Kinar menangis dan kecewa karena dia merasa sangat lelah. Setelah mengarungi ruang dan waktu yang terpisah sejauh 554 tahun ternyata dia mengalami kekecewaan. Kencan sederhana yang sangat diimpikannya yaitu makan soto dengan Arya harus gagal karena kehadiran Niken.
***
Winda bekacak pinggang di halaman parkir situs saat Arya dan Niken datang sambil berbagi tawa canda. Arya yang melihat Winda berkacak pinggang sangat bingung dibuatnya.
“Win? Kenapa?” tanya Arya.
“Dari mana aja??!” Winda lebih galak dari Arya saat memarahi anak buahnya yang telat datang.
“Aku makan siang sama Niken,” jelas Arya.
“Oh?? Makan siang eksklusif?” sindir Winda.
“Kenapa sih, Win? Sewot banget!” Arya tersulut emosi.
“Siapa yang janjiin Kinar makan siang bareng?!” cecar Arya.
“Mana Kinar?” tanya Arya.
“Ngga usah pengen tahu di mana Kinar!” jawab Winda galak.
“Win! Apa-apaan sih kamu!” Arya kesal.
“Kamu bungkusin soto buat Kinar??” Winda melihat plastik soto yang dibawa Arya, “ngga usah, Ar! Kinar udah terlanjur sakit!”
Arya mengeraskan rahangnya lalu berlari ke situs barat tempat Kinar bertugas. Niken ingin menyusul Arya tapi dicegah oleh Winda.
“Eitts! Mau ke mana??” Winda menarik lengan Niken.
“Aku mau ikut Arya!”
“Kamu di sini sama aku! Itu urusan Arya sama Kinar! Kita ngga usah ikut campur!”
Winda menarik Niken ke pos informasi dan menjaga Niken supaya tetap duduk manis di pos. Wajah Niken sangat marah karena kelancangan Winda padanya.
***
Dari kejauhan Arya melihat Kinar menyandarkan kepalanya di bahu Beni. Beni mengipasi Kinar dengan kertas.
“Ben! Kenapa?!” Arya panik.
“Kinar sakit!” jawab Beni.
“Kenapa ngga diantar pulang, Ben!”
“Kinarnya ngga mau, Ar!” jawab Beni.
Arya mendekati Kinar dan meminta Beni berpindah tempat. Arya duduk di samping Kinar, kini kepala Kinar bersandar di bahu Arya. Arya mengelap keringat dingin yang keluar dari tubuh Kinar.
“Kinar!” Arya menepuk-nepuk pipi Kinar.
Kinar mengerjapkan matanya, lalu kembali memejamkannya. Mata Kinar bengkak, Arya baru sadar kalau Kinar habis menangis. Arya langsung berinisiatif membopong Kinar menuju ke mobilnya. Kinar memeluk erat tubuh Arya saat merasakan tubuhnya diangkat oleh Arya.
“Mau kamu bawa ke mana, Ar?” tanya Beni.
“Rumah sakit! Tolong urus situs ya, Ben! Aku ngga bisa mikir situs saat ini!”
Arya mendudukkan Kinar di samping kemudinya.
“Oke, Ar! Jangan khawatirkan kami di sini!”
***
Niken sempat berdiri dari tempat duduknya dan memandang Arya yang tampak sangat mengkhawatirkan Kinar. Pandangan Arya dan Niken sempat bertemu, tapi Arya sudah tidak memikirkan apa-apa lagi saat ini selain kondisi Kinar.
Mereka sudah sampai di RSUD, Arya kembali membopong Kinar menuju ke IGD. Di sana Kinar langsung mendapatkan perawatan. Arya harus menunggu Kinar selama satu jam karena oleh dokter yang merawat Kinar, Kinar tidak boleh langsung pulang dan harus menjalani observasi.
“Bagaimana, Dokter?” tanya Arya.
“Mbak Kinar hanya kecapekan. Apa Mbak Kinar habis pergi dari perjalanan jauh? Ke luar negeri mungkin?”
“Tidak itu, Dok! Kinar tidak dari bepergian ke luar negeri. Cuma tadi pagi bangun tidur kelihatan lemes dan makannya cuma sedikit,” jelas Arya.
“Ini kelelahan semacam mengalami jet lag. Asam lambungnya juga tinggi. Ini saya beri obat dan surat untuk istirahat sehari. Mbak Kinar sudah boleh dibawa pulang kok!”
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak!”
Arya memeluk Kinar dan memapahnya ke mobil. Dalam hati, Kinar tersenyum senang karena keinginannya untuk dipeluk dan memeluk Arya kesampaian juga.
“Masih mau makan soto?” tanya Arya lembut, sangat lembut.
Kinar menggelengkan kepalanya.
“Maafin aku ya, Kinar. Aku tahu kamu marah sama aku. Harusnya aku makan berdua aja sama kamu. Maafin aku ya!”
Kinar hanya diam, membuat Arya semakin merasa bersalah. Sesampainya di rumah, Arya kembali memeluk dan memapah Kinar ke kamar.
“Kuat naik tangga ngga?” tanya Arya.
Kinar hanya diam, Arya tahu Kinar sangat marah padanya. Tanpa menunggu persetujuan dari Kinar, Arya membopong Kinar naik ke lantai dua. Ibu Ningsih sangat khawatir melihat Kinar yang sakit dan sampai harus dibopong.
“Ada apa to, Nduk? Kok sampai kayak gini! Ini kenapa, Ar?”
Arya menidurkan Kinar di tempat tidurnya lalu duduk di samping Kinar. Bu Ningsih membaluri tubuh Kinar dengan minyak gosok, si mbok juga ikut memijit kaki dan tangan Kinar.
“Ada apa ini, Ar? Wong tadi berangkat Kinar baik-baik saja, ini pulang-pulang kok malah sakit? Kamu kasih Kinar pekerjaan berat ya, Ar?” tanya Bu Ningsih.
“Enggak, Bu!”
“Trus kenapa jadi sakit gini anak gadis orang??”
Bu Ningsih malah jadi kesal sama Arya, anaknya sendiri.
“Kinar ngga apa-apa kok, Bu! Kinar tadi cuma kecapekan aja karena ditinggalin sama Mas Arya.”
Arya memandang Kinar di saat yang sama Kinar juga sedang memandang Arya. Tatapan mata Arya kali ini tidak dingin, tapi sangat menyejukkan hati Kinar.
“Bu, buat nebus kesalahan saya sama Kinar. Saya minta izin sama Ibu ya, malam ini saya mau nemenin Kinar. Boleh tidak, Bu?” tanya Arya pada Bu Ningsih.
“Maksudnya kamu mau jagain Kinar?” tanya Bu Ningsih.
“Iya, Bu. Boleh?” tanya Arya.
“Ya, boleh saja! Kinar masih sakit dan enggak bisa ke mana-mana sendirian badannya masih lemes begini!”
“Ya sudah, Bu. Saya kan izin dulu sama Ibu.”
“Iya! Iya! Ibu percaya sama kalian. Ya sudah, Ibu dan simbok mau siapkan makan malam dulu ya!”
“Ya, Bu!” jawab Arya.
“Makasih ya, Bu!” ucap Kinar yang suaranya terdengar masih lemas.
Bu Ningsih dan Simbok meninggalkan kamar Kinar.
“Jadi? Kamu kecapekan karena aku tinggalin?” goda Arya.
“Sebenernya bukan capek tapi sakit!” jawab Kinar.
“Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi sakit…”
“Kalau sudah janji jangan diingkari!” ucap Kinar lirih.
Tak terasa air mata Kinar menetes di pipi. Arya terkejut melihat Kinar menangis, Arya sungguh tidak menyangka akan menyakiti hati Kinar sampai seperti ini.
“Makan ya… aku suapin. Ini tadi aku belikan soto!”
Tidak disangka-sangka oleh Arya, tangis Kinar malah semakin menjadi-jadi mendengar kata soto. Arya kini sadar, Kinar sangat kecewa karena dia sudah mengingkari janjinya untuk makan soto berdua dengan Kinar.
Arya jadi kebingungan.
“Ssshh… ssshh… sudah jangan nangis! Aku bakal temenin kamu sampai kamu bosan, buat menebus kesalahanku!”
Arya memeluk Kinar yang semakin menangis mendengar ucapan Arya. Kinar sebenarnya sakit hati bercampur dengan terharu, karena Arya yang dingin itu kini ada dihadapannya, meminta maaf dan berjanji menemaninya sampai bosan.
Tak berapa lama Bu Ningsih dan Simbok mengantarkan makan malam ke kamar Kinar.
“Ini makan malamnya, Nduk. Mau disuapin siapa?”
Kinar tersenyum, “Mas Arya saja, Bu!”
“Nah, tu Arya! Suapin Kinar! Ibu senang melihat kalian berdua! Ibu harap kalian bisa jadi suami istri!”
“Uhukk! Uhhuk!”
Arya terbatuk-batuk mendengar ucapan Ibunya.
“Ibu jangan seperti itu. Siapa tahu Kinar sudah punya calon suami lho, Bu!” protes Arya.
“Bukannya Mas Arya ya, yang sudah punya calon istri yang tadi diajak makan soto??” sindir Kinar.
“Owalah! Ini masalah soto tho??” Bu Ningsih menahan tawa melihat mereka.
***
Malam ini Arya menemani Kinar tidur, Arya menggelar kasur busa di bawah tempat tidur Kinar untuk tidur malam nanti. Saat ini Arya sedang bekerja di depan laptopnya sambil menemani Kinar.
“Mas Arya? Bisa ambilkan tasnya Kinar di atas meja itu?” pinta Kinar.
“Buat apa? Mau buka-buka HP ya? Istirahat aja!”
Kinar hanya diam. Kinar kembali memikirkan Selir Wangi setelah seharian ini dia memikirkan perasaannya pada Arya.
Kinar POV
Kalau semua itu hanya mimpi… lalu kenapa bunga kantil cempaka itu bisa ada di rambutku? Tepat di atas telingaku bagian kiri. Seperti yang dipasangkan oleh Mbok Rah! Kata dokter aku juga mengalami jet lag. Apa benar aku bisa melakukan perjalanan waktu? Apakah pecahan kaca itu yang bisa membawaku ke masa lalu? Apa benar itu pecahan Cupumanik Astagina?
Kinar menyimpan bunga kantil itu di dalam tasnya. Malam ini apakah dia akan berpindah dunia lagi ke era 554 tahun yang lalu? Kinar sengaja menuruti Arya untuk tidak mengambil tasnya. Kinar hanya ingin membuktikan, apakah tanpa kepingan itu di atas tempat tidurnya, dia bisa berpindah zaman?
tbc