15. Make Over

1600 Words
Kinar tidak bisa memejamkan mata. Kinar melihat Arya sudah tidur nyenyak di kasur busa bawah tempat tidurnya. Kinar masih memikirkan nasib Selir Wangi yang diabaikan oleh Baginda Raja, sama seperti nasibnya siang ini yang diabaikan oleh Arya. Kinar bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil bedak yang ada di atas meja riasnya. Kinar mengambil bedak itu dan membungkusnya dengan kain. Berikutnya, Kinar memotong lipstiknya lalu dibungkus dengan kain. Kinar memandang minyak wanginya kemudian berpikir… “Aha! Wadah keramik! Keramik sudah ada di zaman Majapahit!” Kinar ingat di lemari kaca ruang makan ada banyak sekali keramik-keramik kecil yang biasa dijual saat Sekaten. Kinar mengendap-endap turun ke bawah dengan hati-hati. Kinar mengambil beberapa keramik yang di bagian atasnya ada sumbatan kayu. Kinar punya ide untuk mengisi keramik-keramik itu dengan bahan make up-nya yang berbentuk cair, minyak wangi, body lotion, serta sabun cair. Kinar memandang semua perlengkapannya yang sudah rapi di dalam wadah keramik. Kinar mengingat-ingat, sepertinya masih ada satu lagi yang kurang…. “Ya! Cermin rias! Sepertinya cermin polos tanpa plastik akan lolos!” batin Kinar. Setelah Kinar selesai mengemas semuanya, Kinar memasukkannya ke dalam tas. Kinar sengaja meletakkan tas itu di atas meja dan tidak menyandingnya saat tidur. Kinar benar-benar ingin tahu kelebihan kepingan kaca itu. *** Arya bangun dengan perasaan yang aneh. Dia menggigil kedinginan dan menyadari dia sedang bertelanjang d**a. Arya kebingungan karena semalam dia memakai kaos oblong lalu tidur di kasur busa. Di bawah tempat tidur Kinar. Arya mengucek matanya. “Kenapa kamar Kinar jadi gelap begini?” gumam Arya. Arya melihat dengan seksama. Arya menyadari ini bukan kamar Kinar. “Batu bata merah?” gumam Arya saat melihat sekeliling kamar itu. Arya melihat tempat tidurnya sangat megah, bukan di kasur busa yang terletak di lantai seperti semalam. Ini dipan besar dengan kasur dari jerami, ada kelambu besar menghiasi tempat tidurnya. Arya turun dari tempat tidur dan terkejut saat melihat dia memakai celana pendek yang aneh dililit kain batik yang kelihatannya mahal, seperti kain batik lawasan. Arya merenung sejenak, lalu memutuskan keluar dari kamar yang begitu megah. Saat melewati beberapa hiasan dinding dan perabotan di kamar itu betapa terkejutnya Arya karena semua itu terbuat dari bahan yang berlapis emas murni. Arya keluar kamar dan terus berjalan sampai di pelataran yang sangat luas. Arya melihat sekeliling, batu bata merah dan kayu-kayu yang sangat kokoh menjadi ciri khas bangunan di sekelilingnya ini. “Ini Wilwatikta!” gumam Arya. Seorang abdi dalem mendekati Arya lalu menyembahnya. Arya melotot sambil memperhatikan Gerakan bibir abdi dalem itu. Walaupun abdi dalem itu berbicara tapi Arya tidak bisa mendengar apa pun! Tiba-tiba… Nginngg! Ngiiing!! Ngiiiinnnggg!! Arya menutup telinganya dan berteriak saking kagetnya. Abdi dalem itu terkejut dan tiarap di depan Arya sambil terus berbicara. Sayup-sayup Arya kembali bisa mendengar suara di sekelilingnya, Arya mendengar abdi dalem itu berbicara menggunakan Bahasa Jawa Kawi namun lambat laun telinga dan otak Arya langsung bisa menangkap artinya. “Ampuni saya, Baginda Raja! Saya tidak berniat mengejutkan Anda!” ucap abdi dalem itu sambil tetap tiarap di tanah. “Baginda Raja? Oh, ternyata aku bermimpi jadi Raja ya?” batin Arya tanpa menyadari apa yang sedang terjadi. “Bangunlah! Kamu sedang apa??” “Ampun, Baginda! Tadi Baginda berteriak ke arah saya, saya kira Baginda marah pada saya,” jelas abdi dalem itu ketakutan. “Tahun berapa ini?” tanya Arya. “Ini tahun 1389 Saka, Baginda!” Arya langsung menghitung, selisih tahun Masehi dan tahun Saka adalah 79 tahun. Lebih awal tahun Masehi dibanding tahun Saka, maka sekarang ini tahun 1468 Masehi. “Bhre Kertabhumi!” gumam Arya. “Ya! Itu adalah nama Baginda!” ucap abdi dalem itu. Arya memandang abdi dalem itu dengan penuh keheranan. Arya menghembuskan napasnya ke telapak tangan. “Ini nyata!” pekik Arya. “Yaa! Ini memang nyata, Baginda!” “Siapa namamu?” selidik Arya. “Nama saya Naya, Baginda!” “Naya Genggong?” tanya Arya memastikan. “Iya, memang itulah nama saya!” “Oh, baiklah! Berarti dia abdi dalem sekaligus penasihatku!” batin Arya. Arya mondar-mandir di halaman depan istana. “Ini Puri yang ku cari! Di mana ini tepatnya?” tanya Arya. “Ini memang Puri. Apa Baginda lupa? Ini adalah Kotaraja!” Arya duduk di tangga masuk istana sambil memegang kepalanya. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa aku bisa terpental kemari? Apakah otakku sudah terlalu banyak memikirkan Wilwatikta hingga aku mengalami delusi?” batin Arya. “Ada apa, Baginda? Apakah Baginda pusing kepala? Perlu saya panggilkan tabib?” tanya Naya. “Ya! Tabib! Sepertinya aku perlu ditusuk jarum supaya tahu ini khayalan atau kenyataan!” jawab Arya. Naya hanya geleng-geleng kepala melihat Bagindanya. Lalu, pergi mencari tabib istana. *** “Saat aku datang, Baginda memegang telinganya lalu berteriak padaku! Mungkin itu gangguan dari telinga Baginda! Kamu harus memeriksa telinga beliau,” jelas Naya pada tabib sambil berjalan menuju kamar Baginda Raja. “Apa lagi?” tanya tabib. Naya mencoba mengingat-ingat, “Oya! Baginda juga memegang kepalanya. Lalu beliau juga bilang ingin ditusuk jarum!” Tabib melotot, “Baiklah, akan ku lihat dulu keadaan Baginda Raja.” Arya sedang melihat pantulan dirinya di cermin, cermin yang ada di kamar Raja ini lebih jelas pantulannya dari pada cermin yang ada di kamar Selir Wangi. Arya melihat wajah yang ada di hadapannya ini memang cukup tampan, apalagi dia adalah Raja. Tak heran punya banyak selir. Tak lama kemudian Arya diperiksa oleh tabib istana. “Baginda Raja baik-baik saja. Sehat tak kurang suatu apa pun,” jelas sang tabib. “Aku minta ditusuk jarum!” perintah Arya. Tabib terkejut, “Tapi Baginda baik-baik saja, untuk apa ditusuk jarum?” “Aku hanya ingin tahu apa aku hidup di dunia nyata atau di alam mimpi!” jawab Arya tanpa basa-basi. Naya dan tabib saling berpandangan, lalu Naya memberi kode pada tabib istana untuk melaksanakan saja apa yang menjadi permintaan rajanya. “Awww!” Arya berteriak saat jarum itu menusuk kulit tubuhnya. Naya mengantarkan sang tabib keluar dari kamar Baginda Raja. “Sebenarnya ada apa dengan Baginda?” tanya Naya. “Mungkin Baginda terlalu banyak memikirkan negara, beban pikirannya terlalu berat. Biarkan Baginda sedikit bersenang-senang, Naya!” Naya memicingkan matanya ke arah tabib, seolah mendapat ide. *** Naya kembali ke kamar Baginda Raja. Baginda Raja sedang duduk termenung. “Bagaimana kalau Baginda mengunjungi Gusti Ratu Amarawati?” Naya mencoba membujuk rajanya. Arya langsung penasaran dengan jumlah istri yang dimiliki oleh Kertabhumi, kabarnya Kertabhumi memilik banyak selir pemberian atau upeti dari beberapa daerah kekuasaannya. “Naya! Kumpulkan Ratu dan semua Selir di Balairung siang ini!” titah Arya. “Apa?? Semua? Apa Baginda Raja kuat??” Naya terbengong-bengong. “Naya! Aku Cuma bilang kumpulkan! Bukan melakukan hal yang ada di pikiranmu itu!” gertak Arya. Naya menahan tawa, “Baiklah, Baginda! Siang ini semua akan siap di Balairung!” *** Kinar sedang duduk di dipan tidurnya. Mbok Rah belum datang. Kinar berbinar-binar karena semua bahan untuk mempercantik diri lolos sensor dan bisa memasuki zaman ini. Namun, Kinar juga dibuat bingung, ternyata tas kulit beserta isi kepingan kacanya itu tetap bisa membawanya ke zaman ini walaupun tidak dipegangnya saat tidur. Itu artinya bila berada satu ruangan dengan kepingan kaca itu, Kinar tetap bisa kembali ke masa lalu dan terperangkap dalam tubuh Selir Wangi. Kinar mengambil cermin yang dibawanya dari masa depan, Kinar memandang dirinya yang terperangkap di tubuh Selir Wangi. Selir Wangi memang cantik, sedikit polesan dan mandi pakai sabun sepertinya akan membuat Selir Wangi benar-benar cantik dan wangi. Mbok Rah datang dan seperti biasa, Kinar tidak bisa mendengar suara Mbok Rah. Setelah terdengar dengungan keras di telinga Kinar, barulah Kinar bisa mendengar Bahasa Jawa Kawi yang diucapkan Mbok Rah. Perlahan-lahan, bunyi itu masuk ke dalam gendang telinga Kinar dan Kinar bisa memahami semuanya. “Mandi sekarang, Gusti Putri?” tanya Mbok Rah. “Sebelum mandi apakah aku boleh memotong rambutku, Mbok Rah? Ini sudah terlalu panjang dan bercabang.” “Sebentar, Gusti Putri. Saya akan ambilkan perkakasnya!” Rambut Selir Wangi hampir menyentuh tanah bila digerai, Kinar berniat memotongnya. Semalam, Kinar mencari gunting model kuno tapi semua gunting di rumah Arya dilapisi plastik pada pegangan tangannya. Mbok Rah datang membawa gunting model kuno terbuat dari logam dan sisir yang terbuat dari kayu. “Potong rambutku di atas pinggang ya, Mbok Rah!” “Tapi, Gusti Putri, pinggul Anda harus tertutup rambut!” “Sudah, Mbok Rah! Lakukan saja perintahku!” Dengan berat hati dan rasa takut akhirnya Mbok Rah memotong rambut Selir Wangi di atas pinggang. “Nah! Sekarang kepalaku terasa ringan, Mbok Rah!” “Bagaimana kalau nanti Baginda Raja tahu, Gusti?” “Ah! Bukankah dia sudah lupa padaku?” Kinar tidak mau dimandikan oleh Mbok Rah, Kinar meminta Mbok Rah menunggu di luar sendang. Kinar sudah tidak mau digosok memakai batu kali lagi, sungguh aneh rasanya, seperti tidak mandi saja! Sabun wangi, odol, sampo, dan kondisioner ini akan membuat Selir Wangi jadi wanita yang bersih dan harum. Kinar sudah selesai mandi dan dibantu oleh Mbok Rah untuk memakai baju. Mbok Rah mengendus-endus tubuh dan rambut Kinar. “Wangi sekali, Gusti Putri! Rambutnya juga sangat lembut!” ucap Mbok Rah. Kinar menahan tawa. “Apa jadinya kalau aku memakai body lotion dan parfum?” batin Kinar. Kinar mulai mengaplikasikan riasan di wajahnya saat Mbok Rah keluar kamar untuk mencuci baju-baju yang dipakai Selir Wangi. Riasan yang soft dan natural membuat wajah Selir Wangi tampak anggun memesona. Lipstik modern membuat warnanya sangat menarik dan tak biasa di zaman ini. Tak lupa Kinar melukis alis Selir Wangi seperti alis jaman now memanfaatkan lidi dan jari tangannya karena di zaman ini tidak ada pensil. Kinar mengoleskan body lotion dan sedikit parfum ke tubuhnya. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD