Nayyara mengembuskan napas lega begitu melihat putri bungsunya terlelap. Satu jam menangis tentu membuat Emira kelelahan. Tak masalah menurutnya, asalkan putrinya segera pulih dari keterpurukannya setelah dikhianati tunangan sekaligus sahabatnya sendiri.
"Emira udah tidur, Sayang?" tanya Hazig.
Nayyara menganggukkan kepala. "Emira nangis kejer. Aku tak tega jadinya."
"Alvaro harus membayar air mata putriku!"
Sisa amarah Hazig membuat Nayyara ikut merasakannya. Wanita itu merasa tamparannya pada Julie masih permulaan.
"Kita biarkan Emira tenang dulu, Mas."
"Tapi pengkhianatan Alvaro tak bisa dimaafkan begitu saja, Nay!"
"Nanti kita pikirkan, Mas. Kita berdua harus istirahat dulu."
Tatapan Hazig melemah. Ia mengangguk setuju, lalu merangkul sang istri meninggalkan kamar Emira. Nayyara benar, mereka harus tidur untuk memulihkan pikiran yang sedang kacau akibat pembatalan pernikahan putri bungsu mereka.
***
"Kak Zura!"
Emira memanggil kakak perempuannya yang baru saja tiba di rumah. Bersama anak-anaknya dan Franklin, Azzura masuk ke rumah orang tuanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tentu paham dengan kesedihan adik semata wayangnya.
"Masih sedih, Dek?" tanya Azzura.
Emira mengangguk sembari mengeratkan pelukannya pada Azzura.
"Wajar kalau masih sedih, yang penting jangan berlarut-larut! Ada Ayah dan Bunda yang akan sedih kalau kamu begini terus. Kalau masa sedihnya selesai, kamu harus bangkit lagi! Pokoknya buktikan kalau kamu bisa kuat lagi!" ucap Azzura.
Franklin menatap Azzura dan Emira sambil menemani anak-anaknya bermain.
"Sepertinya kita harus membuat perhitungan dengan keluarga Lucas," ujar Hazig tiba-tiba.
"Maksud Ayah ... menghancurkan mereka?" Franklin menatap sang ayah mertua.
"Kamu tentu paham, Franklin. Kamu pemegang perusahaan milikmu dan mendiang ayahmu."
"Jadi, apa rencana Ayah?" tanya Franklin.
"Kita akuisisi perusahaan Lucas."
Franklin paham dengan suasana hati Hazig. Pria paruh baya itu memang terkenal baik hati dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Namun, sekali saja ada yang melukai dirinya atau anggota keluarganya, Hazig tidak akan memakai rasa kasihannya lagi.
Perusahaan keluarga Alvaro bukanlah saingan berat menurut Hazig dan Franklin, tetapi perusahaan yang bergerak di bidang farmasi itu cukup terkenal dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Hazig sempat ingin berinvestasi di perusahaan itu begitu Emira dan Alvaro resmi menikah, akan tetapi Alvaro telah berkhianat. Tentu akan selalu ada konsekuensi dari setiap perbuatan, bukan?
***
"Tolong, Dokter! Tolong selamatkan putriku!"
Seorang dokter berkebangsaan Indonesia mendengar teriakan seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun yang berlari masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat sambil menggendong putrinya yang tak sadarkan diri dengan luka parah di kepalanya. Dengan sigap, pria bersnelli putih dengan logo bulan sabit merah di d**a kanannya meminta para perawat membantu pria itu membaringkan anaknya.
"Dokter Salman, detak jantungnya melemah."
"Kepalanya pendarahan hebat. Ini benar-benar berisiko tinggi," ucap Salman.
Salman menatap wajah ayah dari anak perempuan tersebut.
"Dokter, aku sangat percaya padamu. Atas kuasa Allah, aku yakin kau mampu menyelamatkan putriku. Hanya dia yang aku miliki sekarang. Istriku dan tiga anak lelakiku sudah kembali pada-Nya secara syahid."
Salman menghela napas panjang. "Anda yakin, Tuan?"
"Sangat yakin, Dokter. Aku akan berdoa pada Allah agar memudahkan pekerjaanmu dan semua tenaga medis di sini."
Salman menatap wajah dua perawat pria yang menunggu keputusannya.
"Bismillah, kita operasi anak ini. Zaid, siapkan lembar persetujuan operasi untuk ditandatangani ayahnya!"
***
"Apa rencanamu, Emira?" tanya Azzura.
"Aku ingin mengajar, Kak, tapi gak tahu bagusnya di mana," jawab Emira.
"Kalau mengajar di sekolah darurat, mau gak?"
"Hah? Di mana, Kak?"
"Palestina."
"Jangan!" seru Nayyara tiba-tiba.
Sontak Azzura, Franklin, dan Emira menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
"Kenapa Bunda gak setuju? Kan jadi relawan kemanusiaan," kata Azzura.
"Mending adikmu jadi relawan di daerah pelosok Indonesia saja daripada di Palestina. Kamu tahu kan kondisi di sana bagaimana! Bunda kan takut adikmu gak akan pulang lagi."
"Bunda jangan ngomong gitu dong!" seru Azzura. "Aku yakin Emira bisa sekalian healing. Kali aja Bunda bisa dapat mantu cowok asli Palestina. Mereka ganteng-ganteng lho, Bun! Punya mental pejuang pula."
"Sayang!" Franklin terlihat tak terima sang istri tercinta memuji ketampanan pria Palestina.
"Mas Franklin-ku sayang, jangan cemburu dong!"
Emira menyemburkan tawanya. Kakak perempuan satu-satunya itu memang lebih humoris, turunan dari sang ayah.
"Sudahlah!" Franklin menghela napas panjang.
"Gimana, Emi?" tanya Azzura. "Kalau kamu setuju, Kakak bakal bilang ke teman Kakak di sana. Tenang aja, teman Kakak itu cewek kok. Dia udah di sana selama tiga tahun. Jadi guru di sekolah darurat setahun, eh nikah dan punya dua anak di sana."
"Kenapa gak jadi dosen aja di sini?" tanya Franklin. "Jadi relawan di Palestina berisiko. Kalau tak mampu jaga diri, kamu tinggal nama. Bahkan jasadmu belum tentu bisa dibawa pulang ke Indonesia. Tahu sendiri kan kejamnya tentara Zionis."
"Pikir-pikir aja dulu, Dek! Waktunya masih panjang kok," sela Azzura.
***
"Alhamdulillah, Operasinya berhasil, Tuan!" ucap Salman.
"Alhamdulillah, ya Allah!" Pria itu sujud syukur atas keberhasilan Salman dalam menyelamatkan putrinya.
"Sebentar lagi Naura akan dibawa ke ruang ICU untuk dipantau kondisinya pasca operasi. Anda harus bersabar lagi sampai Naura sadar penuh."
"Terima kasih, Dokter! Terima kasih!"
"Semua atas izin Allah, Tuan."
Salman membiarkan tiga perawat keluar lebih dulu dari ruang operasi bersama tubuh kecil Naura yang masih dalam pengaruh obat bius. Ayah Naura pun menyusul mereka menuju ruang ICU. Sementara ia mengambil sapu tangan di saku celananya dan menyeka keringat di wajahnya.
"Kamu hebat, Salman."
Salman menatap wajah cantik seorang wanita berkebangsaan Mesir yang menghampirinya.
"Terima kasih, Samira," balas Salman.
"Mau makan malam?" tanya Samira.
"Aku mau salat dulu, sekalian jamak dengan Isya."
"Ah, baiklah. Aku akan membeli makanan untuk kita berdua. Jadi, kamu bisa makan setelah salat nanti."
"Terima kasih, Samira."
Salman berpamitan pada wanita berambut merah itu sembari tersenyum ramah, lalu pergi meninggalkan Samira seorang diri di depan ruang operasi.
"Ah, Salman, kamu begitu tampan dan rasa takutmu pada Tuhan begitu tinggi. Aku mencintaimu, tapi takut mengambilmu dari Tuhanmu."
***
"Al, aku ingin," bisik Julie, tepat di telinga Alvaro.
"Tidak sekarang, Julie. Aku lelah sekali." Alvaro menolak secara halus ajakan sang istri.
Pria itu memang lelah sekali karena begitu banyak pekerjaan yang diberikan sang ayah di kantor. Lebih parahnya lagi, berita pembatalan pernikahannya dengan Emira tersebar luas. Tak sedikit para karyawan, terutama kaum hawa, yang menggunjing dirinya karena tak bersyukur memiliki calon istri seperti Emira.
"Al, kamu gak mau nengok anak kita?"
"Jangan mengusikku, Julie! Tak bisakah kau memahamiku seperti Emira?"