Entah apa yang terjadi, aku ketiduran dan tahu-tahu sudah ada di sebuah tempat bercahaya remang yang hanya ada satu lampu di atas kepalaku.
Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan tangan dan kakiku terkekang. Mataku langsung mendelik, lalu melihat diriku yang sedang duduk dengan posisi terikat. Lantas, aku panik, melihat ke segala arah dengan ketakutan. Terlebih, ketika mendengar derit pintu yang terbuka.
Waswas, aku melihat ke arah pintu, menanti seseorang yang muncul dari sana. Wajahku memucat kala sosok itu mendekat dengan seringai yang membuat bulu kudukku merinding.
Pria berwajah seram, dengan codet di pipinya. Dia didampingi oleh dua pria di samping kanan dan kirinya. Jantungku berdebar sangat kencang. Posisiku seperti rusa yang tak berdaya di depan para singa-singa lapar.
"Siapa kalian? Kenapa menangkap saya?" tanyaku gemetar.
Pria codet itu mendekat, jari telunjuk kotornya menyentuh daguku sambil tersenyum. "Jangan takut, Cantik. Kami hanya menahanmu di sini. Tapi, kalau kamu mau bermain sama kami, boleh juga. Anggap saja sebagai bonus."
Aku terhenyak, sementara ketiga pria itu tertawa melihat ketidakberdayaanku. Ya, Tuhan. Kenapa aku diciptakan sebagai gadis yang lemah gini?
"Lepaskan saya!" jeritku.
"Melepaskan kamu?" cemooh pria codet itu, yang diiringi oleh tawa anak buahnya. "Mana mungkin. Bos kami tidak akan mengijinkannya, sampai dia memerintahkan kami untuk membawamu pergi."
Bos? Aku mengernyit. "Siapa yang memerintahkan kalian?"
Salah satu anak buahnya berbisik, tapi terdengar samar ucapannya seperti ini: "Ih, si bos! Kok pake dibilangin segala sih? Kita jawab apa atuh?"
Pria codet itu menimpalinya dengan bisikan yang cukup kencang sambil melirikku. "Ya, keceplosan. Lagipula ..," Dia mendeham membusungkan badan dan memperlihatkan wajah sangar sambil berkacak pinggang, "siapa bosnya di sini? Anak buah mesti nurut atuh. Bos itu tidak pernah salah."
Aneh. Aku tercengang melihat komplotan ini. Entah, siapa yang menyewa orang-orang ini?
"Jadi, kita apain ini ceweknya, Bos?" tanya anak buah yang satunya.
Pria codet itu mengeluarkan dompet, lalu mengambil uang seratus ribuan. "Beliin dia nasi padang! Terus, beli air minum dingin, kacang, jajanan buat kita berempat."
"Empat?" tanya si anak buah yang diberi uang itu, heran. "Kok empat, Bos? Buat siapa satu lagi?"
Aku terhenyak karena tiba-tiba beradu tatap dengan pria codet itu. Nyaliku langsung menciut, memalingkan wajah ke arah lain.
"Ya, buat neng geulis atuh. Bu Lidya kasih kita uang untuk ngurusin dia—ups!"
Pria itu terhenyak dan spontan menutup mulutnya yang keceplosan. Aku melongo dan menoleh pada ketiga pria itu. Yang aku dengar tadi ... Lidya, 'kan? Ibu tiriku?
Kenapa? Kenapa ibu tiriku mengirim mereka untuk menculikku? Bukannya kami sudah sepakat untuk membiarkanku pergi besok ke luar Jakarta? Tidak sabarkah dia ingin menjauhiku dari keluargaku?
"Pak, bisa pinjam ponselnya? Saya ingin bicara dengan ibu Lidya," pintaku memohon.
Mereka bertiga saling berpandangan dengan ragu. Lalu, pria codet itu bertanya sambil memperlihatkan wajah sangarnya. "Tidak boleh!"
"Ayolah, Pak. Please. Saya ada perlu sama ibu Lidya." Aku masih berusaha sambil memelas, dan aku rasa mereka cukup ragu untuk menolakku.
"Sebentar, ya, Neng," kata pria codet, setelah berunding dengan kedua temannya.
Akhirnya! Aku tersenyum lega. Semoga saja, mama Lidya mau bicara denganku walau sebentar. Kalau dia mau menyingkirkanku, nggak seharusnya begini, 'kan?
Mereka bertiga kembali ke dalam ruangan itu, aku menegak, bersiap mendengarkan. Namun, rasa semangatku surut saat melihat wajah muram mereka. Apa harapanku tak terkabul?
"Maaf, ya, Neng, bu Lidya nggak mau bicara sama kamu," kata anak buah si codet dengan wajah memelasnya.
Ah, baiklah, aku harus cari cara lain. Meskipun gagal, aku masih mengucapkan rasa terima kasihku pada preman baik hati itu. Sekarang, aku harus memikirkan sebuah rencana.
"Maaf, Mas. Apa saya boleh minta makan? Saya lapar banget," kataku.
Si codet menyuruh salah satu anak buahnya untuk membeli makanan dan minuman. Lalu, dia dan anak buahnya yang lain keluar dari ruangan.
Pintu tertutup, aku langsung mengedarkan pandanganku. Sial! Tempat ini tidak ada jendela. Jalan keluar hanya ada di pintu itu saja. Tapi, bagaimana bisa keluar dari sini kalau tangan dan kaki terikat? Ck!
"Enrique ...," lirihku putus asa.
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Mata Enrique mendelik tiba-tiba, tidak disangka bisa ketiduran sampai sore menjelang. Ia melirik ke arah jendela yang menampilan langit senja, lalu pandangannya beralih ke jam yang ada di layar ponsel.
"Pukul setengah enam," gumamnya, lalu beranjak dari ranjang sambil menguap.
Alih-alih ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia malah ke kamar Deirdre. Pintu itu diketuk 3 kali sambil berseru, "Gadis kepala udang! Buka pintunya!"
Tak ada sahutan, aneh sekali. Enrique mengernyit, pikiran negatif mulai muncul.
"Dei! Deirdre!" teriaknya, sama kerasnya dengan ketukan pintu. "Dei! Apa kau mencoba kabur dariku, heh?" gumamnya kesal.
Ponselnya dikeluarkan dari saku, mengetik cepat, lalu mendekatkan ponsel ke telinga. Ia mencoba menghubungi nomer gadis itu. Tapi sayangnya, tidak diangkat meskipun nomernya aktif.
"Ke mana dia?" decaknya geram. "Dia benaran kabur? Atau sengaja menghindariku?"
Enrique menghubungi customer service resort ini untuk membawakan kunci cadangan, dan juga mengirimkan rekaman CCTV di sekitar hotel.
Ia berhasil mendapatkan kunci, lalu membuka pintu kamar yang ditempati oleh Deirdre. Langsung, ia melangkah masuk kamar, mencari gadis itu di manapun, sekalipun harus menggeledah kamar mandi.
"Tidak ada," gumam pria itu.
Tak beberapa lama kemudian, seorang pria berseragam pelayan datang, membawakan laptop dan flashdisk rekaman CCTV lima jam sebelumnya. Enrique duduk di atas ranjang, pria itu berdiri di sampingnya untuk mendampingi.
Tak ada yang berarti pada jam kelima dan keempat. Namun, tepat pada jam ketiga, muncul rekaman Deirdre tengah keluar kamar dan resort. Deirdre sempat berhenti di depan pintu masuk resort, sebelum rekaman itu menunjukkan Deirdre pergi ke arah kanan.
"Dia menuju pantai sepertinya, Pak," kata pria di sebelahnya.
Enrique bisa melihat hal itu, dan mengangguk. "Cepat, kerahkan banyak orang untuk melakukan pencarian di sekitar pantai!"
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Aku memakan nasi padang yang mereka belikan sambil mencuri pandang pada mereka. Makanan itu terpaksa aku santap agar bisa mencari alasan. Akan tetapi, jangankan alasan, ide saja tidak ada! Tuhan, tolong bantu aku dong!
Ini bukan rencanaku lho. Aku tiba-tiba tersedak hingga memuntahkan makanan yang sedang aku kunyah.
"Kenapa, Neng?" tanya si codet, tercengang.
Aku hendak mengangkat tangan kananku, tapi dalam otakku tiba-tiba muncul sebuah ide.
"Kayakya, saya mual deh, Bang," kataku, lalu menutup mulut dengan tangaku. "Hueeeek! Bang, boleh, ya, saya ke kamar mandi? Nggak tahan mau ... Huek!"
Ketiga orang itu bingung, mereka tidak mau kalau perempuan itu muntah di sana.
"Ya, udah, Bos. Saya anterin dia ke kamar mandi. Daripada dia muntah di sini," saran seorang pria bertopi merah, yang disetujui oleh temannya.
"Ya, udah. Bawa sana!"
Yes! Aku yang sedang membungkuk, diam-diam melengkungkan senyum. Semoga, ada jendela kecil di kamar mandi itu, supaya aku bisa kabur.
Pria itu membawaku ke sana. Aku langsung mengunci pintu, melihat-lihat ke atas. Tapi tak sesuai ekpektasi. Harusnya, aku sadar bahwa ini dunia nyata, kamar mandi ini tidak punya jendela seperti di film-film.
"Huft! Harusnya aku mengurangi nonton film," gerutuku pelan sambil berkacak pinggang. "Sia-sia saja kalau kayak gini!"
Pintu kamar mandi diketuk dari luar. Pria yang mengantarkan tadi berseru, "Neng, kok lama banget? Udah belum?"
Ck! Sial! Gagal sudah rencanaku! Sepertinya, aku menyerah saja.
"Iya, Mas. Sebentar lagi!" sahutku.
Pria itu terpaksa menunggu. Pintu terbuka tak lama kemudian, aku tersenyum pada pria itu.
"Yuk, Neng!" katanya sembari berbalik.
Dan di saat itu, aku mengeluarkan penutup kepala toilet yang kusembunyikan di belakang punggungku. Ini kesempatanku! Aku harap, aku berhasil memukul kepalanya dengan benda ini.
Dalam hitungan ketiga yang aku ucapkan dalam hati, kuayunkan benda itu dengan kedua tanganku ke arah kepala belakang pria itu. Hening sejenak, pria itu berhenti bergerak, lalu perlahan berbalik ke arahku.
Wajahku memucat. Bagaimana ini? Rencanaku tak berhasil. Pria ini punya ilmu apa sampai terlihat baik-baik saja setelah dihantam oleh benda sekeras itu?
Aku beringsut mundur dengan tubuh gemetar. Pria itu tak bergeming, malah menutup matanya, lalu perlahan tubuhnya ambruk.
Tentu saja aku tercengang sejenak, lalu bersorak girang dalam hati karena berhasil memukul pria itu sampai pingsan. Tanpa buang waktu, aku berlari keluar dari pondok reot ini.[]