4 | Tujuan Hidup

1032 Words
Hingga pada akhirnya, aku tak jadi pergi dari rumah hari ini. Sial! Padahal aku hanya tinggal melangkah, membawa tas dan jangan menoleh kembali. Tetapi aku, malah gagal melakukan hal itu hanya karena Kakakku bertanya akan pergi kemana aku hari ini dengan membawa tas yang berisikan barang-barang yang penuh? Aku tahu, kalau aku mengatakan hal berupa alasan Kakakku pasti akan tahu kalau aku berbohong sebab itu lah yang kemudian aku lakukan setelahnya adalah membawa tas itu turun ke bawah, menemui ibuku dan mengatakan kalau di dalam tas itu adalah baju-bajuku yang sudah tidak terpakai lagi dan dia bisa memberikannya kepada siapapun yang membutuhkan. Dan di sini lah aku berakhir pagi ini, di kampus yang ayahku pilihkan. Katanya, aku di suruh melihat-lihat isi kampus, soal pendaftaran ayahku yang akan mengurusnya. Aku hanya di mintai handir jika ada tes tes yang memang membutuhkan aku untuk hadir, aku iyakan saja kemauan ayahku. Namun, aku pun tak sepenurut apa katanya karena nyatanya di dalam tas yang aku bawa pagi ini aku pun sudah menyiapkan baju ganti lainnya yang akan aku gunakan untuk kabur dari penglihatan orang suruhan ayahku. Yap, memang aku datang sendiri menggunakan sepeda motorku, tapi orang suruhan ayahku pastilah ada di dekat sini untuk mengawasi aku sebab itu lah aku melakukan penyamaran kali ini agar bisa kabur dari kampus ini. Keluar dari dalam toilet setelah mengganti pakaianku, aku sudah bertemu dengan Bimo. Aku memang menyuruhnya untuk datang, agar kami bisa pergi bersama menggunakan mobil atau motornya. Karena kalau aku pergi keluar dari dalam kampus ini masih dengan membawa motorku pastilah aku akan langsung ketahuan, sebab itulah aku meminta satu-satunya sahabatku itu untuk datang menjemput dan untung saja dia mau. Sambil berjalan menyusuri koridor kampus, aku yang baru saja dia berikan masker mencoba mencuri-curi pandang ke arah kiri dan kananku. Niatnya, aku ingin mencoba mencari tahu apakah aku ketahuan atau tidak namun yang aku dapatkan malah toyoran kepala dari Bimo. "Cewek cakep tuh di depan, Ben." Kali ini, gantian aku yang menoyor kepala Bimo dengan lumayan kencang sehingga membuat dia sempat kehilangan keseimbangan dalam berjalan sebentar. "Kabur gimana kabur, kok malah lihat cewek!" Ucapku kepadanya, dan lalu melewati perempuan yang Bimo katakan cantik tadi. Padahal, aku hanya melihat wajahnya saja dari samping. Tapi benar apa yang dikatakan Bimo tadi aku tidak akan berpikiran munafik kalau perempuan tadi memang cantik, rambutnya yang berwarna cokelat dan mata belo nya. Cukup nyentrik dengan gaya pakaiannya yang terkesan tomboi, saat aku melintasi tubuhnya tadi. Aroma harum langsung tercium oleh hidungku, wajahnya meskipun aku belum melihat secara utuh tetapi aku tahu kalau dia memiliki wajah yang jutek. Tak ada kesan ramah sama sekali pun terbukti dengan mulutnya yang selalu rapat dengan gesture tubuh yang cukup sombong. Dari gayanya, aku bisa tahu kalau dia sama sepertiku berasal dari keluarga berada. Dan dari gerak-geriknya aku pun sudah tahu, kalau dia pun sama sepertiku sedang mencoba lari dari seseorang juga. Kenapa aku bisa tahu? Karena di tangan sebelah kanannya dia memegang sebuah topi. Yang mana mungkin saja dia sebenarnya jarang menggunakan topi itu tapi terpaksa harus dia gunakan hari ini untuk menghindari seseorang. Aku tak tahu siapa yang sedang dia hindari, namun dari gesture tubuhnya yang sedang memandang keseliling dengan gusar sepertinya orang yang sedang ingin dia hindari saat ini pun sama berbahayanya untuk masa depannya saat ini. "Kita mau ke mana dulu, Ben?" Tanya Bimo, kami masih menelusuri koridor kampus saat ini. "Cari kosan." Suhutku. "Tempat yang kemarin aja ambil." "Ogah." "Kenapa?" Aku mendesah malas. "Lo juga liat sendiri tempatnya kemarin kaya apa, Mo." Aku menjeda sebentar kalimatku, mengambil waktu sebentar untuk berpikir tindakan apa yang harus aku lakukan setelah ini, karena tidak mungkin kalau aku terus terusan memberikan bajuku kepada orang lain saat ketahuan oleh Kakakku. "Cari yang deket sama kampus yang gue mau aja, Mo. Lo ada kenalan nggak di sana?" "Di sana itu mahal-mahal Ben perbulannya, nggak cocok sama lo yang niatnya mau kabur. Nanti lo kepusingan sendiri buat bayar perbulannya gimana, coba aja kalau lo nggak percaya sama apa yang gue omongin ini." Seperkian detik kemudian, aku baru sadar kalau aku ini akan kabur dari rumah. Yang artinya, mana ada orang yang kabur dari rumah membawa uang yang cukup banyak kecuali orang itu adalah perampok atau sejenis orang jahat lainnya pastilah mereka pergi dari rumah dengan membawa banyak sekali uang dan juga barang-barang berharga yang bisa mereka jual nantinya. Lalu kalau aku? Akan seberapa banyak uang yang bisa aku bawa pergi dari rumah? Di dompetku saat ini, aku hanya memegang uang cash tiga ratus ribu rupiah. Memang, ada dua kartu atm dan satu kartu kredit yang pastinya semua kartu itu dari ayahku. Kalau aku gunakan ketiga kartu itu mungkin saja aku bisa menyewa tempat tinggal untuk enam bulan atau dua tahun ke depan tetapi lagi-lagi kalau aku gunakan semua uang yang ada di dalam kartu tersebut pastilah ayahku akan curiga dan lalu mengetahui niatku sebenarnya. "Ya udah cari yang agak murah aja dikit, Mo." "Ya kalau mau di tempat yang kayak kemarin, Ben." "Jangan yang terlalu ramai gitu apa nggak bisa?" "Yah elu, Ben. Mau kabur aja pilih-pilih tempat! Yang penting bisa buat istirahat dan tempat tinggalnya pakai AC deh, masalah ramai atau enggaknya itu urusan belakangan Ben." "Lu tau gue Mo, gue suka nggak nyaman sama tempat yang terlalu ramai dan yah yang terlalu begitu lah." "Yaudah lo tinggal di rumah gue aja." "Itu sih udah pasti langsung ketahuan gue." Kalau aku tahu kabur itu akan semerepotkan ini mungkin aku akan mempersiapkan diri untuk pergi dari rumah dari jauh-jauh hari, pelan-pelan menyimpan uang dan pelan-pelan membawa barang-barang yang sekiranya aku perlukan nanti. Tapi hidup memang tidak bisa kita tebak, karena hidup adalah tentang perjalanan bukan tujuan. Kalau aku memilh begini, pastilah perjalanan hidupku akan berubah tetapi tidak dengan tujuan hidupku yaitu kematian. Karena hidup iti sedekat adzan dan sholat, saat lahir aku diadzankan dan ketika meninggal nanti aku akan di sholatkan. Dan, ketika aku di sholatkan nanti itulah tujuan akhir hidupku: kematin. Tidak ada yang bisa menolaknya karena semua orang di muka bumi ini pun pasti sudah tahu kalau kita semua akan meninggal ketika waktunya sudah tiba nanti, sebab itulah saat ini yang perlu aku lakukan hanyalah terus berjalan agar aku bisa cepat sampai pada tujuan akhir hidupku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD