Bab.6 Cintamu Nyata

1148 Words
Udara dini hari itu masih dipenuhi aroma besi dan darah. Gudang tua yang tadi dipenuhi raungan dan jeritan kini hanya meninggalkan keheningan berat. Dinding-dinding berkarat menjadi saksi bisu, bahwa cinta bisa berubah menjadi senjata paling mematikan. Meela mendekap Goldbin erat, tubuhnya gemetar, tetapi bukan hanya karena dingin, melainkan karena terlalu banyak rasa yang menyerbu sekaligus: lega, cinta, takut, bahkan sejenis keberanian baru yang entah dari mana datangnya. Goldbin menunduk, napasnya kasar, tubuhnya dipenuhi luka. Namun di matanya yang kembali berwarna emas lembut itu, Meela melihat bukan sekadar penderitaan, dia melihat cahaya yang membuatnya yakin, mereka telah bertahan. “Meela…” suaranya serak, hampir patah. “Aku tidak pernah ingin kau melihat sisi tergelapku. Tapi malam ini, kau melihat semuanya.” Meela menangkup wajahnya, jemari mungilnya menyentuh kulit kasar penuh luka itu dengan kelembutan. “Aku tidak melihat kegelapan, Goldbin. Aku melihat cahaya, karena bahkan dalam bentukmu yang paling buas, kau tetap melindungiku. Dan di sanalah aku tahu… cintamu nyata.” Air mata jatuh di pipi Meela, namun kali ini bukan air mata takut, melainkan air mata penerimaan. Goldbin menutup mata, merasakan sentuhan itu bagai oase di padang gurun panjang. Ia meraih jemari Meela, mengecupnya seakan mencium sakralnya doa. “Kalau begitu, jangan pernah tinggalkan aku,” bisiknya. Meela mengangguk, hatinya mantap. “Aku tidak akan pernah.” Dan di bawah cahaya bulan yang merayap masuk dari celah genting, mereka berpelukan, dua jiwa yang telah dipahat oleh luka, namun justru semakin erat oleh rasa yang tak bisa dilawan. Ketika fajar merambat masuk, mereka sudah berada di atap gudang, menatap matahari yang bangkit dari ufuk timur. Langit dipenuhi warna jingga dan merah muda, seakan Tuhan sendiri melukis kanvas untuk merayakan kebersamaan mereka. Meela bersandar di bahu Goldbin, tubuhnya lelah, namun hatinya berdenyut hangat. Ia menatap matahari yang perlahan menyembul, lalu berbisik, “Setiap pagi, aku ingin melihat ini bersamamu.” Goldbin menoleh, menatap wajahnya yang diterangi cahaya lembut itu. “Kalau begitu, aku berjanji… aku akan menua bersamamu, Meela. Bahkan jika darahku berkata aku abadi, aku akan memilih merasakan setiap detik waktu bersamamu, seolah aku fana.” Meela tersenyum samar, hatinya terenyuh oleh kata-kata yang begitu indah. Ia tahu, dunia tidak akan membiarkan mereka dengan mudah. Brenda masih ada, Veynar mungkin akan kembali dengan dendam yang lebih besar. Namun untuk sesaat, di pelukan itu, dunia tak berkuasa. Yang ada hanyalah mereka—dua hati yang menolak menyerah. Sementara itu, jauh di ruang gelap, Brenda merawat luka-lukanya. Matanya memerah, bukan hanya karena sakit, tapi karena api dendam yang membara. Ia menatap cermin, melihat pantulan dirinya yang masih cantik meski berlumur luka. “Meela…” namanya keluar dari bibir Brenda bagai racun. “Kau mencuri sesuatu yang bukan milikmu. Kau pikir Goldbin benar-benar akan memilihmu selamanya? Kau hanya fana, kau hanya sementara. Aku akan membuatmu sadar bahwa cinta kalian hanyalah fatamorgana.” Suara langkah terdengar dari balik bayangan. Veynar, meski terluka parah, masih hidup. Ia berdiri dengan tatapan kelam. “Brenda, aku memperingatkanmu. Cinta Goldbin pada manusia itu lebih kuat dari apa pun. Jika kau memaksanya, kau akan hancur lebih cepat daripada dia.” Brenda mendesis, matanya menyala. “Maka aku akan hancur, asalkan Meela ikut bersamaku dalam kehancuran itu.” Veynar terdiam, menatapnya dengan tatapan penuh iba. Ia tahu, cinta bisa menjadi cahaya, tapi juga bisa menjadi racun. Beberapa hari kemudian, Meela dan Goldbin beristirahat di rumah kecil di pinggiran kota. Malam itu, angin berhembus pelan, membawa aroma hujan yang baru saja reda. Meela berbaring di ranjang, matanya menatap langit-langit, sementara Goldbin duduk di kursi dekat jendela, seperti kebiasaannya. “Goldbin…” panggil Meela lirih. Pria itu menoleh, matanya lembut. “Ya?” Meela menggigit bibir bawahnya, lalu berkata, “Aku ingin tahu… apa arti ikatan bagi seorang Lycan murni sepertimu?” Goldbin terdiam sejenak, lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang, menatap Meela dalam. “Ikatan bagi kami bukan sekadar cinta. Itu adalah sumpah jiwa. Jika aku mengikatkan diriku padamu, Meela, maka seluruh keberadaanku akan terikat pada kehidupanmu. Jika kau tersakiti, aku ikut merasakan. Jika kau mati…” ia terhenti, suaranya pecah, “aku juga akan hancur.” Meela tertegun, hatinya bergetar. “Lalu… apakah kau mau mengikatkan dirimu padaku?” Goldbin menatapnya, tatapannya penuh kelembutan sekaligus api. “Sejak pertama kali mataku melihatmu, aku sudah terikat. Aku hanya menunggu saat ketika kau siap untuk menerimanya.” Air mata mengalir di pipi Meela, bukan karena takut, tapi karena rasa yang terlalu besar untuk ditampung. Ia meraih tangan Goldbin, menggenggamnya erat. “Kalau begitu, ikatlah aku. Aku tidak ingin lagi ada keraguan di antara kita.” Goldbin menunduk, mencium keningnya dengan lembut. “Kalau begitu, malam ini, aku akan mengikatkan seluruh jiwaku padamu.” Ritual Cinta Malam itu, bulan purnama menggantung bulat sempurna di langit. Cahaya peraknya menembus tirai, membaluri kamar itu dengan sinar magis. Goldbin berdiri di hadapan Meela, tubuhnya dipenuhi luka yang mulai sembuh, namun matanya berkilat dengan tekad. “Meela, izinkan aku melakukan ini,” bisiknya. Meela mengangguk, tubuhnya gemetar, namun hatinya mantap. Goldbin meraih tangannya, lalu menggenggamnya erat. “Dengan darahku, dengan jiwaku, dengan seluruh keberadaan Lycan di dalam diriku, aku mengikatkan diriku padamu, Meela. Tidak ada waktu, tidak ada kematian, tidak ada dunia yang bisa memisahkan kita.” Meela merasakan panas mengalir di tangannya, seolah ada api yang menyatu dengan nadinya. Ia menatap mata Goldbin, lalu menjawab, “Dan dengan hatiku, dengan nafasku, dengan seluruh ketakutanku sekaligus cintaku, aku menyerahkan diriku padamu. Kau adalah rumahku, Goldbin.” Cahaya bulan seakan menyala lebih terang, dan seketika itu, Meela merasakan sesuatu masuk ke dalam dirinya, hangat, kuat, namun juga lembut. Ia merasakan detak jantung Goldbin berdentum di dalam tubuhnya sendiri. Mereka saling berpelukan, bibir mereka bertemu dalam ciuman panjang, penuh air mata, penuh janji. Malam itu, cinta mereka bukan lagi sekadar kata, melainkan ikatan suci yang tak bisa dipatahkan. Namun di balik cahaya, bayangan tetap mengintai. Brenda melihat dari kejauhan, tubuhnya gemetar, matanya penuh air mata—bukan karena luka fisik, tapi karena hatinya yang hancur. “Dia memilih manusia itu…” bisiknya getir. “Dia benar-benar memilihnya.” Veynar berdiri di sampingnya, menatap dengan wajah muram. “Aku sudah memperingatkanmu. Cinta Goldbin pada Meela tidak bisa dihancurkan. Jika kau terus melawan, kau hanya akan semakin hancur.” Brenda menoleh, matanya berkilat gila. “Kalau begitu, aku akan hancur. Tapi aku akan membawa mereka bersamaku. Pagi berikutnya, Meela terbangun dengan senyum yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Tubuhnya masih lelah, namun hatinya dipenuhi kekuatan baru. Ia menoleh, melihat Goldbin tidur di sisinya untuk pertama kalinya. Ia tampak begitu damai, seakan beban dunia hilang. Meela tersenyum, lalu membisikkan sesuatu di telinganya, meski pria itu masih terlelap. “Aku milikmu, dan kau milikku. Apa pun yang terjadi, kita akan selalu kembali satu sama lain.” Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Meela benar-benar percaya bahwa cinta bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang akan menuntun mereka melewati segala badai. Namun jauh di sudut lain kota, badai baru tengah mengumpulkan awannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD