13. Kecewa

1824 Words
Mbok Emban yang baru-baru ini diketahui oleh Kinar Bernama Mbok Mirah atau biasa dipanggil Mbok Rah mengajak Kinar berjalan-jalan di taman keputren bagian belakang. “Mbok Rah?” “Ya, Gusti Putri!” jawab sang dayang. “Kenapa taman keputren di kompleks tempat tinggalku ini sangat tidak terawat?” Mbok Rah sedikit bingung karena Selir Wangi biasanya tidak pernah mempermasalahkan taman keputren. Selir Wangi biasanya hanya diam menerima apa pun yang terjadi padanya. Sampai-sampai Baginda Raja melupakan Selir Wangi karena Selir Wangi tidak punya keberanian untuk memberontak atau menonjolkan diri. “Saya akan meminta tukang bersih taman untuk membersihkannya, Gusti!” “Kenapa aku tidak punya kolam pemandian? Aku hanya punya sendang kecil untuk mandi, walaupun ada taman di dalamnya tapi tidak ada kolam pemandiannya.” Kinar segera mengingat-ingat, biasanya taman keputren dilengkapi dengan kolam pemandian untuk mandi para putri di kerajaan. Mbok Rah kembali terkejut, “Wah… wah… ada apa ini, Gusti Putri? Kenapa sekarang menginginkan taman dan kolam pemandian?” “Bukankah aku selir raja? Kenapa aku sangat tidak dihargai di sini? Bahkan di sini cuma ada Mbok Rah, tidak ada pelayan yang lain. Pengawal juga tidak ada. Kita setiap hari hanya berdua seperti ini, Mbok?” “Iya, Gusti Putri…” Mbok Rah tampak sedikit bersedih. Biasanya Gusti Putrinya ini tidak pernah mengungkapkan kesedihan atau protes apa pun tentang keadaannya yang diasingkan. “Mbok Rah, ayo kita bereskan taman ini! Taman ini seharusnya bisa jadi taman yang indah, kan?” Akhirnya, Kinar yang berada di dalam tubuh Selir Wangi bersama dengan Mbok Rah membersihkan taman yang memang kondisinya sangat tidak terawat itu. Bunga-bunga indah pun tidak ada. Pot bunga yang terbuat dari gerabah sudah ditumbuhi lumut. Taman di kompleks tempat tinggal Selir Wangi ini lebih mirip lahan kosong tempat pembuangan sampah. “Mbok Rah! Ini bunga apa?” tanya Kinar saat melihat satu-satunya bunga yang tumbuh di taman itu. “Itu bunga kantil campaka, Gusti Putri!” jawab Mbok Rah. “Indah sekali warnanya kuning gading!” “Itu bunga yang sering dipakai sebagai hiasan rambut untuk para Selir dan Ratu. Bolehkah saya pasangkan di rambut Anda, Gusti?” tanya Mbok Rah. “Iya, Mbok Rah!” Mbok Rah segera memetik bunga kantil campaka itu lalu dipasangkan di rambut Kinar sebagai hiasan. Kinar senang sekali karena mendapatkan hiasan rambut sebagai lambang kalau dia adalah Selir Raja. Setelah lelah membersihkan taman, Kinar dan Mbok Rah kembali ke kediaman Selir Wangi. Setelah melayani Kinar makan siang, Mbok Rah dengan telaten memijit kaki Kinar yang memang terasa sangat pegal setelah mempersihkan taman. “Mbok Rah? Apakah Baginda Raja tampan?” tanya Kinar. Mbok Rah kembali dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya hari ini. Gusti Putrinya hari ini tanpa basa-basi dan sedikit kurang sopan santun saat bertanya. “Gusti Putri, pertanyaan apa ini sebenarnya? Baginda Raja adalah titisan Dewata tentu saja Baginda Raja tampan!” Kinar mengerutkan dahinya, sepertinya Mbok Rah berbohong. Jangan-jangan Baginda Rajanya jelek? “Mentang-mentang titisan Dewata dianggap tampan, kah?” batin Kinar. “Sudah, Gusti Putri! Sekarang saatnya istirahat!” Mbok Rah merapikan dipan milik Selir Wangi. Kinar berbaring di atas kain yang diisi dengan jerami sehingga membuat sedikit nyaman saat berbaring. Mbok Rah meninggalkan Kinar dan menutup pintu kamar Kinar. Kinar tidak bisa memejamkan mata, dia tidak biasa tidur siang karena setiap hari harus bekerja. Tiba-tiba Kinar teringat kencan makan siangnya dengan Arya. “Aduuuh… Kenapa aku jadi tersesat di sini? Seharusnya siang ini aku makan siang dengan Mas Arya! Bagaimana caranya aku kembali ke zaman modern?!” Kinar memandang tas yang tergeletak di atas meja. Kinar bingung, kenapa tas ini bisa ikut terbawa bersamanya ke zaman Majapahit? Kinar ingat di dalam tas ini ada ponsel, dompet, kamera, buku tulis, dan alat tulis. Kinar memandang tas yang terbawa bersamanya ke zaman kuno itu. Tas ini terbuat dari kulit, tidak ada ritsleting. “Apakah karena benda-benda ini tidak modern maka membuat benda-benda ini lolos?” gumam Kinar. Seingat Kinar, dia memang memegang tas ini sesaat sebelum tidur. Kinar duduk di atas dipan, Kinar benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Semua benda modern tidak terbawa ke zaman ini. Hanya sebuah tas berwarna cokelat bata berbahan kulit asli dan bungkusan kaca itu yang ikut terbawa ke mari. “Apakah ini hanya mimpi??” Kinar kembali mencubit kulit tubuhnya, rasanya sakit. Kinar meringis kesakitan. Ini benar-benar nyata! Rasa sakitnya nyata, napas Kinar nyata, dan suasana ini benar-benar nyata. “Duh! Gimana nih! Aku ada kencan penting siang ini!” Kinar memegang tas kulitnya, siapa tahu saat tertidur nanti, dia kembali ke zaman modern lagi. Kinar merebahkan tubuhnya di atas dipan, rasa kantuk begitu melanda. Mungkin karena kecapekan Kinar jadi mengantuk. Sayup-sayup suara di sekitarnya menghilang, telinganya seperti dikosongkan. Suasana hening membuat Kinar semakin lelap dalam tidurnya. *** TOK! TOK! TOK! “Kinar!” Kinar terbangun karena ada suara berisik dari arah pintu kamarnya. Kinar berjalan menuju ke pintu dan membuka pintunya. CEKLEK! “Mas Arya?” “Kamu sakit? Jam segini belum bangun,” tanya Arya. “Ini jam berapa?” tanya Kinar kebingungan. “Jam setengah delapan. Cepetan mandi sana! Aku tunggu di ruang makan ya!” “Eh... Iya, Mas!” Kinar masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru. Kinar mandi dengan cepat karena takut kena marah Arya. Kinar segera membereskan barang-barangnya dan menyusul Arya di ruang makan. Bu Ningsih hari ini masak asem-asem dan telur dadar. Mereka makan bersama, Kinar sengaja mengambil nasi sedikit supaya tidak kelamaan. “Berangkat ya, Bu!” Arya dan Kinar berpamitan dan tak lupa cium tangan Bu Ningsih. *** Di perjalanan menuju ke situs, Kinar diam saja. Arya mengira Kinar sakit. “Kamu sakit?” tanya Arya memberi perhatian. “Ngga kok, Mas. Ngga tahu nih, badan rasanya lemes.” “Mau balik ke rumah aja?” “Ah? Ngga, Mas! Aku mau kerja, aku juga mau nagih makan soto sama Mas Arya nanti!” Arya terkekeh. Mereka akhirnya sampai di situs sedikit terlambat karena Arya harus menunggu Kinar yang bangun kesiangan. Tapi untungnya Arya hari ini tidak marah-marah. Niken sudah ada di pos informasi bersama Beni dan Winda. Saat turun dari mobil, Kinar berjalan mendahului Arya. Tiba-tiba, Arya melihat benda yang sedikit aneh berada di rambut Kinar. “Kinar!” “Ya?” Kinar menoleh ke arah Arya yang berjalan mendekatinya. “Itu apa sih yang di rambutmu?” Arya menunjuk rambut Kinar. Kinar meraih-raih benda yang dimaksud Arya namun tidak berhasil juga. “Sini aku bantuin!” Arya berdiri di hadapan Kinar lalu meraih benda yang tersemat di rambut Kinar. Kinar memandang Arya, tiba-tiba dia membayangkan sedang memeluk tubuh Arya yang ada di hadapannya. Kinar tersenyum. “Nih!” Arya meraih tangan Kinar lalu meletakkan benda itu di tangan Kinar. Betapa terkejutnya Kinar saat melihat bunga kantil itu benar-benar ada di rambutnya. Saat bangun dari tidurnya di rumah Arya tadi, Kinar merasa sangat lega karena mengira semua yang dialaminya itu hanyalah mimpi. Pagi ini Kinar bangun dari tidurnya dan berada di zaman yang benar sekarang ini, tapi bunga kantil itu menunjukkan hal yang sebaliknya. “Kenapa?” tanya Arya. “Oh… ngga apa-apa kok, Mas! Ayo, ke pos informasi! Mereka sudah menunggu kita.” Kinar dan Arya berjalan beriringan, membuat hati Niken sedikit panas. Pagi ini Arya melakukan briefing sebentar sebelum mereka menuju ke pos masing-masing. “Winda nanti kamu tetap berada di situs timur ya! Soalnya Beni hari ini aku tugaskan untuk mengawasi persiapan pembuatan area test pit,” jelas Arya. “Oke, Ar!” jawab Winda. “Kinar nanti kamu melanjutkan pekerjaan di situs barat sendiri ngga apa-apa, kan? Aku masih ada kerjaan sama Niken.” Seketika raut wajah Kinar berubah, hatinya juga seperti ditusuk pisau saat mendengar kalimat Arya. Tapi Kinar tetap berusaha tegar. “Iya, Mas!” jawab Kinar pendek. Arya sedikit canggung melihat perubahan ekspresi wajah Kinar dan nada bicaranya yang sedikit ditahan. “Oke! Kita ke pos masing-masing ya! Selamat bekerja!” Arya menyemangati timnya. Kinar berjalan dengan langkah pendek hingga bisa disusul Winda. “Woi! Kenapa??” tanya Winda. “Ngga apa-apa kok, Win!” jawab Kinar. “Lemes banget? Kamu sakit? Kalau sakit bilang Arya aja!” “Aku ngga apa-apa, Win! Udah yuk kita kerja, nanti kalau agak longgar aku pengen cerita-cerita sama kamu, Win!” “Siap, Bos!” *** “Kalian berangkat bareng?” selidik Niken. “Iya, Kinar tinggal di rumahku,” jelas Arya. “Oyaa??” raut wajah Niken murung. Sepertinya pagi ini Arya sudah membuat dua orang wanita patah hati. “Entah kenapa dan kebetulan sekali Kinar anak sahabatnya Ibuku.” “Oh. Begitu ya?” “Iya,” jawab Arya pendek. -hening- “Ar, nanti siang temani aku makan soto, yuk! Aku kangen pengen makan soto bareng kamu.” “Eh? Itu… Ehmm… Aku sih mau tapi aku sudah terlanjur ada janji.” “Sama Kinar?” tebak Niken. “Iya, sebenarnya mau makan soto juga sih. Kok bisa sama ya? Apa mau makan bareng aja?” Arya yang merasa tidak enak hati menawarkan makan bertiga pada Niken. “Boleh. Tapi Kinar keberatan ngga?” “Ngga lah! Cuma makan soto kok!” jawab Arya. Mereka melanjutkan pekerjaan, hingga tanpa terasa siang sudah menjelang. “Yuk! Kita jemput Kinar dulu di pos barat. Biasanya dia jarang buka HP kalau lagi kerja.” “Ayo!” jawab Niken sumringah. Kinar sedang menyelesaikan beberapa sketsa dokumentasi manualnya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Arya dan Niken yang berjalan beriringan sambil mengobrol sangat akrab. “Kinar! Ayo! Jadi makan ngga?” tanya Arya. “Sekarang?” tanya Kinar sambil memandang Niken. “Iya, kita makan soto bareng Niken juga ya!” Arya bersemangat. “Hiiisshh…. Kencan bertiga? Mending aku ngga usah balik ke jaman now kalau gini caranya!” batin Kinar. “Mas! Sorry, aku lagi banyak kerjaan! Mas makan berdua aja sama Niken!” jawab Kinar ketus. Arya yang masih menyisakan senyuman di wajahnya mendadak mengganti ekspresi wajah. “Oh? Ngga bisa ditunda dulu? Kita makan dulu!” jawab Arya merasa bersalah. “Maaf ya, Mas! Aku bener-bener banyak kerjaan!” bentak Kinar. Arya terkejut melihat reaksi Kinar. “Ya, sudah. Aku makan dulu sama Niken!” Niken tersenyum saat mengetahui dia hanya akan makan berdua saja dengan Arya. Setelah mendengar mobil Arya menjauh, tangis Kinar pun pecah. Salah satu pekerja yang melihat Kinar menangis segera menyusul Winda di situs timur. “Mbak Winda! Itu Mbak Kinar nangis!” “APA??” Winda berlari tergopoh-gopoh menuju ke situs barat tempat Kinar berada. Dengan napas terengah-engah, Winda mendekati Kinar yang sedang duduk menangis sambil memeluk erat lututnya. “Kinar! Kamu kenapa?” tanya Winda. “Win, aku sakit!” “Nah kan! Tadi udah aku bilangin izin aja ke Arya! Apa yang sakit?” tanya Winda. Kinar memukul-mukul dadanya sambil menangis. Winda menoleh ke pos informasi, tidak ada Arya di sana. Mobil Arya pun tidak ada di tempat parkir. “Kamu sakit karena Arya?” tanya Winda. Kinar tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya lagi. Kinar berhambur memeluk Winda dan menangis di bahu Winda. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD