Kinar memberanikan diri memandang Arya yang duduk sangat dekat di sampingnya. Sampai-sampai Kinar ingin dunia berhenti berputar atau kalau bisa berputarnya dilambatkan saja supaya dia bisa selalu dekat dengan Arya seperti ini. Arya memang sangat tampan kulit sawo matangnya membuat Arya semakin kelihatan macho. Kinar memang menyukai tipe lelaki seperti Arya.
“Laki banget!” batin Kinar.
-Hening-
“Masih ada yang salah?” tanya Kinar.
Kinar sengaja sedikit mendorong tubuhnya ke arah Arya saat mereka sama-sama fokus memandang laptop, hingga lengan tangannya dengan lengan tangan Arya bersenggolan. Jantung Kinar berdebar-debar saking bahagianya. Kinar pernah jatuh cinta, tapi kali ini rasanya beda. Ada rasa ingin memiliki yang sangat besar pada Arya, entah kenapa.
Arya yang merasakan lengannya dan lengan Kinar saling menempel diam saja tidak menjauh, bahkan sepertinya Arya juga ingin berlama-lama.
“Sudah benar. Terima kasih ya, sudah mau ikutin saranku buat ke perpustakaan,” ucap Arya dengan nada lembut sambil memandang Kinar yang duduk menempel di lengan tangan kirinya.
“Jadi, besok aku ke situs?” tanya Kinar supaya lebih lama.
“Iya. Besok mau temani aku?”
“Ke mana?” tanya Kinar penasaran.
“Aku pengen makan siang di luar sama kamu.”
Arya memandang Kinar tak berkedip. Kinar tiba-tiba merasa sesak napas karena bunga-bunga di jantung hatinya sudah penuh dan hampir meledak.
“Cuma berdua?” Kinar memastikan.
“Iya, kamu makan soto sama Winda kan waktu itu?”
“Eh, iya. Kok Mas Arya tahu?” Kinar meringis.
“Trus beneran itu telat karena beli pembalut?”
Kinar menahan tawa, “Enggak kok!”
Arya mengacak rambut Kinar.
DEG!
Jantung Kinar malam ini sepertinya jadi sangat sehat karena sejak tadi senam jantung.
“Lain kali jangan bohong! Sudah sana tidur!”
Kinar tersenyum.
“Kok sudah sih… Duh jadi pengen di samping Mas Arya terus nih!” batin Kinar.
Arya beranjak dari tempat duduknya lalu beralih ke meja kerjanya, Arya membuka laptop dan mulai bekerja. Kinar membereskan laptopnya lalu masuk ke dalam kamar. Kinar menghempaskan tubuhnya di kasur dan memegang jantungnya yang masih berdegub kencang.
***
Kinar tiba-tiba teringat kalau dia menyimpan sesuatu di tasnya sore tadi. Kinar membuka tasnya lalu mengeluarkan pecahan kaca yang dibungkusnya dengan kain lusuh pembungkus buku kuno di perpustakaan tadi. Kinar membuka kain lusuh itu lalu dengan hati-hati meletakkan isinya di atas kasur.
Pecahan kaca itu seperti pecahan kaca biasa. Tapi yang membuat Kinar heran, kenapa sore tadi pecahan kaca ini memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata?? Kinar yakin dia tidak sedang bermimpi sore tadi dan sedang sadar sepenuhnya.
Kinar yang merasa sangat mengantuk, kembali membungkus pecahan kaca itu dengan kain lusuh tadi dan memasukkannya ke dalam tasnya. Kinar tertidur sambil masih memegang tasnya.
***
Kinar terbangun dengan kondisi yang tak biasa, kali ini tubuhnya benar-benar menggigil kedinginan.
KUKURUYUK! KUKURUYUK! PETOK PETOK PETOK!
Sayup-sayup, Kinar mendengar kicauan burung dan kokok ayam yang bersahut-sahutan tak seperti suasana di rumah Arya. Di rumah Arya ada suara kokok ayam, tapi hanya satu. Pagi ini terdengar sangat banyak, seperti ayam sekandang yang berkokok semua.
Kinar berusaha membuka matanya. Seingat Kinar, semalam Kinar lupa mematikan lampu kamarnya. Tapi kenapa kamarnya jadi sangat gelap?
“Jangan-jangan Mas Arya masuk ke kamarku? Ah! Tidak mungkin! Aku sudah mengunci pintu kamarku! Apa dia punya kunci cadangan, lalu masuk ke sini?” gumam Kinar.
Kinar berusaha membuka matanya dengan sempurna bahkan Kinar sempat mengucek matanya karena suasana kamarnya sangat gelap. Saat matanya sudah menyesuaikan dengan pencahayaan di kamar, Kinar terkejut bukan kepalang karena dia terbangun di sebuah ruangan yang dia yakini itu bukanlah kamar kosnya! Ruangan ini berdinding batu bata merah, pencahayaan kamarnya pun temaram lampu minyak.
Kinar segera bangkit dari tidurnya. Kinar melihat sekeliling, kamar ini sangat luas. Kasur tempat tidurnya pun bukan kasur yang biasa dia pakai untuk tidur. Kasurnya terbuat dari kayu dengan alas yang terbuat dari kain yang cukup tebal.
Kinar melihat dirinya memakai baju adat seperti sedang merayakan kartinian. Kinar mencubit kulit tubuhnya berulang kali hingga menyadari bahwa dirinya sedang berada di tempat dan zaman lain, dengan tas yang masih berada di atas tubuhnya dan kepingan Cupumanik di dalamnya.
Kinar sangat ketakutan. Kinar bingung. Apakah dia diculik? Kinar kemudian menuju ke jendela yang ada di kamar itu. Jendelanya besar dan terbuat dari kayu yang sangat kokoh. Kinar mengintip dari lubang angin-angin yang ada di jendela itu. Suasana di luar masih gelap, penerangan di luar berupa obor. Kinar benar-benar bingung dibuatnya.
Kinar mengacak isi tasnya untuk mengambil ponsel, tapi sayang ponselnya tidak ada di dalam tas padahal Kinar yakin tidak mengeluarkannya sepulang dari perpustakaan. Kinar hanya bisa menunggu sampai agak siang supaya dia bisa melihat keadaan di luar dengan jelas.
“Apa benar aku diculik? Tapi kenapa penculikku memakaikan aku baju kartinian seperti ini ya?” gumam Kinar.
Matahari masuk melalui celah-celah yang ada di kamar Kinar. Kinar memberanikan diri membuka jendela.
“Jendela ini bisa dibuka tanpa penghalang. Artinya, aku ngga diculik dong!”
Kinar melihat suasana di sekelilingnya, beberapa bangunan tempat tinggalnya ini mirip seperti pura di Bali. Bangunannya khas menggunakan batu bata merah dan kayu-kayu yang kokoh. Kinar melihat beberapa orang lalu lalang menggunakan baju sederhana, para lelaki bertelanjang d**a dan menggunakan celana kain polos di bawah lutut yang dibalut kain batik, mereka memakai ikat kepala seperti udeng. Para wanita menggunakan baju model kemben dari kain batik dan rambutnya diikat bentuk konde.
Tiba-tiba pintu kamarnya di buka. Ada seorang wanita paruh baya masuk dan mengajaknya berbicara. Kinar awalnya tidak mendengar suara wanita itu, Kinar hanya melihat gerakan bibirnya saja. Bersamaan dengan itu muncul suara berdengung keras dari telinganya, setelah itu Kinar baru bisa mendengar mereka berbicara dalam Bahasa Jawa Kawi. Anehnya, Kinar bisa mengerti bahasa itu dan menjawab dengan bahasa yang sama setelah mendengar dengungan keras dari telinganya tadi.
“Selamat pagi! Gusti Putri sudah bangun?”
“What? Gusti Putri?” batin Kinar.
“Saya sudah menyiapkan air di padyussan untuk Gusti Putri mandi. Apakah Gusti Putri ingin mandi sekarang?” tanya pelayan itu.
“Iya, aku mau mandi sekarang. Di mana tempatnya?” tanya Kinar.
“Di tempat biasanya, Gusti Putri! Mari saya antarkan!”
Kinar mengikuti dayang paruh baya itu keluar dari tempat tinggalnya. Mereka berjalan keluar rumah lalu menuju ke samping rumah tinggal Kinar pagi ini. Mereka masuk ke sebuah taman kecil di sana sudah tersedia air dalam wadah logam yang bentuknya seperti gentong besar. Dayang itu membantu Kinar melepas bajunya hingga menyisakan kain bercorak batik. Kinar dimandikan bak seorang pengantin yang melakukan prosesi siraman, lengkap dengan bunga mawar, melati, dan kenanga dalam gentong air itu. Dayang paruh baya itu dengan telaten menggosok badan Kinar dengan batu yang sangat halus. Selesai mandi, Kinar didandani bak putri.
“Gusti Putri sangat cantik! Seharusnya Baginda Raja sering mengunjungi Anda. Tapi sepertinya beliau lupa akan keberadaan Anda, Gusti.”
“Iya, Mbok Emban. Mungkin Baginda Raja lupa,” jawab Kinar sok tahu.
Kinar melihat bayangan dirinya di cermin yang sedikit buram seperti cermin mainan boneka barbie-nya jaman kecil yang memang tidak seperti cermin sungguhan yang biasanya memantulkan dengan sempurna. Wajah dalam cermin itu tidak mirip wajahnya, cantik tapi bukan wajahnya. Kinar sadar dia sedang terjebak dalam tubuh seorang putri yang bahkan belum dia ketahui namanya.
“Anda sangat ayu dan wangi. Sesuai dengan nama Anda, Gusti Putri.”
Kinar tersenyum, “Benarkan sesuai dengan namaku, Mbok Emban?”
Kinar berusaha memancing si Mbok Emban.
“Iya! Dyah Ayu Pandhan Wangi itulah nama yang diberikan Baginda Raja pada Anda. Salahkan semua ini pada Gusti Ratu Amarawati! Beliau yang menyebabkan Anda tinggal di bagian paling belakang dari keputren ini!”
“Aku memang sedang diasingkan, bukan?” pancing Kinar.
“Ya, karena Anda muda dan cantik! Tentu saja akan mengancam posisi Gusti Ratu!”
“Mbok Emban, setelah makan apa yang akan kita lakukan?” tanya Kinar.
Mbok Emban tertawa, “Biasanya kita akan berjalan-jalan, Gusti. Apakah Anda lupa?”
“Ke pasar?” tanya Kinar.
“Anda ingin ke pasar?? Tapi… tidak boleh, Gusti Putri! Kita tidak boleh keluar dari kompleks keputren bagian belakang ini!”
“Aku bosan, Mbok Emban!” Kinar merajuk.
“Apa saja boleh, asal tidak meninggalkan kompleks ini, Gusti! Ada prajurit yang menjaga dengan ketat.”
“Kapan Baginda Raja akan ke sini?” tanya Kinara.
“Itu… itu… hal yang mustahil, Gusti Putri. Anda memang dibuat menghilang dari ingatan Baginda Kertabhumi!”
Kinar terbelalak mendengar nama raja yang baru saja disebutkan oleh dayangnya ini. Raja Kertabhumi! Kinar benar-benar ingat akan cerita Raja Kertabhumi yang memiliki banyak selir. Apakah sekarang dirinya terjebak dalam tubuh salah satu selir Raja Kertabhumi?
“Aku ingin membaca, Mbok Emban. Apakah di sini tidak ada buku yang bisa k****a?” tanya Kinar.
Mbok Emban bingung dengan sikap Gusti Putrinya hari ini. Ingin ke pasar, ingin keluar keputren, dan ingin membaca buku. Seperti bukan Gusti Putrinya saja.
“Buku apa, Gusti Putri?” tanya Mbok Emban.
“Buku apa saja! Kitab, Kakawin, apa saja!” jelas Kinar
Kinar ingin menemukan informasi apa pun tentang zaman ini. Kalau dia bisa bicara Bahasa jawa kawi pastinya dia juga bisa membaca tulisan kuno pada zaman ini.
“Itu ada di Kedhaton, Gusti Putri. Saya tidak berani masuk ke sana! Ada juga buku-buku di kompleks pujangga atau kompleks brahmana. Di sana tempat mereka belajar banyak buku dan menulis banyak buku.
tbc