5 | Memisahkan Diri

1015 Words
Aku baru saja pulang ke rumah setelah seharian penuh mencari tempat kos yang cocok dengan diriku, baru saja masuk ke dalam kamarku, pembantu rumahku mengatakan kalau ayahku ingin bertemu denganku di ruang kerjanya. Hal hasil, aki menaruh tasku di atas tempat tidurku dan mengganti sepatuku dengan sandal terlebih dahulu sebelum akhirnya aku bergegas menemui ayahku di ruang kerjanya yang terletak di lantai satu. Saat berjalan masuk, aku sempat melihat ke arah meja makan. Di sana, sudah duduk ibu dan juga kakaku. Makan malam yang biasanya hanya ada kami bertiga rupanya malam ini ada ayahku yang akan ikut bergabung, karena itu kulemparkan sebuah senyuman pada mereka sebelum akhirnya aku mengetuk pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam. "Papa panggil Ben? Ada apa? Mau membicarakan soal kuliah atau apa?" Aku langsung saja membuka pembicaraan dan juga inti dari dia yang memanggilku ke sini. Bukan aku sok tahu dengan apa yang ingin dia bicarakan, hanya saja. seorang Zaki yang terhormat ini tidak akan mungkin memanggilku dengan cuma-cuma dan hanya menanyakan kabar diriku saja, pastilah dia akan menanyakan hal yang memang menguntungkan untul dirinya sendiri. "Kenapa tadi kamu kabur sama anak brandalan itu?" Aku mengerjab saat pertanyaan itu hinggap di indera pendengarakanku. Sambil memasang ekapresi datar, aku menjawab. "Kata siapa Ben kabur?" "Papa tau semuanya kamu nggak usah bohong karena nggak guna." Aku menghela napas pendek, saat ayahku mengulangi pertanyaannya tentang kenapa aku kabur dari kampus tersebut. "Ben nggak mau masuk kampus itu, Pa." "Terus kamu mau masuk kampus mana? Itu kampus udah paling bagus, Papa aja sangsi kamu bisa masuk situ tanpa ada campur tangan orang dalam." "Soal masa depan apa Ben nggak bisa nentuin sendiri mau jadi apa Ben nanti, Pa?" Sialan sekali, rupanya tadi aku ketahuan kabur dari kampus itu. Kupikir semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan sangat lancar, tapi rupanya tak ada yang benar-benar baik-baik saja saat aku masih diikuti oleh orang-orang suruhan ayahku. "Kalau ini soal kamu yang masih ingin jadi Dokter, Benjamin.... Papa kasih tahu sekali lagi, kalau cita-cita jadi dokter itu nggak keren sama sekali." "Terus? Jadi anggota Dewan Papa pikir keren? Enggak Pa, Ben lebih suka di panggil Pak Dokter dari pada Pak Dewan." Dalam kurun waktu singkat, suasana di ruangan ini sudah berubah. Suhu udara yang dihasilkan oleh pendingin ruangan nampak begitu tak sejuk, alih-alih merasakan dingin aku justru sedang merasakan panas. Jantungku berdegup tak takuran karena memendam emosi, aku ingin sekali melangkah maju dan menampar wajahnya namun aku tahu kalau itu adalah hal yang sama sekali tidak diperbolehkan. "Jangan karena Papa nggak pernah pukul kamu, kamu jadi seenaknya gini ke Papa, Ben. Kalau Papa bilang a kamu harus lakuin, nggak perlu bantah." "Ben udah besar, Pa. Nggak boleh apa sekali aja Ben hidup sesuai dengan kemauan Ben sendiri?" Dari kecil, meskipun tak pernah dia anggap tapi akulah anak yang paling menuruti perintahnya. Mulai dari masuk sekolah apa hingga harus mengikuti kegiatan apa saja di sekolah sudah aku lakukan, lalu tak bisakah kali ini dia berbaik hati kepadaku saja dulu? Perihal akan jadi apa aku nantinya biarlah aku yang menentukan sendiri. "Hidup kamu, semuanya milik Papa." Melihat perubahan raut wajah ayahku, aku tahu kalau saat ini dia sedang dalam mode tidak boleh disenggol sedikit. Salah bicara, aku mungkin akan langsung dihabisinya. "Pa...." "Jangan merengek kamu laki-laki!" "Karena Ben adalah laki-laki maka sudah seharusnya jalan hidup Ben ya Ben yang menentukan sendiri." Jawabku, kembali tak mau kalah dengannya. Untuk kali ini, aku tak akan menyerah. Aku akan terus melawannya. Kalau tidak bisa secara sembunyi-sembunyi maka aku akan melawannya secara terang-terangan, agar dia tahu kalau aku sudah dewasa dan berhak atas hidupku sendiri. "Kamu serius mau jadi dokter?" "Iya." Ayahku bangkit dari duduknya, dan berjalan kearahku. Dalam sekejap, kami sudah bertatap muka dengan jarak yang cukup dekat sehingga aku bisa melihat wajah ayahku yang mengeras karena kesal dan memandangku dengan sorot mata yang merendahkan. "Keluar dari rumah, dan jangan anggap kami keluarga kamu lagi. Dan, jangan panggil saya Papa. Saya nggak suka, punya anak pembangkang seperti kamu Benjamin." Aku terkekeh kecil, sembari tetap berpandangan dengannya. Karti ASnya sudah diakeluarkan, mengusirku. Dia pikir, dengan dia mengatakan akan mengusir diriku aku akan takut dan mengatakan kalau aku mau masuk kuliah hukum dan melupakan cita-citaku. Tidak, tidak sama sekali aku akan mundur dari peperangan ego ini. "Oke." Kataku, dan berpaling pergi. Mengabaikan dia, yang terus saja meneriaki namaku dengan nada yang kesal. "Kenapa?" Ibu dan kakakku yang mendengar ayahku berteriak dengan sangat kencang menghampiriku yang sudah akan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarku, tak sempat menjawab mereka ayahku sudah keluar dari dalam ruang kerjanya sembari membanting pintu. Sadar karena posisiku sedang tidak bisa baik-baik saja maka yang selanjutnya aku lakukan adalah menaiki anak tangga dan mengabaikan perkataan dari kakaku juga ayahku yang masih terus menerus meneriaki namaku seperti orang yang kesetanan. Aku tidak perduli pada apapun saat ini, karena yang sedang ada di dalam pikiranku adalah bagaimana aku bisa segera keluar dari dalam rumah ini. Aku sudah mendapatkan persetujuan dari ayahku secara tidak langsung kalau aku boleh untuk keluar dari rumah ini hanya saja aku tidak boleh membawa identitas diri mungkin, karena seperti apa katanya kalau setelah ini hubungan kami sudah bukan keluarga lagi. Dia tidak mau menjadi ayahku dan aku pun tidak mau lagi menjadi anaknya, karena kalian bisa lihat sendiri bagaimana perlakuan dan perkataannya padaku selama ini, tidak baik bukan? Seorang ayah adalah seseorang yang akan ditiru oleh anaknya karena seorang ayah adalah seorang panutan bagi anak-anaknya. Dari pada berkata 'ayo solat kalau nggak solat nanti masuk neraka' maka seorang ayah harusnya berkata 'ayo solat bersama supaya kita bisa masuk surga bersama' seperti contoh kecil itu, tidak bisakah ayahku mengatakan 'ayo kita pikirkan masa depan kamu bagaimana, kalau kamu tidak suka hukum tapi Papa tidak suka jadi dokter, bagaimana dengan profesi yang lain, hal apa yang kamu sukai selain menjadi seorang dokter?'. Seandainya saja ayahku berkata seperti itu, mungkin dari dulu keluarga ini benar-benar akan menjadi keluarga yang harmonis seperti apa yang selalu dia katakan kepada media kalau keluarganya adalah keluarga yang harmonis dan sempurna. Sekarang, apa yang akan dia katakan kepada publik? Jika anak bungsunya pergi dan memilih jalan hidupnya sendiri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD