Emran merebahkan tubuhnya di sofa. Helaan napas berat keluar dari mulut laki-laki itu. Dia memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Qisya langsung menghampiri sang suami dengan teh hangat di tangannya. Dia duduk di samping Emran setelah menyimpan secangkir teh itu. "Mas pasti capek banget karena pulang kerja haru mengurusi masalah Bu Latifah," gumam Qisya dengan perasaan berat. "Tidak apa-apa, Sayang. Sama tetangga, kita harus saling membantu. Justru aku kasihan sama Bu Latifah. Bayangkan saja, 3 tahun dia hidup bersama arwah anaknya yang penasaran dan pemarah," ujar Emran menghela napas beratnya. "Aku rasa, kalau dibiarkan lebih lama lagi, Bu Latifah bisa terganggu jiwanya," timpal Qisya. "Itulah mengapa kita wajib membantunya, Sayang. Dan semoga saja aku memang bisa membantu." "I

