Pagi itu langit Jakarta tampak mendung, seolah turut berduka atas kepergian Aufa. Persiapan pemakaman berlangsung tenang namun penuh kesedihan. Melia mengenakan gaun hitam sederhana, wajahnya pucat dan lelah, namun ia berusaha berdiri tegak di sisi Irfan. Aura, yang juga berpakaian hitam, tidak pernah melepaskan genggaman tangan ibunya, seolah tidak ingin terpisah barang sedikit pun. Rombongan menuju pemakaman lengkap dengan kehadiran orang tua Melia, Pak Harja dan Bu Harja, serta Rendi, adik bungsu Melia. Mereka ikut menemani prosesi pemakaman Aufa, yang akan dimakamkan di pemakaman elit yang telah disiapkan oleh Irfan. Satu per satu keluarga memasuki area pemakaman dengan wajah muram. Pak Harja tampak tenang meskipun matanya sembab, sementara Bu Harja menggenggam tangan suaminya erat,

