Pagi-pagi benar Kinar sudah mandi dan bersiap untuk berangkat ke perpustakaan daerah. Kinar berpapasan dengan Bu Ningsih di ruang makan, saat Kinar hendak minum.
“Lho? Kinar sudah mau berangkat? Ibu belum selesai masak.”
“Ngga apa-apa, Bu! Saya sengaja berangkat pagi karena mau mampir ke perpustakaan dulu. Biar nanti ngga kesiangan pergi ke situs, Bu.”
“Aduh! Jadi ndak makan dong?” ucap Bu Ningsih dengan gaya bicara khas orang Jawa alias medok.
“Ibu jangan khawatir ya! Kinar bisa makan apa saja nanti di pinggir jalan, nanti kalau ada warung, biar Kinar mampir.”
“Lain kali kalau berangkat pagi bilang ya, Kinar! Ibu jadi ndak enak ini.”
“Ah, Ibu! Kinar jadi sayang Ibu deh kalau kayak gini!” Kinar terkekeh.
“Walah… walah… nduk, kamu ini bisa saja. Ibu berharap kamu bisa jadi anak mantunya Ibu!”
“Eh, Ibu nih! Nanti Mas Arya marah lho!”
“Kamu yang sabar ya sama Arya. Dia memang kadang maunya menang sendiri. Maklum dia anak tunggal, anak Ibu satu-satunya.”
“Iya, Bu. Bu, Kinar berangkat sekarang ya!”
“Kamu naik apa?” tanya Bu Ningsih.
“Naik ojek aja, Bu!”
“Ojek? Gadis secantik kamu naik ojek? Duhh… Ibu jadi khawatir! Kok ya ndak bareng Arya aja?”
“Mas Arya masih tidur, Bu.”
“Biar Ibu yang bangunin!”
“Eh! Jangan, Bu! Mas Arya yang suruh saya ke perpustakaan kok, Bu.”
Bu Ningsih menghentikan langkahnya karena dicegah Kinar.
“Ya sudah, tapi hati-hati ya!”
“Ya, Bu! Kinar pamit ya, Bu!”
Bu Ningsih memandang kepergian Kinar dengan cukup was-was karena Kinar adalah pendatang di kota ini, Bu Ningsih takut kalau Kinar tersesat di jalan. Selang setengah jam kemudian Arya keluar dari kamarnya dan turun ke ruang makan. Bu Ningsih sudah ada di meja makan bersiap menemani Arya sarapan.
Arya menoleh ke kursi makan yang biasanya jadi tempat duduk Kinar saat makan bersama mereka.
“Cari siapa?” tanya Bu Ningsih.
“Kinar belum bangun?” tanya Arya.
“Lho? Katanya kamu yang nyuruh Kinar pergi ke perpustakaan pagi-pagi?”
Arya hampir tersedak. Dia memang menyuruh Kinar untuk belajar sumber sejarah yang benar tapi tidak sepagi ini dan tidak hari ini saat dia akan mengadakan briefing yang sempat tertunda.
“Naik apa Kinar, Bu?” tanya Arya.
“Tadi naik ojek katanya.”
“Bu, Arya mau nyusul Kinar dulu saja ya!”
“Lho? Kamu juga ndak makan?” Bu Ningsih bingung.
“Itu nanti Kinar sampai di perpustakaan belum ada orang, Bu. Perpustakaan baru buka jam 09.00!” jelas Arya.
“Ya sudah kalau gitu cepetan susul Kinar sana!”
***
Arya melajukan mobilnya menyusul Kinar ke perpustakaan. Kinar pasti sudah sampai di sana. Dari kejauhan, Arya melihat seorang gadis cantik duduk di tangga masuk perpustakaan. Arya memarkir mobilnya lalu berjalan mendekati Kinar. Kinar terkejut.
“Mas Arya?”
“Ngapain pagi-pagi ke sini?!”
“Mas Arya kan yang nyuruh aku buat belajar lagi di perpustakaan!”
Arya menghela napasnya. Berusaha bersabar menghadapi wanita cantik di hadapannya ini.
“Tapi bukan sekarang, Kinar…. Pagi ini rencanaya aku mau briefing pagi menggantikan briefing kemarin sore yang tertunda,” jelas Arya.
“Trus ngga jadi ini perpusnya?”
“Nanti setelah briefing aku antar ke sini lagi.”
“Aku naik ojek aja. Mas Arya pasti banyak kerjaan.”
