3 | Kegundahan Hati

1048 Words
Hari ini aku berniat pergi dari rumah, entah kemana aku pun tidak tahu. Tempat tinggal yang beberapa hari lalu telah aku temui dengan Bimo rupanya belum cukup bagus untuk aku tinggali. Tempatnya terlalu ramai, perempuan dan laki-laki boleh tinggal di satu atap yang sama singkatnya tempat itu terlalu bebas untuk aku yang tak suka tempat ramai. Bukan, bukannya aku munafik, bukan pula aku tak suka dengan hal-hal seperti itu hanya saja untuk seseorang yang tak pernah suka tempat ramai seperti itu, tempat itu memang bukanlah sebuah pilihan yang baik untuk ditinggali. Aku suka tempat tinggal yang nyaman dan aman, yang bisa membuatku beristirahat sebentar dari kegiatan-kegiatan yang aku lakukan di luar rumah sebab itu lah aku tak memilih untuk mengambil tempat tinggal itu kemarin. Dan sekarang, aku bingung harus pergi kemana. Padahal aku, sudah sangat ingin pergi dari rumah ini. Bukan, bukan karena rumah ini tak begitu nyaman. Hanya saja, salah satu penghuni atau bisa dibilang pemilik tempat tinggal ini benar-benar sudah membuat aku merasa tak nyaman sekali. Niatku pergi dari rumah itu sederhana, aku hanya ingin membuktikan kepadanya kalau aku bisa hidup tanpa bantuan dan uangnya. Kalau aku pun pasti bisa sukses tanpa bantuannya, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan aku hanya ingin dipandang sebagai didriku sendiri bukan karena aku ini anaknya siapa. Sebab itulah aku ingin pergi dari sini. Meskipun dalam hatiku, aku pun agak berat meninggalkan rumah ini karena di sini ada ibuku. Orang yang paling aku sayangi, dan juga ada kakakku. Anak kesayangan ayahku itu, meskipun dia berbakat dalam segala hal tetapi dia selalu baik padaku dan diam-diam selalu menolongku sehingga hubungan kami sebagai kaka beradik selalu harmonis tak seperti hubunganku dengan ayahku yang mungkin mengobrol saja kami tak pernah lebih dari lima menit. Karena berbicara dengannya itu menguras tenaga dan emosi, makanya aku selalu menghindari pembicaraan panjang dengannya. Di atas kasur yang biasa aku tiduri, aku sedang melamun menatap lemari pakaianku saat ini. Apakah harus aku bawa semua pakaianku atau tidak, sebagian memang sudah aku masukan ke dalam tas ranselku. Namun aku masih berpikir-pikir kalau aku masukan semua pakaianku ke dalam tas maka ayahku pasti akan tahu kalau aku akan pergi dari rumah. Dia memang tak setiap hari berada di rumah, tetapi pegawainya atau orang yang dia pekerjakan untuk mengawasi gerak gerik kami di rumah lebih tepatnya ada di dalam rumah ini setiap hari. Menyamar sebagai tukang kebuh rumah kami, tapi siapa yang sangka kalau dia lah cepu nomor satu di rumah kami. "Ngapain ngelamun terus, Ben?" Kutengokan kepalaku ke arah pintu yang sudah terbuka, entah seberapa lama aku sudah melamun tadi yang jelas saat ini tepat diambang pintu dengan satu tangan yang masih memegang gagang pintu telah berdiri seorang perempuan yang sudah mengenakan pakaian dinasnya. Perempuan yang hari ini menggerai rambutnya, perempuan yang hari ini atau mungkin setiap hari selalu mendekati kata sempurna. Baik di mata ayahku, atau pun di mata manusia lain dia akan selalu terlihat sempurna namun aku tak sama sekali iri dengan kesempurnaan yang dia miliki. Lalu dia beranjak bergerak untuk lebih mendekat ke arahku karena mungkin dia heran, kenapa adik satu-satunya ini tak sama sekali menyahuti ucapannya dan hanya memandanginya saja. Ketika dia duduk disebelahku, benar-benar tepat disebelahku barulah aku sadar kalau seharusnya dia tak boleh masuk ke dalam kamar ini dulu karena dia pasti bisa melihat apa yang sedang aku kerjakan. Tepat disebelah kiriku ada tas ranselku yang untungnya sudah aku tutup sehingga dia tidak bisa melihat isinya, namun tetap saja aku harus selalu waspada kepadanya. Kakaku, Jesri. Diam-diam mempunyai mata yang setajam elang, jadi meskipun aku menyembunyikan apapun dari pandangan matanya dia akan tetap tahu apa yang sedang aku sembunyikan. "Mau ke mana kamu pagi-pagi gini udah rapih?" Tanyanya kemudian setelah duduk tepat disebelahku. "Ketempat teman." Jesri, kakaku. Dia adalah orang yang paling tahu tentang aku, di rumah ini. Dialah orang yang selalu mampu melindungi aku dari serangan ayahku, ibuku juga melindungiku tapi tahtanya tak sebesar tahta kakakku di rumah ini sebab itulah jika ada hal-hal yang mungkin tak bisa aku selsaikan di rumah ini pertolongan dari Jesri kakakku lah yang aku harapkan bisa membantu aku untuk menyelsaikan masalahku dengan ayahku, tapi sepertinya saat ini dia pun pasti tak akan bisa membantuku agar aku tak bertengkar dengan ayahku. Karena apa? Karena dia pun sama denganku dulu, dia ingin berkuliah di tempat yang lain namun ayahku melarangnya. Tak seperti biasanya, kakakku Jesri yang paling murah senyum ini selama sepekan menjadi sangat tak ramah kemudian. Dia sama sekali tak bisa diganggu atau disentuh, entah bagaimana kemudian emosinya kembali normal. Dia menjadi Jesri yang dulu, yang penurut, ramah tamah, penyayang dan murah senyum. Dan kejutan lainnya pun dia berikan yaitu dengan ikut masuk ke jusrusan yang ayahku pilihkan padahal sebelumnya aku sudah yakin bahwa dia akan melawan ayahku, namun rupanya tidak sama sekali dia malah tetap dan selalu menurutinya. Jadi, sambil menghela napas lelah seraya mengusap tengkuku sebentar aku lalu tersenyum kepada Kakakku yang duduk disebelahku saat ini. Aku tahu jelas apa yang dia pikirkan saat ini, tempat teman yang aku maksudkan dalam pikirannya pastilah tempat Bimo. Dan biasanya, kalau aku pergi ke tempat Bimon tak akan serapih ini tak akan sebanyak ini membawa barang apalagi membawa tas ransel. Aku tahu apa yang dia pikirkan, hanya saja aku enggan untuk bicara jujur padanya saat ini. Belum berani, dan belum terpikirkan dibenaku saat ini tentang apa yang harus aku katakan padanya kalau aku jujur kepadanya apa dia akan membantuku untuk kabur atau dia hanya akan menahanku di sini dan berkata kalau aku harus menurut tentang apa yang dikatakan ayahku karena itu semua untuk masa depanku? Berbicara tentang perjuangan, sebenarnya banyak sekali hal yang diperjuangkan oleh Kakaku. Selain masalah pendidikannya pun dengan masalah percintaannya selalu dia perjuangkan, dia memiliki pasangan yang kasta orangtuanya jauh sekali berbeda dengan ayahku sebab itulah ayahku tak pernah menyambut dengan hangat pacar kakaku setiap kali dia berkunjung ke rumah. Katanya, kalau ingin menikahi anaknya dia harus menjadi kaya, terkenal dan terhormat dulu. Kalian, boleh membenci ayahku karena sama seperti kalian aku pun sama membencinya. Karena sama seperti kalian, aku pun sering mengumpatinya dalam hati ketika dia tak berbicara. Karena dalam tutur bahasanya yang sering di publikasikan kepada publik, tak ada kesan hangat yang sering dia tunjukan kepada orang-orang di luar sana kepada kami. Keluarganya, yang selalu dia tunjukan adalah keegoisannya dan ketidak peduliannya terhadap kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD