11. Pecahan Kaca

1580 Words
Arya memandang Kinar yang sedang memandang Niken. Entah kenapa Kinar merasa ingin segera pergi dari situs setelah mengetahui ada Niken di tempat itu. Apalagi setelah melihat Arya memandang Niken dengan tatapan yang tak biasa. “Ngga apa-apa aku naik ojek aja, Mas!” Kinar segera membalikkan badan tanpa ingin melihat wajah Arya dan Niken lagi. Arya hanya diam mematung melihat kepergian Kinar karena separuh hati Arya memang tidak ingin meninggalkan tempat itu. Winda sedikit kesal melihat Arya. Arya berjalan menuju ke pos informasi dan melihat Niken tersenyum memandangnya. Niken merasa senang karena Arya lebih memilih di sini bersamanya. Arya dan Niken melanjutkan pembicaraan mereka di pos informasi, sedangkan Winda dan Beni kembali ke situs timur tempat mereka bertugas. “Aku sudah bercerai, Ar!” tiba-tiba Niken memberi tahu Arya. Arya mengangkat kepalanya memandang Niken, Niken tersenyum melihat reaksi Arya yang bisa jadi masih mencintainya. Arya hanya diam memberi kesempatan Niken untuk berbicara. “Aku minta maaf sama kamu karena dulu aku lebih memilih Dewa. Saat itu aku sudah mengandung anaknya Dewa jadi, aku terpaksa memilih Dewa. Tapi, aku tidak pernah melupakanmu, Ar. Dewa menceraikanku karena hampir tiap malam aku mengigaukan namamu. Dewa mengira aku berselingkuh denganmu. Rumah tanggaku dan Dewa tidak bisa diselamatkan,” jelas Niken. “Kamu mau bilang kalau penyebab perceraian kalian karena tiap malam kamu mengigaukan namaku?!” Arya sedikit kesal. “Aku tidak bilang kalau kamu penyebabnya, Ar! Aku memang selalu mengigaukan namamu. Memang seperti itulah yang terjadi padaku.” -Hening- “Kamu tinggal di mana sekarang?” tanya Arya memberi perhatian. “Aku tinggal di kampung sebelah timur rumahmu, aku mengontrak rumah di situ.” “Sama anakmu?” tanya Arya. “Ngga, Ar. Dewa yang dapat hak asuh atas anakku.” “Oh…” -Hening- “Dia manggil kamu dengan sebutan Mas?” selidik Niken. “Siapa?” tanya Arya. “Anggota tim mu yang cantik tadi!” “Oh, Kinar? Iya, dia manggil aku Mas, tapi bukan aku yang nyuruh.” Niken tersenyum pahit mendengarnya. Mareka berdua kembali bekerja, Niken sesekali bertanya kemudian mencatat jawaban Arya lewat catatan yang dibuatnya di laptop. Arya juga sedang sibuk bekerja dengan laptopnya. “Masih naik jeep-mu, Ar?” tanya Niken disela-sela kesibukan mereka. “Iya,” jawab Arya, “kamu naik apa ke sini?” “Ada motor dari kantor, aku diminta memakai motor kantor buat transport sehari-hari.” “Oh... Baguslah itu!” Niken mengenang kembali saat dulu dia KKN di sini, Niken ke mana-mana selalu diantar Arya naik jeep-nya. Arya membuka ponselnya dan melihat pembaruan status WA dari Kinar. Kinar berswa foto di perpustakaan daerah dengan menunjukkan wajah-wajah jeleknya. Arya langsung tahu kalau gadis cantik ini sedang terganggu perasaan hatinya, Arya sadar wajah-wajah jelek yang ditampilkan oleh Kinar ini ditujukan padanya. Arya tersenyum, Kinar tetap cantik dan menggemaskan walaupun wajahnya sengaja difoto dengan pose jelek. Niken yang melihat Arya sedang tersenyum-senyum melihat ponselnya jadi penasaran. “Kenapa, Ar? Senyum-senyum sendiri.” “Oh? Ngga apa-apa kok!” Arya kembali tersenyum. Arya membalas status WA Kinar dengan sebuah chat, Kinar yang sedang online langsung berbalas pesan dengan Arya. [Arya: Nanti kalau sudah selesai aku jemput ya!] [Kinar: Ngga mau!] [Arya: Kenapa?] [Kinar: Karena kamu jelek!] Arya hanya tersenyum lalu membalas Kinar dengan emoticon tertawa terbahak-bahak. *** Kinar mengambil buku-buku yang masih terawat dengan cukup baik. Buku-buku yang diambil Kinar adalah salinan dari kitab-kitab kakawin yang sudah diterjemahkan. Kinar berkutat lagi dengan syair-syair indah yang diciptakan oleh Rakawi Prapanca pada tahun 15 Purnnacandrama bulan Aswayuja tahun Saka Adri Gajaryyama 1287, bertepatan dengan tanggal 30 September 1365 Masehi. Kinar kemudian melakukan revisi tentang tahun-tahun bersejarah yang kemarin dipermasalahkan oleh Arya. Cukup lama Kinar terbius dengan syair-syair indah itu. Tiba-tiba Kinar teringat dengan nama Empu Walmiki Sang Pujangga yang menulis cerita Cupumanik Astagina, cerita wayang yang menjadi favoritnya. Kinar yang sengaja mengulur waktu supaya tidak kembali ke situs langsung coba mencari buku itu di antara rak-rak buku. Ternyata tidak semudah yang dia kira, akhirnya Kinar menuju ke computer pencarian yang disediakan di perpustakaan itu. Kinar coba mengetik di kolom pencarian dengan judul Cupumanik Astagina ternyata semua buku yang muncul adalah buku cetakan terbaru. Kinar berusaha mencari buku dengan cetakan terlawas. Akhirnya, dia mengetik kata kunci Kitab Ramayana. Kinar juga menemukan banyak cetakan baru, namun mata Kinar terpaku pada rujukan judul Ramanawadha. Kinar langsung berjalan menuju ke rak buku yang menyimpan buku berjudul Ramanawadha. Setelah Kinar melihat buku itu, ternyata tidak sesuai dengan judulnya. Bukunya sudah lusuh dan tampak sangat tua. Kinar mengambil buku itu dengan hati-hati. Kinar sempat memandang buku itu dengan sedikit malas karena kertasnya sudah sangat berdebu dan ini juga tidak sesuai dengan buku yang dia maksud. “Sampul depannya terbungkus kain berwarna cokelat, pantas saja buku ini tidak awet! Seharusnya disampul plastik mika yang tebal seperti buku yang lain, bukan?” gumam Kinar. Kinar membuka lembar demi lembar buku itu, ternyata isinya adalah cerita Cupumanik Astagina yang sama seperti yang pernah dia pelajari saat di SMA dulu. Kinar tersenyum senang. Tak terasa hari sudah menjelang sore. Kinar berniat mengembalikan buku itu ke rak semula, tiba-tiba ada sebuah kaca bening yang terjatuh dari kain yang membungkus buku itu. Kaca itu berkilau-kilau warnanya, Kinar memejamkan mata karena kaca itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Kinar sangat ketakutan sampai-sampai Kinar takut membuka matanya. Kinar berusaha mengintip, ternyata kaca itu sudah tidak mengeluarkan cahaya berkaliauan. Kinar membuka kain pembungkus buku itu untuk membungkus kepingan kaca yang bentuknya tidak berarturan. Kinar takut tangannya akan tergores kaca dan berdarah, maka dia mengambil kepingan kaca itu menggunakan kain pembungkus buku. Dengan cepat, Kinar memasukkan bungkusan kain itu ke dalam tasnya. *** Winda dan Beni menuju ke pos informasi karena hari sudah sore. Winda tidak suka dengan kembalinya Niken, apalagi Niken sepertinya dengan sengaja berusaha masuk ke dalam tim mereka. Winda melihat Arya dan Niken sedang beres-beres. “Arya! Kami mau pulang!” ucap Winda dengan nada galak, “aku lewat depan perpustakaan daerah, biar aku yang jemput Kinar kalau kamu masih sibuk sama Niken!” “Eh! Jangan, Win! Aku aja yang jemput Kinar! Aku sudah janji,” jelas Arya. Winda menghela napasnya dengan penuh kelegaan, ternyata Arya tidak begitu terpengaruh oleh kembalinya