16. Pertemuan Pertama

1250 Words
Ratu Amarawati mendengar kabar kalau Baginda Raja akan mengumpulkan Ratu dan para Selirnya. Ratu mengunjungi puri kediaman Baginda Raja dan memohon untuk bertemu dengan Sang Raja.  Naya sang abdi, menghadap Baginda Raja.  “Baginda Raja, ada Ratu Amarawati di depan. Apakah Baginda ingin menemui Beliau?” tanya Naya.  Arya yang sedang sibuk membaca buku-buku dari para pujangga memandang Naya sepintas.  “Aku tidak mau bertemu Ratu sekarang, Naya! Apa dia tidak bisa menunggu siang nanti saja??”  “Mungkin Ratu hanya ingin menanyakan alasan Baginda Raja mengumpulkan Ratu dan semua Selir.”  “Jawabanku tetap tidak, Naya! Suruh dia menunggu siang nanti. Aku akan menjelaskan semuanya saat di Balairung!”  “Baik, Baginda Raja!” jawab Naya.  Naya berjalan keluar dari kamar Arya, kemudian menemui Ratu Amarawati.  “Mohon maaf, Gusti Ratu, Baginda Raja tidak bersedia menemui Anda,” jelas Naya.  “Apa?? Kamu tidak menjelaskan bahwa aku ingin tahu alasan Baginda Raja mengumpulkan kami semua?!” Ratu Amarawati terlihat sangat marah pada Naya.  “Sudah, Gusti Ratu. Baginda Raja tetap tidak ingin menemui Anda.” Ratu Amarawati mengibaskan selendangnya lalu pergi meninggalkan Naya dengan penuh kemarahan. Naya kembali menemui Baginda Raja. “Biasanya Anda akan menyambut Ratu dengan senang hati, Baginda. Tapi hari ini tidak…” “Aku tidak mau terpengaruh, Naya! Aku ingin melihat mereka berdasarkan cara pandangku. Bukan cara pandang Bhre Kertabhumi. Kalau Amarawati benar-benar mencintai Bhre Kertabhumi, kenapa Sang Ratu tidak turut serta mendampingi Raja hingga ke pamoksan?” batin Arya. Naya membantu Sang Prabu memakai pakaian kebesarannya. Raja tampak sangat gagah dan tampan. Rombongan raja menuju ke balairung. Di barisan paling depan ada dua orang punggawa raja, di susul oleh raja, di belakang raja ada Naya kemudian para pelayan berbaris dua-dua di belakang Naya. Arya berjalan dengan pandangan mata lurus ke depan, Arya tidak mau memandang Ratu dan para Selirnya. Arya duduk di singgasana yang berlapis emas. Ratu dan para Selir berusaha menarik perhatian Sang Prabu. Hari ini mereka bersolek secantik mungkin, memakai kain sutra terbaik, bibir mereka merah menyala, bedak tebal menempel di wajah Ratu dan para Selir. Hiasan rambut dan segala perhiasan menempel di leher, telinga, jari, tangan, dan kaki mereka. “Apakah sudah semua?” tanya Arya pada Naya. Naya mengeluarkan catatan nama Ratu dan para Selir yang semuanya itu memang tercatat dengan rapi. Arya meminta Naya memanggil satu per satu nama mereka dan menyuruh mereka untuk berdiri saat dipanggil namanya supaya Arya bisa mengenali mereka satu per satu. “Gusti Putri Selir Dyah Ayu Pandhan Wangi!” Naya memanggil Selir Wangi. Arya melihat tidak ada seorang pun yang berdiri saat nama itu disebutkan. Arya menoleh ke kanan dan ke kiri. “Naya, panggil yang lainnya dulu!” pinta Arya. “Baik, Baginda!” Naya melanjutkan memanggil satu per satu para selir. Akhirnya, Naya kembali memanggil Selir yang tidak menjawab panggilannya. “Gusti Putri Selir Wangi!” teriak Naya. “Dia tidak ada?” tanya Baginda Raja. “Di mana Selir Wangi, Kepala Emban Keputren? Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk mengumumkan ini pada semua Selir dan embannya?” Kepala Emban Keputren dan Sang Ratu sangat ketakutan. Ratu Amarawati telah melarang kepala emban keputren untuk memberi tahu Selir Wangi bahwa akan ada pertemuan di balairung istana. “Jawab aku, Kepala Emban Keputren!” Naya berteriak. “Hamba mohon ampun, Baginda Raja! Hamba pantas mati di tangan Baginda Raja!” Kepala Emban Keputren berlutut menyembah pada Sang Prabu. “Ada apa ini??” tanya Arya, “kenapa kamu ingin mati di tanganku?” “Hamba tidak memberitahu Gusti Putri Selir Wangi dan juga embannya kalau siang ini ada pertemuan di balairung!” “Kenapa kamu melakukan hal itu?” tanya Arya. “Saya melakukan itu karena Gusti Putri Selir Wangi sedang menjalani pengasingan, Baginda!” jawab kepala emban keputren itu sambil membungku ke tanah. “Kamu mau mati atau mau hidup?” tanya Arya dengan tegas. “Hamba ingin hidup, Baginda Raja!” jawabnya. “Kalau kamu tetap ingin hidup, bawalah Selir Wangi kemari!” “Baik, Baginda Raja!” “Tapi, Baginda!” Ratu Amarawati berusaha mencegah embannya. “Ada apa, Ratu??” selidik Arya. “Selir Wangi sedang dalam masa pengasingan! Mana boleh Selir Wangi berada di balairung istana yang agung?” protes Sang Ratu. “Apa yang dilakukan Selir Wangi sampai dia diasingkan? Kenapa aku sampai tidak mengetahuinya??” “Baginda Raja memang tidak tahu karena ini adalah urusan keputren!” jawab Ratu Amarawati. “Apa pun yang terjadi di atas negeriku, aku harus tahu!” gertak Arya. “Katakan pada Baginda Raja apa yang sebenarnya terjadi, Mbok Emban!” perintah Naya. “Hamba lebih baik mati, Baginda!” “Dasar kamu ini! Apa kamu tidak bisa menghormati aku sebagai Rajamu?” Arya mulai berakting marah. Ratu Amarawati membela mbok embannya. “Saya yang menyuruh para emban mengasingkan Selir Wangi, Baginda!” jelas Ratu Amarawati. “Kenapa?? Apa salahnya??” tanya Arya. “Selir Wangi berusaha memasuki puri tempat tinggal Baginda Raja di malam hari. Padahal itu bukan waktunya untuk menghadap Anda! Dia berusaha menguasai Baginda Raja untuk dirinya sendiri! Itu hal yang melanggar aturan kesopanan dan keadilan di keputren!” jelas Sang Ratu. “Baiklah! Aku ingin dia tetap hadir di balairung ini. Aku akan menjelaskan semuanya setelah Selir Wangi datang!” tegas Arya. “Biar hamba yang memanggil Selir Wangi!” Naya berdiri dan berlalu dari hadapan mereka semua. Naya menuju ke keputren, setelah bertanya-tanya pada para punggawa istana, akhirnya Naya berhasil menemukan kediaman Selir Wangi. Betapa terkejutnya Naya karena Selir Wangi di tempatkan di paviliun paling belakang dengan taman yang sangat kotor. Mbok Rah berlari-lari masuk ke dalam rumah saat melihat Naya datang ke paviliun mereka. “Gusti Putri! Ada Abdi Dalem Baginda Raja datang kemari!” teriak Mbok Rah. “Apa? Apa itu benar?” Kinar sangat bahagia karena akhirnya ada utusan yang berkunjung ke paviliunnya. “Saya akan menanyakan apa maksud kedatangannya!” Mbok Rah menemui Naya di depan paviliun Selir Wangi. “Ada angin apakah yang membuat Anda berkunjung kemari, Penasihat Naya?” “Di mana Gusti Putri Selir Wangi?” tanya Naya. “Ada di dalam kamarnya,” jawab Mbok Rah. “Siapkan Gusti Putrimu! Baginda Raja menunggu Selir Wangi di balairung!” jelas Naya. “Baik, Penasihat Naya!” Mbok Rah penuh kegembiraan menyambut kabar ini. Mbok Rah menyiapkan Kinar memakai pakaian terbaiknya. Kinar memberikan sentuhan terakhir pada riasannya. Rambut lembutnya sangat indah. Tubuhnya semampai dengan pinggul yang menggoda karena sudah tidak tertutup oleh rambut panjangnya lagi. Mbok Rah sempat khawatir menyadari hal itu. Bagaimana jadinya bila kemolekan tubuh Selir Raja dipandang oleh semua mata akibat tidak tertutup oleh rambut panjang lagi. Kinar menambahkan parfum di kulit tengkuk dan di bagian belakang telinga agar harumnya selalu awet. Mbok Rah mengendus-endus Kinar saat mereka berjalan menuju ke balairung. “Gusti Putri Wangi sekali!” pekik Mbok Rah. “Tentu saja! Bukankah namaku Selir Wangi jadi aku memang wangi?” Kinar terkekeh. Sesampainya Selir Wangi di balairung istana, semua mata memandang Selir Wangi. Rambutnya yang dipotong di atas pinggang membuat pinggulnya seksi dipandang mata. Semua takjub dengan riasan Selir Wangi yang mengandalkan concealer, BB-cream, bedak, blush on, eye shadow, mate lipstick warna nude, dan riasan alis. Selain itu bau wangi parfum Kinar yang sangat lembut membuat semuanya mengendus-endus. Selir Wangi semakin dekat dengan tahta Baginda Raja. Saat Arya meminta Selir Wangi untuk mendekat, Arya seakan terbawa pada suatu ingatan. Bau harum Selir Wangi mengingatkannya pada seseorang. “Kinar?” batin Arya. “Arya?” batin Kinar. Baginda Raja dan Selir Wangi saling berpandangan. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD