Aroma roti panggang dan telur orak-arik menguar dari dapur kecil rumah mereka. Qisya menyusun sarapan di meja, masih mengenakan daster bunga-bunga dan apron kecil yang sedikit belepotan mentega. Zidan yang masih setengah ngantuk duduk di kursi tinggi, sambil memeluk boneka kelincinya. Emran belum keluar dari kamar. Qisya mengintip ke dalam, dan mendapati suaminya duduk di tepi ranjang, sudah rapi, tapi tak bergerak. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, tangan terkepal di atas lutut. Ada sesuatu yang berbeda dari pagi biasanya. “Mas…” panggil Qisya lembut. “Sarapan udah siap.” Emran menoleh pelan. Mata kirinya tampak jauh lebih gelap pagi ini. Ia berdiri, berjalan menuju meja makan dengan langkah berat. Saat duduk, dia tidak langsung menyentuh makanannya. Qisya menyodorkan cangkir teh

