Bab 23

1117 Words

Siska meletakan teh di dekat Niara yang tengah melamun, dengan kedua tangan yang memeluk lututnya. Pandangan matanya kosong, sedari tadi sahabatnya itu terus saja seperti itu. Siska jelas cemas, karena semenjak dirinya menjemput Niara. Temannya itu hanya melamun, dia takut jika Niara mengalami hal-hal yang buruk. Tapi, dia tidak bisa memaksa Niara berbicara. Maka dari itu dia membiarkan saja, menunggu sampai sahabatnya itu siap berbicara kepadanya. Ketika Siska akan kembali meninggalkan Niara, wanita yang tengah melamun itu bersuara. Membuat langkah Siska berhenti di depan pintu kamar. "Gue hampir di perkosa," Mata Siska membelalak mendengarnya, dia kembali menghampiri Niara. Pandangan mata Niara lurus ke depan, tanpa repot-repot memandang sahabatnya. "Feeling gue nggak pernah sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD