"Ini di mana lagi?" gumam Deirdre sambil melihat-lihat ke segala arah jalanan yang sepi.
Kaki pegal, betis mungkin bertambah ukurannya karena sudah cukup jauh berlari tanpa tujuan. Mana jalanan gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan.
"Sudah pukul 7 malam." Deirdre melirik arlojinya, menurunkan tangannya yang lemas. Lalu, ia melirik ke kanan dan kiri jalan ini, berteriak kesal dan putus asa. "Nggak ada kendaraan apa?"
Ia menghela napas, percuma berteriak. Siapa yang mau dengar? Setan? Atau ilalang yang tumbuh di samping jalan? Lebih baik jalan lagi, siapa tahu ada kendaraan yang lewat gitu.
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Tamparan keras mendarat ke pipi ketiga preman yang menculik Deirdre. Mata Lidya melotot, lalu memaki, "Kalian semua nggak becus! Ngurusin bocah kayak dia nggak bisa?"
Pria codet mengangkat wajahnya sedikit karena takut. "Maaf, Bu. Kita tidak menyangka kalau si neng Deirdre pintar banget."
Lidya meradang, mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya, lalu melemparkannya ke bawah. "Saya tidak akan pakai jasa orang-orang bodoh macam kalian!"
Setelah itu, Lidya berbalik dan pergi meninggalkan ketiga para preman yang sedang berebut menerima hasil bagiannya. Lidya kesal setengah mati, ia berhenti di depan pintu mengepalkan tangannya kuat.
"Di mana dia sekarang? Apa perlu aku mencarinya?" Senyum sinis terkembang pada bibir tipisnya. "Biar saja. Bagus sekali kalau dia sampai tersesat. Kalau perlu, mati di jalan sekalian."
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Deirdre mendekap tubuhnya, tiba-tiba merasa merinding. Angin malam cukup kencang berembus, tetapi bukan hal itu yang membuat bulu romanya meremang. Entahlah, filling-nya jadi merasa tidak enak.
Srek
Langkahnya terhenti, matanya sontak mendelik. Suara rerumputan bergesekan dengan sesuatu terdengar di belakangnya. Ngeri, Deirdre mencoba menoleh ke arah suara itu berasal.
Tidak ada siapa-siapa. Ia juga melihat ke sekelilingnya, hanya dirinya yang ada di sana. Ia menghela napas, memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.
"Tenang, mungkin hanya tikus, bukan penculik," gumamnya, kemudian ia membuka matanya kembali dan melangkahkan kakinya lagi. "Aku harus cari rumah penduduk di sekitar sini."
Kengerian merayap, ia jadi paranoid, melirik ke kanan dan kiri dengan waspada. Semakin tak tenang, semakin cepat laju jalannya, lalu ia berlari ketakutan.
Saat itu, suara gemericik ilalang semakin keras, lalu suara langkah kaki sedang berlari terdengar di belakangnya.
"Ada seseorang! Ada seseorang!" jerit Deirdre di dalam hati, tak berani menoleh ke belakang, terus saja berlari sekuat yang ia bisa.
Tapi, ia tak mampu mengimbangi kaki lari seseorang di belakangnya. Ia mampu terkejar, sebentar lagi tangan orang itu menggapai tangannya.
Deirdre semakin panik. "Jangaaaaaan! Siapa kamuuuuuu!" jeritnya.
Tidak! Seseorang menggapai tangannya, menariknya dalam dekapan, lalu membekap mulutnya. Ia berusaha berontak meski gemetar ketakutan. Namun, apa daya, tangan kekar dan berkulit legam itu mampu menyeretnya ke tengah-tengah ilalang yang tinggi.
Tubuh Deirdre dihempaskan di atas rumput, dan pria itu berlutut di atasnya. Deirdre mendelik, pria gondrong itu menyeringai seram seakan mendapat sebuah mangsa yang istimewa. Kedua tangan pria itu menyergap tangan Deirdre, mendekati wajahnya untuk menciumnya.
"Tidaaaak! Jangaaaan!" teriak Deirdre sembari menggeleng untuk menghindari kecupan pria itu.
Di dalam hati, Deirdre bergumam putus asa, "Tuhan, tolong saya! Cabut nyawa saya daripada diperlakukan seperti ini ... Ah tidak! Atau tolong kirimkan saya seseorang untuk membantu saya. Kumohon...."
Doanya tak terkabul, ia hanya pasrah. Tenaganya sudah hampir habis. Ia memejamkan matanya dengan erat, membiarkan pria asing itu melakukan apa pun yang diinginkan.
Namun, tak ada reaksi apa pun. Pria itu tak melakukan apa pun padanya, hanya terdengar suara teriakan. Mata kanannya dibuka, melihat apa yang terjadi. Lalu, ia membelalakkan kedua matanya, terkejut menemukan Enrique sedang memukul pria yang berusaha memperkosanya.
Perlahan, ia terduduk menonton perkelahian itu. Pria asing itu tak membalas semua pukulan Enrique, hingga akhirnya dia merentangkan kedua tangannya.
"Ampun, Mas. Jangan pukul saya lagi," mohonnya, lalu berlutut.
Deirdre juga merasa kasihan melihat pria itu sudah bonyok begitu mukanya. "Erik, lepaskan dia! Udah cukup kau pukul dia."
Enrique menoleh padanya, menaikkan alisnya sebelah. "Erik? Enak saja kau panggil aku begitu. Namaku itu Enriq—"
"Ya, aku tahu!" sahut Deirdre tak mau mendengar ucapan lepaskan dia!"
Enrique berdiri sambil menatap bengis pada pria itu. "Pacarku itu sangat baik, kau tahu? Kau bakal habis kalau dia tidak memberi pengampunan padamu!"
Pria itu manggut-manggut, memutar sedikit tubuhnya ke arah Deirdre. "Maaf, ya, Neng."
"Iya, Mas," timpal gadis itu, tersenyum getir.
Lantas, pria itu beranjak, berlari terbirit-b***t meninggalkan tempat itu. Enrique mengalihkan pandangan, menghampiri Deirdre yang sedang menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya. Pakaiannya dirobek oleh pria gila tadi.
Enrique jongkok di depannya, lalu membuka jas biru tua yang dipakainya. "Makanya, kalau pergi ke mana-mana jangan sendirian," gumamnya sambil memasangkan jas itu ke tubuh Deirdre.
Gadis itu tertegun, lalu menatap Enrique dengan terpana. Hatinya terasa hangat seketika, merasakan sebuah perhatian yang sudah lama tidak dirasakan dari seorang pria.
Tangan Enrique diletakkan di pipi Deirdre, ibu jarinya mengelus lembut. "Kau milikku. Aku tidak rela jika ada yang menyentuhmu. Aku mengerti?"
Milikku? Benarkah dia tulus? Atau hanya untuk meluluhkan hati Deirdre saja? Ia tahu, itu hanya trik seorang pria yang ingin mempermainkan wanita.
"Milikku? Siapa yang bilang?" protesnya.
Enrique hanya tersenyum, lalu menggendong tubuh Deirdre tanpa persetujuan gadis itu.
"Turunkan aku!"
"Cerewet!" tegur Enrique, tak peduli, tetap menggendong gadis itu sampai ke tempat mobilnya terparkir.
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Karena ketiduran di saat perjalanan, Deirdre tidak tahu dibawa ke mana oleh Enrique. Makanya, ia bingung ketika terbangun di ruangan yang asing.
"Ini di mana? Perasaan kamar resort nggak sebegini besarnya?" gumamnya seraya menggaruk kepala. "Eh, kaget aku!"
Deirdre sontak menoleh pada pintu yang diketuk dari luar. Suara seruan seorang wanita terdengar kemudian.
"Saya pelayan. Boleh saya masuk?"
Pelayan? "Ah, iya!" sahut Deirdre setelah tercengang sesaat.
Ia pikir, akan ada satu pelayan berusia paruh baya itu saja yang masuk, dua pelayan muda ikut serta di belakangnya, membawa satu rak besi pajangan gaun dengan berbagai model.
Deirdre terngaga melihatnya. Mungkinkah ini ulah tuan muda m***m itu?
Pelayan paling senior maju ke depan, memberikan sebuah handuk kecil dan piyama mandi. "Silahkan bersihkan badan Anda, lalu pilih gaun yang Anda suka."
"Oh, oke," jawab Deirdre, masih tercengang. Si pelayan itu akan pergi, tetapi ia buru-buru memanggilnya. "Tunggu! boleh saya tahu ini di mana?"
Wanita paruh baya itu melengkungkan senyum sopan. "Ini adalah kediaman pribadi milik Tuan Muda Enrique."
Deirdre membelalakkan mata. "Ha? Rumahnya Tuan Muda me— eh, maksud saya, Tuan Muda Enrique?"[]