“Ayah!” “Ayah bangun!” seru Ray sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang Ayah. “AYAH BANGUNNNN!” Ansell sontak membuka kelopak matanya ketika mendengar teriakan Ray yang membuatnya terbangun dari tidur. Rayyan sendiri tersenyum lebar ketika melihat sang Ayah bangun, ia berhasil. “Kok Ray yang bangunin Ayah?” tanya Ansell pada Ray sambil mengucek kelopak matanya. Adiknya—atau tepatnya anaknya sekarang itu mengerucutkan bibirnya tanda tak terima. “Emang kenapa kalo Ray yang bangunin?” tanyanya tak terima, padahal harusnya Ayahnya itu berterima kasih. “Soalnya kalo Bunda yang bangunin pake suara lembut terus bisa dapat bonus ciuman.” “Bunda mana mau cium Ayah yang bau iler!” seru Rayyan membuat Ansell menendengus. “Bunda ke mana? Pasar?” tanya Ansell turun dari kasur, merenggangkan tubu

