Di dalam kamar ini aku nggak bisa duduk diam, menunggu hingga om Hamka atau Daffi meneleponku. Tiga jam sudah berlalu semenjak dua orang yang telah berhasil mengaduk-aduk isi hatiku pergi meninggalkanku. Yang berarti tiga jam penuh dengan kekhawatiran dan mondar-mandir nggak jelas hingga membuat telapak kakiku hampir mati rasa. Ketika yakin aku sebentar lagi akan gila kalau harus menunggu semenit lagi, ponselku berdering dan nama om Hamka berkedip-kedip di layar. "Om, baik-baik aja?" tanyaku penuh rasa khawatir. "Iya, om baik-baik aja. Kamu gimana? Sudah merasa enakan?" Aku bisa mendengar suara desah napas penuh keresahan om Hamka di speaker ponselku. "Apa om marah sama aku, sampai pergi nggak sempat pamit dan bersalaman dengan aku?" "Nggak. Buat apa om marah? Itu pilihan hidup kamu. K

