Dasar Sinting!

1265 Words
"Kamu pulang kemana?" tanya Rion memecah kecanggungan. "Rumah!" Seketika Rion terpingkal mendengar jawaban Meli. "Saya tau, maksud saya rumah kamu dimana?" "Gak jauh dari sini," jawabnya masih terus melangkah. "Saya bisa antar kamu kalau mau." "Bapak sudah punya istri?" "Memangnya kenapa?" "Bapak sudah dijemput." Rion menoleh ketika seorang wanita dengan senyum lebar menghampirinya. "Aku sengaja datang diantar supir mau jemput kamu." ucapnya seraya menggandeng tangan Rion. Seketika Rion langsung berbalik untuk melihat gelagat Meli. Namun wanita itu sudah menghilang dari pandangannya. "Cepet banget dia jalan," gumamnya. "Siapa?" tanya wanita bernama Elis tersebut. "Ah, bukan siapa-siapa." *** Meli melangkah menyusuri jalanan yang terasa sepi baginya. Setiap hari dia tidak pernah menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan jika ada kehebohan di jalan raya pun dia tidak pernah ambil pusing. Sejak kejadian pilu menimpanya sepuluh tahun yang lalu membuatnya menutup diri dari lingkungan sekitar. Bahkan dia tidak benar-benar mengenal tetangga di samping rumahnya. "Lemes amat Non!" tegur Ardan, pria dalam segala hal baginya. "Gak ada jadwal lembur." "Hahaha," Ardan tertawa mengejek kekecewaan Meli. "Orang tuh ya di mana-mana malas lembur, nah kamu malah minta lembur." "Kalau gak lembur otomatis gak ada bonus." "Memangnya kamu gak capek apa lembur melulu?" "Capek sih … tapi 'kan seneng bisa nabung." "Mel, apa sih yang kamu kejar?" "Rumah," jawabnya singkat. "Mau kamu kejar sampe keblinger kalau belum rezekinya gak bakalan dapet yang ada kebeli rumah kagak malah sakit." "Putri mana?" tanyanya mengalihkan ocehan Ardan. "Tadi temennya ngajakin kerja kelompok di gang sebelah." "Hem … okelah aku mau mandi dulu," ujarnya kemudian bergegas menuju kamar. Putri adalah anak semata wayang Meli, gadis cilik berusia sepuluh tahun itu duduk di kelas empat sekolah dasar. Setiap hari putri lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ardan daripada Meli karena Ardan bekerja di rumah sebagai Supplier pakaian online. "Tidurlah Sayang ntar besok kesiangan loh!" suruh Meli ketika melihat Putri masih sibuk dengan game di ponselnya. "Baik Bun," jawab Putri bergegas masuk ke kamar. Kemudian Meli menghampiri Ardan yang tengah sibuk dengan catatan orderan dari customernya. Pria berusia 30 tahun itu merupakan supplier baju online yang sudah memiliki banyak pelanggan di segala penjuru Indonesia. "Banyak pesanan Dan?" Meli duduk di antara tumpukan barang dagangan Ardan. "Lumayanlah Mel, meskipun gak sebanyak tanggal muda." "Kamu harus istirahat jangan karena ngejar target jadi lupa tidur," himbau Meli khawatir melihat Ardan bekerja tak mengenal waktu. "Iya Sayang," jawabnya setengah terkekeh. Meli hanya tertawa kecil mendengar jawaban yang lebih tepat disebut sebagai ejekan itu. Kemudian dia masuk ke kamar menyusul Putri yang sudah mulai terbawa arus mimpi. Pagi yang biasa saja bagi Meli tak ada yang spesial sama seperti hari-hari kemarin. Dia berjalan menuju konveksi dengan langkah pasti. Rambutnya yang panjang tak pernah sekalipun terlihat diikat kecuali bila dia tengah mengenakan topi praktis ala penjahit jika sedang bekerja. "Kemarin kok hilang?" Tiba-tiba Rion telah berjalan di sampingnya. "Saya buru-buru." "Kamu pulang naik apa?" "Jalan," jawab Meli singkat. Beberapa pasang mata mengintai kebersamaan mereka dengan pandangan sinis. Baru sehari Rion menjabat di sana sudah akrab saja dengan Meli padahal yang sudah bertahun-tahun mengenalnya sampai sekarang tak pernah berbicara padanya kecuali bila ada hal yang sangat mendesak. "Apa kamu sudah memikirkannya?" Rion menanyakan tentang tawarannya untuk mengajak Meli bergabung di cabang baru. "Bukankah saya sudah bilang alasannya kemarin?" "Tidak masalah selama kamu bisa menjahit." Meli enggan menjawab lagi, dia menghampiri loker lalu menuju ruangan ganti. Otomatis Rion langsung menghentikan langkahnya, Karena itu bukan lagi kawasan yang bisa dimasuki sesuka hati. Entah apa yang merasuki jiwa Rion, pria itu seperti tak akan bosan memperhatikan Meli dari lantai dua. Sampai dia dikejutkan oleh suara yang tak asing lagi baginya. "Ngapain kamu berdiri di sini?" tanya Dimas sahabatnya. "Memperhatikan karyawan lah, memangnya ngapain?" sahut Rion dengan nada sewot. "Rajin amat!" sindirnya. "Sekarang aku ini Owner, jadi gak bisa main-main lagi." Dimas menggeleng sambil terkekeh, "Gimana kabar Elis?" Rion menghela nafas lalu menjawab, "Ya begitulah!" Pria itu mendadak suntuk jika membahas tentang wanita yang menjemputnya kemarin. Dimas tahu persis dari caranya menghela nafas. Aroma jiwa yang frustasi tercium jelas dari reaksinya itu. "Mau sampe kapan kamu menggantung status dia? Kasihan sama nasib anak kalian," celotehnya kemudian. "Entahlah! Semakin hari tingkahnya semakin buat aku muak!" "Itu konsekuensi dari perbuatanmu dulu. Kamu sendiri yang bersikeras nyariin dia, kenapa malah jadi melempem gini?" "Aku ngerasa Elis orang yang berbeda dari yang kukenal dulu. Elis yang aku suka gak sebar-bar dia bahkan cenderung pendiam. Senyumnya manis dan menawan, wajah polosnya itu yang membuat aku terpikat." "Setelah hampir sepuluh tahun kamu ninggalin dia gitu aja, jelas sudah banyak perubahan dari dia lagian kamu 'kan ketemu dia cuma sebentar." "Entahlah Bro, aku pusing mikirinnya. Niatku cuma mau bertanggung jawab, udah! Yang lain urusan nanti." "Terus kapan rencana kamu mau nikahi dia?" "Aku masih berfikir keras lagian Bokap juga masih sakit, yang penting sekarang ini dia dan anak itu terjamin." Dimas memperhatikan arah pandangan Rion yang hanya terfokus pada satu titik, yaitu Meli. Dahinya mengerut heran kemudian bertanya, "Kamu lagi merhatiin dia?" Dimas menunjuk ke arah Meli. Spontan Rion langsung menyeka tangannya, "Gak usah ditunjuk juga kali!" Dimas langsung tertawa melihat raut panik Rion, "Panik banget … berarti kamu memang lagi merhatiin dia, 'kan?!" "Aku mau bawa dia ke cabang baru soalnya dia rajin. Aku lagi memantau dia dulu karena aturan Nyokap yang dibawa ke cabang harus sudah senior." "Senior gimana maksudnya?" "Ya, minimal sudah sepuluh tahun kerja di sini." Dimas mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan Rion lalu berkata, "Ya sudah bawa aja. Kamu 'kan Bos, tinggal tunjuk aja apa susahnya?" "Masalahnya dia nolak!" "Loh kenapa? Bukannya gaji untuk senior lebih besar?" "Iya, tapi dia selalu mengungkit masa kerja." "Memangnya dia sudah berapa tahun kerja disini?" "Enam tahun." "Wah belum memenuhi syarat dong!" "Itu dia ... tapi aku tertarik bawa dia karena rajin dan tekun banget kerjanya. Alih-alih senior, mendingan gaet karyawan yang loyal sama perusahaan." Dimas langsung berseru, "Yap betul! Aku setuju sama pendapatmu!" "Gimana caranya supaya dia mau ya?" Dimas melontarkan pertanyaan, "Dia masih gadis?" "Eh?!" Tiba-tiba Rion tercekat mendapat pertanyaan itu. Dia bahkan tidak memikirkan tentang status Meli sebelumnya. Sangking sibuk menikmati pesona Meli sampai melupakan bagian penting tersebut. "Jangan bilang kamu gak tau," tebak Dimas curiga akan reaksinya. "Hah ...," Rion Mendesah, "ya begitulah!" Dimas merasa prihatin dengan keadaan mental sahabatnya itu. Kesalahan yang Rion lakukan di masa lalu berimbas pada perubahan sikapnya saat ini. Dulu Rion terkenal dengan wataknya yang keras dan susah diatur namun sejak ia bertemu dengan gadis desa bernama Elis perlahan dia mulai memiliki tujuan hidup. Namun sayang kisah asmaranya dengan Elis harus berpisah begitu saja karena dia dituntut oleh orang tuanya harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. "Apa perlu aku yang nanya?" Dimas berbalik tanpa menunggu jawaban Rion. Spontan Pria itu berteriak, "Gak usah ...!" Tak ayal suara nyaring Rion menebas indera pendengaran seluruh penghuni gedung konveksi tersebut. Mereka serentak mendongak melihat ke arah dua pria yang tengah melakukan aksi tarik-menarik di atas tangga. "Mereka ngapain?" Lani memusatkan pandangannya pada kedua pria yang berjibaku di atas sana. "Pemandangan unik dua pria tampan lagi bergurau. Berasa lagi liat serial remaja tema persahabatan sejati." Dayu mengomentari pertanyaan Lani. Pandangan Lani beralih ke Meli, satu-satunya orang yang tidak peduli dengan adegan manis tersebut. "Kalau aja sahabatku ini sehangat dua orang itu. Pasti aku bakal bangga melantangkan pernyataan kalau Meli itu sahabatku." Boro-boro menjawab, bahkan bereaksi pun tidak. Begitulah Meli, wanita penuh misteri yang berhati setenang sungai buaya. "Meli …!" tiba-tiba Dimas berseru dari atas sambil tertawa ke arahnya. Tak ayal pandangan seisi gedung beralih kepada Meli. Mereka menerka-nerka apa gerangan yang membuat Dimas meneriaki nama Meli apalagi sampai membuat dua pria itu berjibaku dengan sengit. "Dasar sinting!" umpat Meli kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD