Langit sore itu menggantung mendung kelabu. Angin membawa aroma tanah basah, seolah-olah tahu ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar hujan yang akan turun. Di dalam rumah, suara napas Kusnul terdengar berat, diselingi batuk panjang yang menyayat hati. Suara batuk keras menggema di ruang tamu kecil itu. Kusnul tiba-tiba memegangi dadanya, tubuhnya terhuyung. Di saat kepanikan tersebut, pintu rumah diketuk. Seolah-olah takdir mengatur waktunya. “Assalamualaikum. Bu Kusnul, ini saya Sam!” pekik Sam karena pintu tidak kunjung terbuka. Kusnul ingin berteriak mempersilakan masuk, tetapi suaranya tertinggal di tenggorokan. Jangankan berteriak, bernapas saja rasanya setengah mati. “Bu!” teriak Sam lagi. Sam mengintip dari jendela karena tidak ada sahutan. Ketika itulah, ia mendapati K