“Ya udah, dilihat nanti aja. Tapi aku sempatkan antar kamu,” jelas Arya.
Kinar tersenyum, hantinya langsung merasa hangat saat Arya mengatakan kalau nanti Arya akan mengantarnya ke perpustakaan. Walaupun mereka sudah berbaikan tapi seperti biasa, Arya tetap dingin.
KRUK KRUK KRUK
Arya melirik Kinar saat mendengar suara perut Kinar yang protes minta diisi. Kinar meringis
“Belum makan?” tanya Arya.
“Hehe... belum. Tadi buru-buru berangkat.”
“Mampir bubur ayam dulu ya!”
“Hah? Bubur ayam?”
Kinar tidak menyangka Arya akan mengajaknya sarapan bareng.
“Kenapa? Ngga suka bubur ayam?” selidik Arya.
“Suka kok!”
Kinar buru-buru menjelaskan. Kinar tidak mau gagal makan bareng Arya pagi ini.
Sesampainya di warung bubur ayam yang cukup ramai, Arya mengajak Kinar duduk di ujung warung. Masih ada satu meja di sana. Arya dan Kinar duduk berhadap-hadapan. Kinar memandang Arya yang berpura-pura melihat menu, padahal kan menunya cuma sedikit! Cuma bubur ayam dan 3 jenis minuman yaitu teh, kopi, dan air mineral.
Kinar mencuri pandang wajah Arya. Kalau dideskripsikan, wajah Arya ini benar-benar wajah orang Indonesia. Arya tampan khas lelaki sejati, kulitnya sawo matang, wajahnya tegas tidak ada lembutnya sama sekali. Rahangnya ditumbuhi rambut-rambut pendek dan kasar. Tatapan matanya tajam bahkan bisa dibilang sedikit kejam.
“Pesan apa?” tanya Arya pada Kinar.
“Bubur ayam sama teh anget aja. Mas Arya pesan apa?”
“Bubur ayam sama kopi,” jawab Arya.
“Oke! Mas Joko!” Kinar memanggil si tukang bubur ayam.
Arya melotot melihat Kinar yang akrab sama tukang bubur ayam.
“Ya, mba Kinar! Sebentar!”
Mas Joko yang barusan dipanggil oleh gadis cantik macam Kinar langsung menuju ke meja Kinar dan Arya secepat kilat.
“Bubur ayam dua, teh anget satu, kopi satu ya!” Kinar menyebutkan pesanannya.
“Siap, Mba Kinar! Ditunggu sebentar ya!”
“Oke!” jawab Kinar.
Arya menghela napasnya.
“Kamu kenal si Joko?” tanya Arya.
Arya yang lahir dan menua di kota ini saja tidak pernah tahu kalau si tukang bubur ayam itu namanya Joko.
“Bukan kenalan secara khusus sih! Pas aku sama Winda makan di sini dia sempat tanya namaku, kan aku baru pertama makan di sini pas sama Winda itu. Jadi, mungkin dia pengen tahu aja!” jelas Kinar.
“Jangan sembarangan kenalan sama orang!” protes Arya.
“Hah? Emangnya kenapa?” Kinar mengerutkan dahinya.
Arya diam saja tidak menjawab pertanyaan Kinar. Tak berapa lama kemudian mereka telah menyantap bubur ayam buatan Mas Joko.
***
Di pos informasi situs Bhre Kahuripan.
“Ini Arya sama Kinar kok belum dateng sih?” Winda menengok ke luar pos informasi.
“Iya nih! Katanya mau briefing?”
Suara mobil Arya memasuki tempat parkir di situs.
“Nah, itu mereka!” pekik Winda.
Arya dan Kinar berjalan beriringan menuju ke pos informasi.
“Kok telat sih, Ar!” protes Beni, “katanya mau briefing.”
“Sorry, tadi jemput Kinar dulu ke perpustakaan daerah!” jelas Arya.
“Lhah? Kamu ngapain pagi-pagi ke sana?” tanya Winda.
“Aku pikir jam 7 sudah buka, jadi aku bisa mampir dulu!” jelas Kinar.
“Buka jam 09.00 kan, Ar? Kamu ngga kasih tahu Kinar?” tanya Beni.
“Aku ngga tahu dia mau ke sana!” jelas Arya pendek.
“Ini jadi briefing?” tanya Beni.
“Iya! Kita briefing sekarang! Sebenernya ini materi briefing kemarin sore tapi karena ada anggota kita yang lagi sibuk jadi kita tunda hari ini,” Arya melirik Kinar yang sedang cemberut.
“Jadi, yang mau dibicarain tuh apa ya?” Kinar kesal karena disindir.
“Kita mau melakukan survey penyelamatan karena menurut informasi dari kepala desa, ada temuan struktur batu bata kuno di sebelah selatan dekat rumah warga. Warga melapor ke kepala desa dan kemarin kepala desa sudah kemari untuk menginforasikan. Kita survey dulu supaya bisa tahu ada berapa kotak test pit yang mau kita gali,” jelas Arya.
“Apa itu masih termasuk pagar pembatas sisi selatan?” tanya Beni.
“Bisa jadi. Kalau itu benar maka cakupan situs ini lebih luas dari perkiraan kita!” Arya tampak sangat bersemangat.
“Hari ini kita ke sana?” tanya Winda.
“Iya! Tapi nanti aku mau antar Kinar sebentar ke perpustakaan ya! Pekerjaan Kinar juga harus segera selesai karena pusat informasi situs ini harus cepat diresmikan!”
“Aku naik ojek aja ngga apa-apa kok! Jadi, kalian bisa melanjutkan pekerjaan. Mas Arya juga dibutuhkan di sini kan?”
“Aku antar aja! Nanti pulangnya aku jemput!” Arya menegaskan.
“Udah deh Kinar! Iyain aja sih!” Winda menahan tawanya.
***
Mereka mendatangi tempat yang diduga ada temuan batu bata kuno. Mereka segera bekerja untuk melakukan survey bersama dengan beberapa pekerja galian.
“Pak Arya! Ada tamu!” teriak salah satu pekerja.
“Siapa?” tanya Arya.
“Katanya asisten sekretarisnya Pak Kepala Desa!” jawab pekerja itu.
“Asisten sekretaris?” gumam Arya.
Arya meninggalkan Kinar, Beni, dan Winda unuk menemui sang asisten sekretaris Pak Kades. Sesampainya di pos informasi.
“Selamat siang, Bu….”
Arya terbelalak melihat siapa yang datang.
“Arya!” Niken menyapa Arya.
“Kamu?!”
“Iya ini aku. Aku diminta oleh ibu sekretaris kepala desa untuk membuat laporan dari survey penyelamatanmu!”
Niken adalah mantan kekasih Arya. Niken kembali ke kota ini karena dia diterima sebagai PNS dan menempati tugas di kantor sekretaris desa.
“Kenapa harus ditugaskan di sini?!” Arya kesal.
“Apa? Aku… aku memang ditempatkan di sini!” jelas Niken.
“Baiklah! Apa yang mau kamu tahu? Apa yang mau kamu catat??” tanya Arya dingin.
Niken melaksanakan tugasnya dengan professional, membuat Arya sedikit nyaman.
***
Kinar, Beni, dan Winda kembali ke pos informasi. Winda memperhatikan pos informasi, rupanya ada seorang wanita muda yang sedang bersama Arya.
“Ben! Bukankah itu Niken?” Winda mengucek-ucek matanya.
Beni terbelalak, “Iya, itu Niken! Mau apa dia di sini?”
Kinar ikut memperhatikan wanita muda itu dengan seksama.
“Oh, itu Niken?” tanya Kinar.
“Sepertinya iya!” jawab Winda.
Mereka bertiga semakin dekat ke pos informasi.
“NIKEN??” pekik Winda tak percaya.
“Halo, Mba Winda!” sapa Niken dengan hangat.
“Winda, Beni, dan Kinar kenalkan ini Niken. Dia adalah asisten sekretaris kepala desa. Dia diberi tugas untuk mencatat informasi di situs ini. Aku minta kalian bisa membantu Niken!”
Arya memandang Niken tak berkedip, rupanya itu adalah akibat dari sisa-sisa rasa cinta yang masih ada di hati Arya. Kinar seketika tidak bersemangat.
“Aku izin berangkat ke perpustakaan sekarang. Mari semuanya, saya permisi dulu!” ucap Kinar.
Kinar melangkahkan kakinya dengan tidak bersemangat meninggalkan pos informasi.
“KINAR!” teriak Arya.
Arya menghentikan langkah Kinar.
“Biar aku yang antar!”
Kinar dan Arya saling berpandangan, Kinar kemudian memandang Niken yang menundukkan kepala tak mau melihat.
“Ngga usah, Mas. Lagian Mas Arya masih ada tamu. Aku naik ojek aja.”
tbc