hanya dapat menjerit kesakitan, lalu pergi dari tempat ini daripada badannya harus menanggung rasa sakit. Deirdre tersenyum menang sambil meletakkan handuk kecil itu ke bahunya. "Emang enak!" ☘ Sempat merasa ragu untuk menemui Lidya, sampai 15 menit ia duduk di lobi. Akan tetapi, ia merasa kasihan jika tidak menemui ibu tirinya yang sudah datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menemuinya. Ya, sudah. Akhirnya, ia masuk ke dalam lift dengan perasaan gelisah. Di dalam otaknya sedang mengolah kata yang tepat untuk menghadapi wanita itu. Meski sudah hapal, ucapan itu tidak akan pernah keluar dari mulutnya. Karena, saat pintu lift ini terbuka, sosok Lidya muncul, sehingga lidahnya menjadi kelu. Alih-alih mendapat sapaan, Lidya langsung mengomelinya dengan nada dingin. "Jadi, di sini kau rupanya?" Deirdre mengulum bibirnya, gugup. Ada apa ibu tirinya ke sini? Perasaan ia tidak membuat ulah. "Iya, aku habis olah—" "Saya tidak peduli!" tukas Lidya. "Saya mau bicara sama kamu." Gadis itu menelan air liurnya, lalu beringsut ke arah pintu. "Kalau begitu, mari ke rumah saya." "Tidak usah. Di sini saja," sahut Lidya cepat, yang enggan berlama-lama dengan gadis itu. "Berapa banyak uang yang kamu minta?" "Ha?" Deirdre tercengang, menaikkan wajahnya sedikit. "Pergilah sejauh mungkin, putuskan komunikasi dengan keluarga kami, termasuk dengan Ciara," ujar Lidya dengan senyum dinginnya yang membuat bulu roma gadis itu meremang. Deirdre mendelik. Pergi sejauh mungkin dari papa dan kakaknya? Mana mungkin ia melakukan itu? Mereka adalah keluarganya, orang yang disayangi dan menyayanginya. "Aku masih berbelas kasih dengan membiarkanmu tinggal di Indonesia," tambah Lidya, melipat tangannya di d**a. "Asal, tidak tinggal di kota yang sama dengan kami." Deirdre menunduk muram, tak dapat membantahnya karena memang sudah berjanji untuk tidak menampakkan wajahnya lagi di depan mereka. Namun, tetap saja berat hati melakukan hal itu. ☘ Deirdre keluar dari apartemen untuk bekerja. Selama ini, ia menghidupi dirinya dengan menjadi pelayan di restoran. Dari jauh, terdapat sebuah mobil sedang yang sedang mengintainya. Mobil itu melaju mengikuti Deirdre, lalu perlahan berhenti di samping. Deirdre mengernyit, tapi tak tetap tak berhenti melangkah. Si pengemudi mobil keluar, Deirdre langsung kesal melihatnya. "Kamu lagi?" serunya. "Hah! Nggak bisa apa berhenti mengikuti aku?" Ya, siapa lagi yang dimaksud oleh Deirdre kalau bukan Enrique. Pria itu mendekat sambil tersenyum, tak mengatakan apa pun, lalu tiba-tiba memanggul tubuh Deirdre seperti karung beras. Deirdre terkejut dan meronta. "Hei! Lepaskan aku! Lepaskaaaaaan!" jeritnya, memukul-pukul punggungnya. Enrique tak peduli; dibukanya pintu mobil, lalu menghempaskan tubuh Deirdre ke jok mobil. Ia langsung berlari ke kursi pengemudi, buru-buru mengunci pintu mobil sebelum Deirdre mencoba melarikan diri. Deirdre terhenyak karena tak bisa membuka pintu, lalu ia menatap marah pada pria itu. "Maumu apa sih? Kenapa kamu lakuin ini?" "Sekarang, kau tawananku. Siap-siap saja aku jual," kata Enrique sambil menghidupkan mesin mobil. Dijual? Alih-alih membuat Deirdre diam, gadis itu malah meronta, mencoba membuka pintu mobil. Melihat hal itu, Enrique berseru menegurnya, "Eh! Apa yang kau lakukan? Nanti itu patah!" "Masa bodo!" Enrique mendecakkan lidah. "Oke, oke, tadi itu aku hanya bercanda. Aku tidak akan menjualmu." Tapi tetap saja, Deirdre tidak mau tenang. Enrique kehilangan akal. Ya sudah, biarkan saja. Gadis itu juga akan diam sendiri pada akhirnya. Dan ternyata benar, Deirdre lelah memberontak. Ia duduk tenang sambil melipat kedua tangannya di d**a, dengan wajah ditekuk. Enrique tersenyum. "Begitu dong. Aku suka dengan gadis penurut," kata Enrique. Deirdre melirik kesal. Oh, jadi begitu? Lihat saja, ia akan memberontak lagi setelah ini. "Kita mau ke mana?" tanya Deirdre. "Bulan madu sebelum menikah," jawab Enrique, tersenyum. Deirdre menoleh terkejut. Dasar otak m***m! Gumamnya dalam hati. "Apa?!" seru Deirdre. "Turunkan aku!" "Tidak akan," cemooh Enrique. Lagi-lagi Deirdre pasrah. Mobil terus melaju sampai di sebuah pantai. Deirdre takjub sekaligus heran. Inikah yang dia maksud dengan "bulan madu sebelum menikah"? "Kau suka pantai, 'kan?" tanya Enrique, memandang ombak yang bergulung-gulung di depan sana. Deirdre menatapnya. Meski bukan tempat favoritnya saat berlibur, harus ia akui, ia juga menyukai pantai. Namun, ia tak mengatakannya langsung, malah menjawab pria itu begini: "Tahu dari mana? Seharusnya, tanya dulu tempat yang aku suka." "Tidak perlu membantah, aku yakin kalau kau menyukai tempat ini." Lalu, tanpa persetujuan, Enrique menggandeng tangan Deirdre, menariknya pergi mengelilingi tempat ini. Selain itu, Enrique juga mengajaknya lebih dekat ke laut, merendam kaki mereka sambil terus berpegangan tangan, seolah Deirdre tahanan pria itu. Orang-orang yang melihatnya menganggap mereka sebagai pasangan romantis. Akan tetapi, Deirdre justru merasa risi. "Bisa nggak, kamu lepasin tangan aku? Aku nggak akan kabur, kok," pinta Deirdre, memasang wajah memelas. Tanpa menatapnya, Enrique bergumam, "Aku tidak peduli dengan ucapan wanita otak udang sepertimu." Deirdre mendengus. Apa katanya? Otak udang? Menyebalkan sekali pria ini? "Ayo, kita ke restoran di dekat resort. Kau lapar, 'kan? Sekalian, kita menginap di sini," kata Enrique, menoleh padanya. "Kita pesan sebuah kamar untuk kita berdua." Wajah Deirdre memucat. Apa katanya tadi? Menginap dalam satu kamar? Ah, tidak![]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD