Di rumahnya? Deirdre tidak menyangka akan berada di tempat ini. Ia mendengus. Jangan-jangan, Enrique benar-benar ingin menjadikannya sebagai mainannya?
Deirdre menatap bayangannya di depan cermin yang ada di meja hias. Ia telah mandi dan memakai gaun berwarna kuning yang memperlihatkan bahunya.
"Aku harus keluar dari sini," gumamnya, memperhatikan sebuah lipstick yang diambilnya dari meja. "Em ... Lipstick mahal."
Ia melirik jajaran gaun yang dibawa pelayan tadi. Pria itu pandai memanjakan seorang wanita. Bisa ditebak, dia pasti playboy kelas kakap. Untuk membuat seorang wanita bertekuk lutut, dia akan menjeratnya dengan barang-barang ini. Pintar sekali!
Pintu diketuk, seruan kepala pelayan terdengar. "Nona, Tuan Muda sudah menunggu Anda untuk sarapan bersama."
Deirdre menghela napas kencang. "Baik, saya akan segera menyusul!"
Ia beranjak keluar. Ia terhenyak ketika melihat pelayan tua itu berada di depan pintu sejak tadi. Apa Enrique yang memintanya untuk mengawasinya? Cis! Pria itu sudah selangkah lebih maju darinya. Tahu saja kalau di dalam pikiran Deirdre terbesit niat untuk kabur dari Enrique.
"Mari, Nona." Pelayan itu agak membungkuk, mempersilakan Deirdre untuk jalan duluan.
Deirdre hanya menggerutu sepanjang jalan, kadang melirik ke belakang karena merasa tak nyaman dibuntuti seperti ini. Beberapa langkah lagi, mereka sampai di ruang makan. Dari jauh, ia melihat Enrique dengan tenangnya menyantap sarapannya.
Menyadari kehadirannya, Enrique tersenyum. "Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya.
Deirdre menyipitkan mata, merutuk di dalam hati sambil duduk di salah kursi yang berseberangan dengan Enrique. "Kualitas tidur saya sangat baik jika Anda tidak mengganggu."
"Oh, benarkah? Kalau begitu, aku akan mengganggumu malam ini," katanya, tersenyum jahil.
Bukan hanya telinganya, hatinya sangat panas mendengarnya. Deirdre mendesis sambil meraih segelas s**u. Sepiring omelet keju dihidangkan oleh pelayan tua itu di hadapannya.
"Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka," ujar Enrique, setelah melirik Deirdre sejenak. "Sebutkan saja menu makanan favoritmu pada pelayan."
"Tidak perlu," ketus Deirdre, memotong omelet. "Aku tidak akan selamanya tinggal di sini kok."
"Siapa bilang? Kau tidak boleh ke manapun. Asal kau tahu, hanya kau wanita satu-satunya yang aku perbolehkan masuk ke rumah ini," sahut Enrique.
Deirdre sempat percaya awalnya, tapi kemudian mencemooh di dalam hati. "Memangnya, siapa yang mau dibodohi? Aku tidak senaif itu, Tuan Muda!"
"Deirdre." Enrique meletakkan pisau dan garpunya di atas piring, menjalin jemarinya di depan dadanya, lalu menatap wanita yang juga sedang melirik padanya. "Aku membawa wanita pilihanku, agar kelak dia yang menjadi nyonya besar di sini."
Serius? Mata Deirdre sampai membulat karena dengan mudahnya terpana dengan ucapan yang membuai itu. Nyonya besar? Istrinya maksudnya? Apa Enrique sedang melamarnya secara tidak langsung.
Deirdre tiba-tiba tersentak. Pria itu pasti sedang bergurau.
"Terus, apa hubungannya denganku," tanyanya acuh tak acuh, mengalihkan pandangan pada omelet yang sedang dipotongnya.
Apa yang lucu? Enrique menertawakannya?
"Deirdre, IQ-mu pasti sangat rendah." Pria itu memalingkan wajah, bergumam kecil, "Masa masih tidak mengerti juga?"
"APA?!" seru Deirdre dengan mata melotot marah. "IQ rendah? Setidaknya aku lebih baik daripada kau yang otaknya dipenuhi oleh pikiran kotor!"
Alih-alih marah, Enrique justru tertawa keras. Sarapannya tidak dihabiskan, ia mengelap mulutnya setelah itu. "Deirdre, ingat! Kau tidak boleh ke manapun tanpa izinku."
Enrique beranjak dari tempat duduknya, mengambil ponsel yang yang ada di meja, lalu menghampiri gadis yang wajahnya merenggut, enggan menatap pria itu.
Terserahlah, suka tidak suka, Enrique tetap akan melakukan apa pun yang diinginkannya, termasuk mencium kening gadis itu. Deirdre tertegun dengan mata membulat.
"Aku pergi dulu, ya," kata Enrique, lalu pergi meninggalkan Deirdre yang masih membeku di sana.
Pria itu, seriuskah ingin menjadikannya sebagai istri? Perlakuan lembut ini, apa dia punya rasa untuknya? Atau mungkin cuma permainan kata-kata untuk menariknya dalam perangkapnya.
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
"Ke mana, Deirdre?" decak Ciara sehabis keluar dari gedung apartemen tempat adiknya tinggal.
Namun, beberapa saat ia berdiri depan pintu apartemen Deirdre, tidak ada sahutan dan pintu tidak terbuka. Ia juga menelepon nomer adiknya, tetapi tidak aktif.
Ciara kembali ke mobilnya dengan kesal. "Pak, pergi ke alamat ini!" perintahnya sambil memberikan selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat rumah.
"Baik, Nyonya," sahut si sopir, lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukannya keluar dari area apartemen.
ꨄ︎ꨄ︎ꨄ︎
Setelah sarapan, Deirdre kembali ke kamar, duduk di dekat ranjang sambil menunggu ponselnya yang sedang di-charge. Ia beranjak, berdiri di dekat jendela, memandangi kebun samping yang begitu luas dan dipenuhi oleh tanaman.
Ia tersenyum, tertarik pada pemandangan cantik. "Apa cowok itu sengaja menempatkanku di kamar ini? Trik yang bagus. Tahu aja kalau cewek suka sama pemandangan cantik kayak gini."
Jadi pengin ke sana. Ia berpikir untuk keluar dari kamar ini dan sekadar jalan-jalan ke taman itu untuk mengusir kebosanan. Lantas, ia membuka pintu, terkejut menemukan kepala pelayan di depan pintu.
"Kaget aku!" serunya, mengelus d**a. "Bibi? Sedang apa di depan kamar saya?"
"Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan Anda," jawab Deirdre begitu kaku seperti robot. "Saya hanya menjalankan tugas untuk terus mengawasi Anda."
Deirdre mengumpat dalam hati. "Memangnya, aku tahanan apa pake diawasi segala?"
"Nona mau ke mana?" tanya pelayan itu kemudian.
"Saya mau jalan-jalan di sekitar taman," ujar Deirdre polos. "Bosan di dalam kamar terus."
Pelayan itu merentangkan tangan kanannya sambil beringsut minggir. "Silakan, Nona."
Deirdre mengangguk, berjalan kikuk melewati wanita itu. Dan yang benar saja, pelayan itu berjalan mengikutinya! Padahal, ia ingin berjalan sendirian dengan tenang. Lagipula, ia juga tidak akan kabur.
Tak nyaman kalau begini, walaupun ia terus berjalan sambil memejamkan mata—menahan rasa jengkelnya. Cukup! Ia sudah tidak tahan. Saat memasuki taman, ia berhenti, lalu berbalik menghadap wanita itu.
"Bi, saya ingin jalan-jalan sendirian. Bibi tidak usah mengikuti saya," katanya tegas dengan geram tertahan.
"Tapi, Nona—"
"Maaf, saya mengerti posisi Anda," potong Deirdre gemas. "Tapi saya jamin, saya tidak akan kabur. Demi Tuhan."
Melihat kesungguhan Deirdre, pelayan berekspresi datar itu berpikir matang-matang sebelum memutuskan. Senyum tipis wanita itu terkembang.
"Baiklah, Nona. Saya permisi," katanya, kemudian menunduk sedikit sebelum pergi meninggalkannya sendirian.
"Akhirnya," gumam Deirdre, tersenyum girang.
Ia memulai langkah dengan menghampiri taman bunga mawar yang tumbuh dengan bermacam-macam warna. Disentuhnya kelopak bunga itu, begitu senangnya ia mencium aroma bunga yang segar sehabis disiram.
Pandangannya teralihkan pada air mancur yang tak jauh dari tempat itu. Ia berjalan di atas jalan setapak menuju kolam. Dipandanginya patung cupid yang disirami oleh sinar matahari.
"Bagus banget!" gumamnya terpana.
Deirdre duduk di tepi kolam, melihat ikan-ikan sedang berenang di dalam air yang jernih. Jemarinya menyentuh air itu.
Puas berjalan-jalan di sekitar taman, tanpa diketahui, ia telah sampai di samping rumah. Ia tertegun, lalu mengernyit melihat seorang wanita sedang berjalan mendekati rumah bercat putih ini.
Bergegas ia menghampiri tembok dan bersembunyi sambil memperhatikan lamat-lamat wajah wanita itu. "Hah? Itu bukannya kak Ciara?" gumamnya dengan suara kecil, tercengang. "Sedang apa dia di sini?"[]