Sepuluh Tahun Kemudian

1416 Words
Sepuluh tahun kemudian. Suara berisik mesin jahit bak kidung merdu mendayu di telinga Meli. Matanya hanya terfokus di satu titik tanpa memperdulikan sekitar. Wanita berusia 28 tahun itu memiliki watak dingin dan amat tertutup. Bahkan ketika teman-temannya tengah beramai-ramai memperhatikan Bos baru yang sedang melintas, dia sama sekali tak tergugah. "Ya ampun, ganteng banget dia!" "Sayangnya aku sudah punya suami, kalau gak 'kan bisa usaha." "Kalau kayak gini biar kata lembur tiga hari tiga malam mah, betah atuh!" Begitulah komentar teman-teman saat menyambut bos baru bernama Orion Rigel seorang pewaris tunggal dari pengusaha konveksi ternama Darwin Rigel. Pemuda campuran Amerika-Indo itu berusia 33 tahun. Mendadak harus menggantikan sang Ayah lantaran ayahnya harus menjalani perawatan mengenai penyakit jantungnya di Singapore. "Inilah Definisi manusia spek Dewa." "Liat jambang tipisnya! Seksi sekali pengen ngelus rasanya." "Alisnya tebal, bibirnya menggoda, sorot matanya itu … Uh!" Ocehan mereka terhenti ketika Supervisor menyerukan untuk berkumpul di tengah ruangan besar yang mampu menampung lima puluh karyawan. Hanya Meli yang masih terus menjahit tanpa mendengar arahan si Supervisor. "Meli," panggil Lani setengah berbisik. Wanita itu tak juga menggubris, dia berpikir temannya itu hanya mengganggu konsentrasinya seperti yang biasa dia lakukan. Rion mengalihkan pandangan ke arah Meli. Dalam hatinya merasa heran dengan tingkahnya. "Siapa dia?" tanya Rion kepada Nisa— 38 tahun, Supervisor yang sudah lima belas tahun bekerja di sana. "Anu, Maaf Pak. Dia memang terlalu fokus kalau sudah bekerja. Pasti dia tidak mendengar seruan saya." Nisa bergegas ingin menghampiri Meli tapi langkahnya kalah cepat dari Rion. Lani terhenyak melihat sang pemikat datang menghampiri Meli. "Meli," Kali ini suara Lani agak sedikit kencang memanggilnya, namun Meli tak juga bergeming. Sampai akhirnya Lani menendang dengan gerakan kecil ke kursinya. "Kamu gak liat dari tadi diperhatiin Pak Bos?" Meli hanya mengangkat kelopak matanya tanpa mendongak. Kepala ikat pinggang mengkilap tersapu pandangannya kemudian melirik ke sekitar, beberapa meja jahit sudah kosong karena si pemilik tahta sudah berkumpul di muka ruangan. Rion berseru melontarkan pertanyaan kepada Meli, "Kenapa hanya kamu yang mengabaikan instruksi dari Supervisor?" Otomatis Meli langsung menghentikan pekerjaannya. Dia berdiri dengan wajah tertunduk. Pria itu seperti tertegun, entah apa yang terbesit dalam benaknya ketika melihat wajah Meli dari jarak dekat. Tak lama Rion berkata, "Kerja dengan serius sih boleh saja tapi jangan sampai kamu mengabaikan apa yang terjadi di sekitar." Setelah mendapat anggukan pelan dari Meli, dia pun kembali ke depan ruangan. Lani bergegas menyeret tubuh jenjang Meli untuk bergabung bersama yang lainnya. Setelah keadaan tenang, supervisor mulai berbicara. "Baiklah, hari ini saya akan memperkenalkan Owner baru kita, namanya Orion Rigel. Beliau baru kembali dari New York, sementara akan menggantikan Big Bos selama Pak Darwin menjalani perawatan di Singapore." Terdengar komentar dari beberapa penjahit yang mayoritas perempuan menyerbu dalam pendengaran Meli yang hanya diam tak bereaksi seperti yang lainnya. Kemudian Nisa melanjutkan ucapannya, "Setelah Pak Darwin kembali maka Pak Rion bakal pindah ke cabang baru yang berlokasi di Cikarang dan rencananya akan membawa penjahit senior dari sini. Setidaknya sudah sepuluh tahun bekerja di sini." Mereka kompak berseru, "Ya ...!" Seruan kecewa karena akan kehilangan pemandangan paling menakjubkan sepanjang sejarah bekerja di sana. Tak lama Nisa kembali berbicara, "Jadi bagi Pegawai yang merasa telah memenuhi syarat, silahkan mengajukan diri. Di sana kalian akan mendapat jabatan sebagai penjahit senior, tentu dengan gaji yang berbeda dari penjahit lainnya. Ini kesempatan buat meningkatkan karir jadi jangan sampai disia-siakan." Semua yang ada di sana terhenyak mendengar penuturan Nisa. Berbagai pikiran berkecamuk dalam hati mereka, ada yang memikirkan tentang suami dan anak, tentang ibu yang tidak akan mengizinkan, bahkan tentang si kekasih yang pastinya akan ditinggalkan. Hanya Meli yang terlihat tenang seperti biasanya. Seolah wanita itu tidak memiliki apapun untuk dipikirkan. Meli memang terkenal paling pendiam di antara puluhan penjahit konveksi yang berlokasi di Tanah Abang-Jakarta pusat tersebut. "Ini kesempatan untuk kalian menaikan taraf karir ke jenjang yang lebih bagus lagi," lanjut Nisa dengan lugas. Mereka mulai berbisik-bisik saling memberi dorongan untuk maju. Tapi sepertinya tidak ada satupun yang mengacungkan tangan. Pandangan Rion teralihkan ke Meli, dahinya berkerut aneh melihat sikapnya yang nyaris tanpa ekspresi. Pasalnya di antara para penjahit yang sedang riuh melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada Nisa— Meli hanya diam memusatkan pandangan ke lantai. Rion berdecak sambil menggeleng mengayunkan langkah mendekati Meli kemudian bertanya, "Apa kamu tidak berniat untuk bertanya atau setidaknya memperhatikan pembahasan kita sekarang?" Meli hanya menjawab, "Iya Pak!" "Apanya yang iya? Dari tadi saya perhatikan kamu hanya melamun." "Sambil mendengarkan," ralat Meli mematahkan anggapan Rion. "Lalu kenapa kamu tidak berniat untuk mengajukan diri atau apa gitu?" Meli menjawab, "Bukankah Bapak adalah Bos?!" Alih-alih menjawab dia malah menembak Rion dengan pertanyaan yang seharusnya tak perlu dijawab. "Apa maksud dari pertanyaan kamu itu?" Meli mendesah kemudian balik bertanya, "Bos bebas menentukan siapa yang akan dibawa ke cabang. Bukankah begitu seharusnya?" Sontak ucapan Meli menuai kecaman hampir tujuh puluh persen dari teman-teman seperjuangannya. Mereka tidak bisa berkutik apabila Bos yang menentukan karena pastinya kontrak kerja menjadi taruhan jika mereka tidak bisa memenuhi aturan perusahaan sementara hampir semua penjahit senior memiliki suami dan anak. Rion menatap Meli sambil tersenyum, tiba-tiba dia terkekeh. "Benar juga … baiklah, saya akan memilih siapa saja yang akan ikut bersama saya ke cabang." "Tapi Pak—" protes salah satu penjahit senior. "Iya ada apa?" tanya Rion cepat. "Banyak dari kami yang sudah berkeluarga, gak mungkin bisa di rolling ke sana." "Nanti saya akan koordinasikan bersama Nisa. Lagian, cabang juga masih dalam tahap pembangunan. Kalian masih punya banyak waktu untuk memikirkan baik dan buruknya," pungkas Rion seraya masih melempar senyum kepada Meli. Setelah Rion pergi, Meli langsung diserbu oleh teman-temannya. Yang paling gencar mengoceh adalah Dayu salah satu rekan kerja yang terbilang cukup dekat dengannya. "Kenapa kamu bilang gitu sih, Mel? Mbak gak mungkin bisa pindah ke cabang, kamu tau sendiri 'kan mas Gusti udah punya kerjaan tetap. Masa harus jadi pengangguran lagi." Meli hanya membalas ocehan Dayu dengan senyum tipis. "Udah buat kacau malah mesem-mesem gak jelas lagi!" gerutu Lani menimpali. "Mentang-mentang dia gak akan kepilih jadi ngasih saran kayak gitu. Kamu ya enak, nah kami ini ribet kalau mesti pindah kerja." Dayu masih belum puas menumpahkan kekesalannya kepada Meli. Meli hanya menjawab, "Ya maaf!" Lalu kembali ke rutinitas semula, mengabaikan suara bising yang saling bertukar pendapat perihal cabang baru. Setiap harinya di Konveksi itu Meli memang tak banyak berbicara, sikapnya yang tertutup membuat teman-temannya merasa segan untuk berkomunikasi apalagi meminta tolong. Hanya Lani yang sering mengganggunya bekerja, meskipun pada akhirnya gadis itu juga menyerah karena kerap tak mendapat tanggapan darinya. "Kamu lembur Mel?" tanya Lani ketika jarum pendek sudah menetap di angka lima. "Nggak!" jawabnya singkat. "Terus kok masih lanjut aja?" "Tanggung sedikit lagi sampai target." "Oke deh, aku duluan ya?!" Lani bergegas keluar ketika sang kekasih hati telah menampakkan batang hidungnya. Meli hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Lani yang sudah keluar dari ruangan besar itu. Tinggalah Meli sendirian masih menyelesaikan targetnya, setidaknya lima puluh ribu paling minim harus masuk dalam catatan harian gaji. Sebab itu dia tidak memiliki waktu bersantai saat sedang bekerja, tak heran jika terkadang dia tidak begitu mengenal rekan seperjuangan satu persatu. Dari lantai dua ternyata Rion memperhatikan Meli yang masih sibuk menjahit. Dia hanya menggeleng sambil menyimpulkan senyum melihat kegigihan Meli. "Rajin sekali dia," gumamnya. Setelah selesai memenuhi target, Meli bergegas membereskan meja jahitnya kemudian menuju loker untuk membereskan barang-barang dan melepas seragamnya. Rambut panjang tergerai menebar pesona pada sepasang mata yang tak sengaja melihatnya. Senyumnya berbinar melihat kecantikan Meli yang memang sejak tadi sudah mengalihkan pandangannya. Meli menoleh ke arah Rion yang sudah berdiri tak jauh darinya lalu kembali mengemas barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. "Kenapa tinggal kamu sendirian?" tanya Rion ketika Meli melewatinya. "Karena yang lain sudah pulang," sahutnya seraya terus melangkah. Rion bergegas mengimbangi langkah Meli. "Kamu sudah lama kerja di sini?" "Enam tahun," jawab Meli datar. Rion mengangguk, "Apa kamu bersedia ikut saya pindah ke cabang?" "Tidak!" "Bagaimana kalau saya yang memutuskan? Bukankah kamu bilang Bos yang berhak memilih?" "Aturannya adalah sepuluh tahun bekerja." Rion langsung tertegun mendapat jawaban lugas itu tapi dia tak ingin menyerah begitu saja, ia terus berusaha agar Meli bersedia menerima ajakannya. "Setidaknya kamu sudah menguasai jahitan." "Saya bukan senior." "Tak masalah asal bisa bekerja." "Setiap orang pasti bisa bekerja." "Menjahit maksud saya," Rion buru-buru meralat. "Hem, saya belum terlalu mahir." Tiba-tiba Rion bertanya, "Nama kamu siapa?" "Meli." Padahal Rion sudah tahu siapa namanya hanya saja ia seperti tak memiliki bahan untuk diobrolkan dengan Meli. Sikap Meli yang acuh tak acuh membuatnya penasaran sampai akhirnya dia mengikuti Meli sampai ke gapura pembatas antara pusat konveksi dan grosir barang campur-campur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD