Bab.5 Fajar Baru

1319 Words
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setelah semua kegaduhan, pelukan hangat Goldbin menjadi satu-satunya jangkar yang menahan Meela agar tidak karam dalam ketakutan. Namun di balik d**a bidang pria itu, ia merasakan dentuman jantung yang keras, seakan menyimpan amarah, cinta, sekaligus kekhawatiran yang tak ia pahami sepenuhnya. “Goldbin…” suara Meela lirih, hampir tenggelam oleh desir angin. “Apa kau benar-benar yakin bisa melawan dunia demi aku?” Goldbin menunduk, menatap matanya dengan tatapan tajam yang lembut pada saat bersamaan. “Bukan dunia yang akan kulawan, Meela. Melainkan siapa pun yang berani memisahkan kita. Dunia tanpa dirimu hanya akan menjadi penjara.” Meela tercekat. Ia ingin menolak, ingin membentengi hatinya dari manisnya kata-kata yang mungkin hanya sesaat. Namun tatapan mata keemasan itu begitu tulus, membuatnya runtuh perlahan. “Kalau begitu… jangan lepaskan aku,” bisik Meela akhirnya. Goldbin menariknya lebih erat, seakan ingin mengukir janji itu di antara detak jantung mereka. Fajar Baru Keesokan paginya, cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis kamar Meela. Gadis itu terbangun di ranjangnya, masih mengenakan baju semalam. Di kursi dekat jendela, Goldbin duduk dengan kepala terpejam, seolah tak pernah tidur semalaman. Ia tampak begitu manusiawi, tidak seperti makhluk buas yang semalam mengamuk melindunginya. Ada keheningan yang hangat di antara mereka. “Goldbin…” panggil Meela pelan. Mata pria itu terbuka perlahan, lalu senyum samar muncul di wajahnya. “Pagi.” “Apa kau tidak lelah?” Goldbin berdiri, menghampirinya. “Aku lebih takut meninggalkanmu sendirian daripada kelelahan.” Kata-kata itu membuat pipi Meela memanas. Ia memalingkan wajah, namun dalam hatinya tumbuh keyakinan baru. Sementara itu, Brenda tidak tinggal diam. Siang itu, di sebuah ruangan berlapis kaca di puncak gedung tertinggi kota, ia bertemu dengan seseorang yang sudah lama berhubungan dengan dunia Lycan, Tuan Lord Veynar, salah satu tetua yang selama ini menentang keberadaan Goldbin. “Anak itu terlalu jauh melangkah,” ucap Veynar, suaranya berat. “Membawa manusia ke dalam ikatan Lycan? Itu penghinaan bagi darah murni kita.” Brenda menyeringai tipis, menyembunyikan rasa puasnya. “Itulah mengapa aku datang padamu. Bersama-sama, kita bisa menghancurkan gadis itu. Dan ketika dia hilang, Goldbin akan kembali ke sisi yang seharusnya.” Veynar menatapnya dengan mata abu-abu yang penuh intrik. “Dan apa untungnya bagimu?” “Goldbin adalah milikku. Selalu milikku. Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi hakku.” Veynar mengangguk lambat. “Baik. Tapi ingat, Brenda. Setelah ini, tidak ada jalan kembali.” Malam di Atas Atap Kota Malam berikutnya, Goldbin membawa Meela ke puncak gedung tinggi di pusat kota. Dari sana, lampu-lampu berkelap-kelip seperti lautan bintang di bumi. “Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Meela, matanya memandang takjub. Goldbin berdiri di sisinya, angin malam mengibaskan rambutnya. “Karena aku ingin kau melihat betapa luas dunia yang akan kulindungi bersamamu. Dan juga betapa kecilnya rasa takutmu dibandingkan dengan cintaku.” Meela menoleh, hatinya bergetar. “Kenapa… kenapa aku?” Goldbin menatap dalam-dalam. “Karena hanya kau yang bisa membuatku ingin tetap manusia, meski darahku memanggil untuk menjadi buas.” Hening sejenak, lalu Goldbin mendekat. Bibirnya menemukan bibir Meela sekali lagi, kali ini lebih lembut, lebih dalam, seperti janji yang tak terucapkan. Meela menutup mata, membiarkan seluruh tubuhnya larut dalam pelukan hangat itu. Dunia seakan berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua, berdiri di tepi langit, seakan siap melawan apa pun. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika mereka turun dari gedung, sosok Brenda sudah menunggu di parkiran bawah tanah, berdiri anggun dalam balutan gaun merah darah. “Indah sekali,” ucapnya sinis. “Goldbin sang pahlawan, dan gadis kecil yang menjadi pusat dunianya.” Meela menegang, sembunyi di balik tubuh Goldbin. “Brenda, jangan libatkan dia,” suara Goldbin datar, penuh peringatan. Brenda tertawa kecil, namun matanya berkilat. “Oh, Goldbin… kau benar-benar berubah. Seorang Lycan murni rela berlutut demi manusia lemah? Kau pikir itu cinta? Tidak. Itu kelemahan.” Goldbin mendesis rendah, hampir menggeram. “Kalau kau menyentuhnya, aku tidak akan mengenal belas kasihan.” Namun Brenda tidak gentar. Ia melangkah mendekat, menatap Meela penuh benci. “Kau seharusnya tahu, gadis kecil. Cinta ini akan membunuhmu. Kau hanya duri di antara kami. Dan aku akan mencabutmu dengan tanganku sendiri.” Meela menggigil, tapi tangannya tiba-tiba meraih lengan Goldbin, seakan mencari kekuatan. “Aku tidak akan mundur,” bisiknya, meski suaranya bergetar. Brenda terdiam sesaat, lalu tersenyum dingin. “Kita lihat saja.” Malam yang Membara Setelah pertemuan itu, Meela tak bisa tidur. Kata-kata Brenda terus terngiang di telinganya. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia tidak merasa ingin kabur. Ia justru ingin bertahan, ingin membuktikan bahwa cintanya pada Goldbin bukan kelemahan. Saat ia berdiri di balkon, Goldbin datang menghampiri, seperti biasa. “Kenapa kau gelisah?” tanyanya lembut. Meela menatap matanya, lalu menggenggam kedua tangannya. “Goldbin… apa aku bisa benar-benar menjadi bagian dari duniamu?” Goldbin mendekat, menempelkan dahinya ke dahinya. “Kau sudah menjadi bagian dariku sejak awal. Bahkan sebelum kau menyadarinya.” Meela menutup mata, air mata jatuh di pipinya. “Aku takut… tapi aku lebih takut kehilanganmu.” Goldbin mengusap pipinya, lalu mengecup air matanya. “Kau tidak akan pernah kehilangan aku. Bahkan jika dunia ini runtuh sekalipun.” Kata-kata itu membuat Meela akhirnya menyerah pada perasaannya. Ia melingkarkan tangannya di leher Goldbin, menariknya dalam ciuman panjang yang penuh kerinduan dan ketakutan yang bercampur. Goldbin merespons dengan intensitas yang sama, seakan ingin mengikatnya selamanya. Malam itu, cinta mereka tidak lagi sekadar janji. Ia menjadi api yang membakar, menghapus segala keraguan. Namun di balik keintiman itu, badai semakin mendekat. Brenda bersama Veynar mulai menggerakkan langkah mereka. Malam-malam berikutnya dipenuhi serangan kecil dari Lycan bayaran, menguji kesabaran Goldbin. Meela mulai melihat sisi lain dari dunia itu, darah, pertarungan, dan kebrutalan yang terus mengintai. Namun di setiap ketakutan, Goldbin selalu hadir. Dan semakin sering ia melihat, semakin kuat pula keyakinannya bahwa cinta ini bukan kelemahan… melainkan kekuatan. Hingga suatu malam, segalanya mencapai puncaknya. Brenda menjerat Meela dengan tipu muslihat, menculiknya dari rumah kecilnya. Ketika Meela sadar, ia sudah berada di gudang tua di pinggiran kota, terikat dengan rantai berat. Brenda berdiri di depannya, wajahnya dipenuhi kebencian. “Kau benar-benar keras kepala. Tapi malam ini akan menjadi akhir dari segalanya.” Meela berusaha tenang. “Kalau kau membunuhku, Goldbin tidak akan pernah kembali padamu.” Brenda tersenyum dingin. “Maka aku akan memastikan dia hancur bersamamu.” Saat itulah Goldbin muncul, menerobos masuk dengan raungan menggema. Wujud Lycan murninya kembali, penuh amarah. Pertarungan dahsyat pun terjadi—Goldbin melawan pasukan Lycan Veynar, sementara Brenda berusaha menusuk Meela dengan belati perak. Namun Meela, dengan keberanian yang tumbuh dari cintanya, berhasil menendang belati itu, membuat Brenda terhuyung. Goldbin menghajar lawannya satu per satu hingga hanya Veynar dan Brenda yang tersisa. Dengan raungan terakhir, Goldbin menumbangkan Veynar, sementara Meela berlari ke sisinya. Brenda, penuh luka, menatap mereka dengan kebencian yang tak terkendali. “Kalian pikir ini sudah berakhir? Selama aku hidup, aku akan—” Namun kata-katanya terhenti ketika Goldbin melangkah maju, matanya menyala. “Aku tidak akan membunuhmu, Brenda. Tapi jangan pernah lagi mendekati Meela. Jika tidak… aku tidak akan menahan diriku lagi.” Brenda terdiam, tubuhnya gemetar, lalu akhirnya mundur ke dalam kegelapan. Setelah semuanya selesai, Goldbin kembali ke wujud manusia, tubuhnya dipenuhi luka. Meela berlari memeluknya, air mata jatuh tanpa henti. “Kenapa kau selalu melindungiku, meski tubuhmu terluka begini?” isaknya. Goldbin mengangkat wajahnya, menatapnya lembut. “Karena cintaku padamu lebih sakit jika kau terluka daripada luka apa pun di tubuhku.” Meela menatapnya dengan mata penuh cinta, lalu mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan, berbeda dari sebelumnya. Ciuman itu bukan sekadar gairah, melainkan pengakuan. “Aku mencintaimu, Goldbin,” bisiknya. Goldbin tersenyum, lalu membalas dengan suara bergetar, “Dan aku sudah lama mencintaimu, Meela. Sejak pertama kali mataku melihatmu.” Mereka berpelukan erat di bawah cahaya bulan, seolah dunia lenyap, seolah tak ada lagi yang bisa memisahkan. Untuk pertama kalinya, Meela tidak lagi merasa takut. Ia tahu, bersama Goldbin, cinta mereka akan menjadi kekuatan untuk menghadapi apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD