Kata-kata Tania terngiang-ngiang di kepala Ciara. Gadis itu termenung di depan piano, dengan jemari masih berada di atas tutsnya. "Benarkah di dalam rumah itu tersimpan rahasia? Mungkin saja pacar simpanan Enrique?" gumamnya dalam hati, ternyata semudah itu ia terpengaruh oleh ucapan logis Tania. Satu tuts piano ditekannya, tapi kemudian ia tertegun. "Kalau memang ada perempuan lain di sana, kenapa kak Tania dan tante Grace boleh masuk ke sana? Pasti ada alasan lain, mengapa Enrique membuat peraturan itu," gumamnya. Papanya berjalan masuk ke ruang baca sambil tersenyum, menghampiri anak pertamanya itu. Kedua tangannya diletakkan di kedua bahunya, membuat Ciara terkesiap dan langsung menoleh. "Eh, Papa?" serunya pelan, lalu tersenyum. "Kok ngomong sendirian gitu?" tanya pria yang bern