Niken. Niken menundukkan kepalanya saat mendengar Arya akan menjemput Kinar. “Aku duluan ya!” Arya meninggalkan pos informasi dengan tergesa-gesa. Arya baru saja mendapatkan pesan WA dari Kinar kalau dia sudah mau pulang naik ojek. Arya tidak mau terlambat menjemput. Jeep yang dikemudikan Arya melaju kencang saat keluar dari pelataran situs. Niken dan Winda berjalan menuju ke parkiran motor sedangkan Beni sudah mendahului mereka. “Arya lagi dekat sama Kinar, Win?” tanya Niken tanpa basa-basi. Winda sempat terkejut, dia tidak menyangka Niken berani menanyakan hal itu kepadanya. “Arya sih masih belum luluh hatinya, tapi Kinar emang suka sama Arya. Cocoklah mereka! Kinar juga cantik dan ngga punya pasangan,” sindir Winda. Niken memandang Winda tanpa ekspresi. “Dasar perempuan aneh!” gumam Winda dalam hati. Winda mengambil motornya yang terparkir di samping motor Niken. “Sampai besok ya, Win!” “Lho? Besok ke sini lagi?” tanya Winda bingung. “Aku akan sering ke sini!” Niken tertawa. *** Kinar sudah bersiap naik ke atas ojek yang dipesannya. Tiba-tiba, Kinar mendengar suara klakson mobil yang sangat berisik. Diin! Diinn! Diinnn! Arya memarkir mobilnya di tepi jalan lalu keluar dengan tergesa-gesa! “KINAR!” Kinar terkejut dan menoleh ke arah datangnya suara. Arya berlari-lari ke arahnya. “Mas Arya?” “Sudah dibilang tunggu sebentar! Ngga sabaran banget sih?!” Arya kesal. Si tukang ojek lebih kesal lagi. “Ini gimana? Jadi naik ndak, Mbak?” tanya si tukang ojek. “Berapa bayarnya?” tanya Arya. “Lima belas ribu!” Arya mengeluarkan uang dua puluh ribuan, “Nih! Ambil kembaliannya!” Arya menarik tangan Kinar menuju ke mobilnya. Kinar menahan senyum, lalu masuk ke dalam mobil. Kinar sedikit berbunga-bunga karena Arya bela-belain menjemputnya. “Aku pikir Mas Arya ngga jadi jemput.” Kinar mencoba membuka percakapan. “Kan tadi udah bilang, aku mau jemput!” “Aku pikir Mas Arya masih sibuk sama mantannya!” jawab Kinar sambil melihat aspal jalanan. “Cuma urusan kerjaan, ngga ada kata mantan. Jam pulang ya pulang!” Arya melirik Kinar. “Aku jadi rugi hari ini!” jelas Kinar. “Rugi? Kenapa?” tanya Arya. Kinar menatap Arya, “Aku jadi ngga ketemu Mas Arya seharian!” “Trus? Bikin muka jelek di status WA?” Arya terkekeh. “Biarin aja! Itu muka jeleknya emang buat Mas Arya! Ngapain nyuruh aku ke perpus? Aku jadi ngga bisa ngawasin yang lagi nostalgia!” goda Kinar. Arya menatap Kinar dengan tajam. “Duh, salah ngomong deh gue!” batin Kinar. -Hening- Mereka akhirnya sampai di rumah dengan selamat dan disambut oleh Ibu Ningsih seperti biasa. Ibu Ningsih ini seperti seorang Ibu yang setia menunggu anak dan menantunya pulang ke rumah. Setelah makan malam, Kinar sengaja duduk di ruang keluarga yang jadi satu dengan ruang kerja Arya. Kinar sedang duduk manis sambil membuka laptopnya. Arya keluar dari kamar dan melihat Kinar duduk di sofa. “Sudah direvisi yang salah-salah kemarin?” tanya Arya dengan nada lembut. “Sudah kok. Ini sudah hampir selesai.” “Coba aku lihat!” Arya duduk di samping Kinar, sangat dekat. Mereka memandang layar laptop. Kinar berdebar-debar sepeti pengantin yang duduk di pelaminan saja rasanya. “Ehmm… sudah betul kan, Mas Arya?” Arya diam saja sambil menggerakkan mouse untuk mengecek pekerjaan Kinar. Mereka begitu dekat sampai-sampai Kinar takut kalau debar jantungnya terdengar oleh Arya. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD