Enrique memilih sebuah kamar yang memiliki pemandangan yang cantik menghadap sebuah laut. Aku terpana, tetapi sedetik kemudian merasa merinding.
Di kamar ini hanya kami berdua? Jadi teringat pada kejadian malam itu. Apa jangan-jangan dia akan....
Padahal, baru sedetik aku memikirkan kemungkinan buruk itu, tiba-tiba, Enrique menggendongku, lalu, membawa tubuhku ke atas ranjang. Aku tersentak, wajahku bersemu merah seperti udang rebus.
"Kau mau apa?" tanyaku terbata-bata.
"Apalagi kalau bukan ..." ucap Enrique sambil mendekati wajahnya ke hadapanku. Seringainya membuat jantungku berdegup tak keruan.
Aku membeku, tak dapat menghindari kecupan bibir Enrique yang begitu cepat menyerang bibirku. Tangannya merayap ke arah belakang blus-ku, alih-alih memeluk, melainkan membuka retsleting.
Mataku mendelik, meronta, dan tanganku berusaha mendorong tubuhnya. Namun, ciumannya malah semakin buas, dan tangannya mulai liar menyentuh tubuhku tiap inchinya.
"TIDAK! HENTIKAN!" jeritku, sekuat tenaga menghempaskan tubuh pria itu.
Kurang ajar! Dia malah tersenyum sambil mengelap bibirnya. Dia pikir, permainan itu lucu! Dia pikir aku bonekanya yang bisa diperlakukan seenaknya begini?
"Kau masih malu-malu rupanya," gumamnya menggoda. "Itu baru awalnya, permainan yang sesungguhnya nanti malam."
Cukup! Kuraih tasku, lalu aku beranjak dari tempat ini. Namun, pria itu dengan sigap menangkap tanganku, menarikku hingga aku terjatuh di atas pelukannya dalam posisi tidur di atas ranjang.
Aku terkejut sekejab, lalu akan beranjak. Pria itu tak membiarkanku, dia menahan tubuhku dengan mendekap pinggangku. Lagi, dia meraih kepalaku, mengecup bibirku dalam beberapa saat.
"Baiklah," katanya setelah itu. "Aku tidak akan melakukannya sekarang, ada saatnya kita melakukan hal itu. Jadi, kau harus siap dan hilangkan rasa malu-malu kucingmu itu, ya."
Aku menyalak marah, beranjak dari tubuh kekarnya.
"Tapi kau menginap dulu di sini. Mubazir kan kalau kamarnya nggak dipakai," kata Enrique, duduk di atas ranjang sambil menyilangkan kaki. "Aku akan pesan kamar lain. Jadi, letakkan kembali tasmu itu."
Enrique berjalan ke arahku, merenggut tasku, lalu meletakkannya di atas nakas. Kurasakan jemarinya menggenggam tanganku, dan aku melihatnya tercengang, kemudian beralih menatapnya dengan bertanya-tanya.
Senyuman pria itu kali ini membuatku semakin terheran-heran, tapi cukup menarik perhatianku. Bisa juga dia selembut ini, apalagi dengan ucapannya.
"Ayo, kita makan siang dulu."
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Aku menatapnya, alih-alih berkonsentrasi Pada sup krim yang kupesan tanpa pikir panjang. Tertarik? Mana mungkin! Dia orang aneh yang sangat terobsesi pada orang yang sudah ditidurinya.
Aku tersentak, jadi bertanya-tanya soal yang gumamkan tadi. Kenapa pria ini mengejarnya sampai sebegininya? Hubungan malam itu hanya kecelakaan, dan biasanya seorang pria tidak akan peduli setelah hal "itu" terjadi. Tapi pria ini, malah memintaku bertanggung jawab? Apa otaknya benar-benar waras?
"Apa sebegitu gantengnya aku, sampai kau menatapku terus?" celetuk Enrique, aku terhenyak karenanya.
"Ge er!" sahutku sinis. "Aku hanya heran padamu. Kenapa kau mengejarku sampai seperti ini?" Kemudian, aku menyipitkan mata, curiga. "Apa kau hanya mempermainkanku saja, lalu membuangku setelah bosan."
Benar-benar pria mengesalkan! Dia malah tersenyum sambil memotong daging steik. Sungguh, aku jadi tidak selera makan karena sangking jengkelnya! Sendok yang ada di tanganku, diletakkan di atas mangkok dengan agak sedikit kasar.
"Kalau kau tidak mau seperti itu, kau harus menikah denganku." Enrique berhenti sejenak, lalu menatapku. Tengil banget!
"Masih aja membahas hal itu," sahutku kesal.
"Nggak rugi kok kalau kau menikah denganku. Aku bisa memberikan semua yang kau mau," tukas Enrique.
"Harta bukan jaminan kebahagiaan," debatku sinis.
Enrique menatapku lagi, memiringkan kepala. "Mau taruhan?"
Aku menyipitkan mata. Taruhan? Dia pasti menggunakan cara licik untuk memenangkan taruhan. Maka, dengan tegas aku bilang:
"Tidak!"
"Kau takut?" Senyuman sinisnya membuatku panas hati.
"Kau main curang. Aku tidak mau."
"Untuk apa?" jawab Enrique setelah menyuapkan dagingnya ke dalam mulut. "Gini aja, bagaimana kalau kau mencoba tinggal bersamaku. Aku punya sebuah rumah di pinggiran kota. Kau akan aman bersamaku."
Apa sih yang ada di dalam otaknya? Ngebet banget tinggal bersama denganku? Maaf, aku tidak tergoda. Dia pasti akan melakukan hal yang macam-macam denganku.
"Bagaimana?" tanya Enrique, memecah keheninganku.
Aku melirik, memangku dagu seakan sedang berpikir. "Kurasa tidak. Ini hanya akal-akalanmu saja, 'kan?"
Kalau dari ekspresinya, pria itu tampak kehabisan ide. Aku tak bisa menahan senyum, dan nafsu makanku kembali. Semoga saja, dia tidak menyelaku dengan ucapan yang membuatku kesal, sebelum sup krim ini kuhabiskan.
Makanan sudah habis, Enrique mengelap bibirnya. Pas sekali ponselnya berdering. Telingaku menegak, entah mengapa aku melirik ke arah ponselnya, pengin tahu.
"Halo? Ya? Bertemu?"
Siapa, ya? Tanpa sadar, perlahan aku mendekatkan telingaku ke arahnya. Sial! Enrique melirik, menangkap basah aku yang berusaha menguping.
Sontak, aku menjauhkan tubuhku, berpura-pura tidak tahu dan melirik ke arah lain. Dari ujung mataku, bisa dilihat kalau dia sedang tersenyum mencemooh. Ih, menyebalkan!
Baiklah, aku tidak peduli dia mau berbicara, ataupun bertemu dengan siapapun! Aku bergeming sambil menatap ke arah pemandangan di depan mataku yang terhalang oleh kaca jendela yang besar dan bening.
"Yuk, kita kembali ke kamar!" Ajak Enrique seraya beranjak dari kursi.
"Tunggu! Kau sudah pesan kamar?" tanyaku enggan beranjak.
"Sudah tadi. Kamar kita juga bersebelahan," sahut Enrique, lalu mulai lagi tersenyum jahil. "Apa kau takut aku meninggalkanmu? Tidak usah khawatir. Kalau kau takut, aku akan tidur di kamarmu."
"Dasar mupeng!" Aku berseru, mendorong wajahnya yang didekatkan ke wajahku. Lantas, aku beranjak dari kursi dengan wajah cemberut. "Ya, udah. Kita balik ke kamar!"
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
"Bosaaaaaaaaan!"
Tiduran, berguling, duduk, pergi ke teras, bahkan berendam di bak mandi sambil menikmati segelas anggur juga sudah. Tapi, tetap saja bosan.
"Enrique. Sedang apa dia?" Aku bergumam, lalu dengan konyolnya mendekatkan telingaku ke tembok, berharap mendengar sesuatu di kamar sebelah. "Tidak terdengar apa pun. Apa dia sedang membawa cewek lain ke kamar? Keterlaluan dia!"
Aku tertegun, menyadari ada yang salah dengan prilakuku ini. Eh! Harusnya, aku tidak peduli dia mau melakukan apa? Dia mau punya wanita yang lain, apa urusannya denganku?
Aku mendengus, mengalihkan pandangan yang ada di luar jendela. Pikirku, tidak ada salahnya jalan-jalan ke pantai, lalu melihat sunset yang terjadi sekitar 2 jam lagi. Tapi, aku hanya ingin sendirian, tidak mau diganggu oleh pria itu.
Lantas, aku membuka pintu, mengeluarkan kepalaku sedikit untuk memantau kamar Enrique.
"Aman," bisikku. "Pintunya masih tertutup.
Perlahan, aku keluar kamar dan menguncinya, melewati kamar Enrique tanpa bersuara. Setelah lenyap di ujung lorong, aku langsung berlari keluar resort menuju daratan berpasir tanpa memakai sendal.
"Sepi, tenang, dan damai," gumamku, duduk seraya menjulurkan kaki di atas pasir.
Kenanganku akan berlibur ke pantai terlintas dalam benak. Saat itu, aku masih kecil, mama kandungku masih hidup. Meski ingatan itu sudah tak tersisa, setidaknya papa mengabadikan momen itu dalam sebuah foto dan cerita yang papa lisankan.
Tuh, 'kan, air mataku mengalir setiap mengenang mama. Aku menengadah ke langit seakan ingin mengadu pada mama yang telah tenang di alam sana.
"Ma, aku— hmp!"
Pandanganku jadi gelap karena seseorang menutup kepalaku dengan sesuatu dari belakang.
"Lepaskan aku!" jeritku, saat tangan seseorang mengikat tangan dan kakiku, lalu menggendongku di pundak seseorang.
"Kalian siapa? Aku mau dibawa ke mana?"
Aku terus meronta dan menjerit. Lalu, aku merasakan tubuhku dihempaskan dengan kasar ke suatu tempat yang sempit. Entah mengapa, udara di sekitar jadi pengap, ruang gerakku terbatas, lalu terdengar suara deru mobil dibunyikan.
Siapa lagi yang menculikku sekarang? Mama, aku takut.[]