Bab.4 Tatapannya Menyala

1210 Words
Udara malam itu terasa pekat oleh ketegangan. Serangan kawanan Lycan bayaran bukan hanya mengejutkan Meela, tapi juga menegaskan betapa dunia Goldbin tak bisa lagi disembunyikan darinya. Tubuh-tubuh besar dengan mata merah menyala melompat masuk, memenuhi ruangan kecil yang sebelumnya hanya dipenuhi aroma kayu dan hujan. Meela terhimpit di pojok ranjang, tubuhnya bergetar hebat. Matanya terpaku pada pemandangan yang nyaris mustahil dipercaya. Goldbin, dalam wujud Lycan murninya, berdiri gagah, bulu hitam pekatnya berkilat diterpa cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Suaranya rendah, penuh ancaman, “Berani kalian menginjakkan kaki di sini, artinya kalian sudah siap mati.” Dua Lycan musuh menggeram, memperlihatkan taring. “Kau terlalu lunak, Goldbin. Hanya karena seorang manusia, kau melupakan darah kita sendiri.” Goldbin menunduk sedikit, tatapannya menyala. “Manusia ini adalah milikku. Sentuh dia, dan kalian akan merasakan murka yang tak pernah kalian bayangkan.” Pertarungan pun pecah. Suara dentuman keras mengguncang rumah kecil itu ketika tubuh-tubuh besar berbulu saling menghantam. Kayu retak, kaca pecah, dan debu beterbangan. Meela menjerit kecil, menutupi telinga, namun matanya tetap terbuka lebar menatap punggung Goldbin yang melindunginya. Setiap kali lawan mencoba mendekat, Goldbin menerjang lebih cepat, mencakar, mencengkeram, lalu melemparkan mereka keluar lewat dinding yang jebol. Salah satu Lycan berhasil mendekat, melompat ke arah Meela. Gadis itu terpaku, tak mampu bergerak. Tapi dalam sekejap, tubuh itu sudah terhempas ke luar, lehernya tercekik oleh tangan Goldbin yang menggenggam sekuat baja. “AKU SUDAH PERINGATKAN!” raung Goldbin, suaranya bergema seperti guntur. Lycan itu mengerang kesakitan, sebelum akhirnya dilempar keras hingga menabrak pagar luar rumah dan pingsan. Dua sisanya tak menunggu lebih lama. Mereka sadar, meski tiga lawan satu, kekuatan Goldbin terlalu besar. Dengan lolongan marah sekaligus takut, mereka kabur menembus kegelapan. Hening kembali turun, hanya tersisa suara napas berat Goldbin. Meela menggigil, kedua tangannya menutup mulut. Pandangannya tak lepas dari tubuh Goldbin yang perlahan mengecil, bulu hitam memudar, hingga akhirnya wujud manusia kembali berdiri di hadapannya—dengan keringat membasahi pelipis, dan mata keemasan yang masih menyala samar. “Meela…” suaranya serak, nyaris berbisik. “Kau tidak apa-apa?” Meela tidak langsung menjawab. Air mata turun begitu saja, bukan hanya karena takut, tapi juga karena hatinya dihantam kenyataan yang terlalu besar. Ia bangkit perlahan, meski kakinya goyah, lalu berbisik, “Aku… aku baru saja melihat… sesuatu yang tak mungkin kulupakan.” Goldbin maju setapak, ragu menyentuhnya. “Aku minta maaf… karena harus menyeretmu ke dunia ini. Tapi kau harus tahu, aku tak bisa lagi berpura-pura menjauh.” Meela menatapnya dengan mata basah. “Kenapa aku? Kenapa aku harus menjadi bagian dari semua ini?” Goldbin menunduk, lalu mendekap wajah Meela di kedua tangannya. Sentuhannya hangat, kontras dengan dinginnya malam. “Karena kau adalah belahan jiwaku. Ikatan yang bahkan aku, dengan segala kekuatan dan kesombongan, tak mampu melawannya.” Meela tercekat. Kata-kata itu begitu dalam, menembus sampai ke dasar hatinya. Ia ingin menyangkal, tapi denyut jantungnya yang berpacu liar justru mengkhianatinya. “Goldbin…” bisiknya. Pria itu menatapnya lama, lalu tanpa aba-aba, bibirnya menyapu lembut pipi Meela, turun ke sudut bibir, hingga akhirnya menyatu penuh dalam ciuman yang begitu dalam dan menuntut. Meela membeku sesaat, lalu perlahan menyerah pada debar yang mengalir. Dunia di sekitarnya lenyap, hanya ada Goldbin, hanya ada tatapan mata keemasan yang menyala dengan rasa yang tak terbendung. Namun kehangatan itu tak berlangsung lama. Suara retakan kayu dari luar membuat Goldbin segera melepaskan ciumannya, tubuhnya kembali tegang. Ia menoleh tajam ke arah jendela yang pecah. “Mereka belum selesai. Ini baru permulaan.” Meela menggenggam lengan bajunya, suara bergetar. “Kalau begitu… apa yang akan terjadi padaku?” Goldbin menoleh kembali, sorot matanya tegas namun penuh janji. “Selama aku bernapas, tak ada yang bisa menyentuhmu.” Sementara itu, di penthouse megah di pusat kota, Brenda berdiri di depan jendela besar, menatap lampu-lampu kota dengan senyum dingin. Laporan baru saja masuk: anak buahnya gagal, malah babak belur dihajar Goldbin. “Bodoh semua,” desisnya. Ia melempar ponsel ke sofa, matanya berkilat penuh amarah. Sejenak ia meraih gelas anggur, lalu menyesapnya dengan elegan. Namun di balik keanggunan itu, hatinya digerogoti rasa cemburu yang membakar. Goldbin, lelaki yang selama ini hanya miliknya, kini rela mempertaruhkan segalanya demi seorang gadis biasa. Brenda mengepalkan tangan. “Kalau begitu, aku sendiri yang akan menghadapinya. Aku ingin melihat apakah gadis itu masih bisa bertahan saat aku yang turun tangan.” Keesokan harinya, Meela duduk di kafe dengan pikiran kacau. Ia mencoba bekerja seperti biasa, namun bayangan perkelahian malam tadi terus menghantui. Tatapan Goldbin, tubuh besarnya dalam wujud Lycan, juga ciuman panas yang tiba-tiba… semua bercampur menjadi pusaran yang membuatnya sulit bernapas. Ketika bel pintu kafe berbunyi, jantung Meela langsung meloncat, mengira Goldbin datang. Namun kali ini, sosok yang masuk membuat darahnya berhenti mengalir. Brenda. Wanita itu berjalan anggun, seakan seluruh ruangan adalah panggung untuknya. Kali ini ia tidak sendirian. Dua pria berjas hitam mengikutinya, aura mereka jauh lebih mengancam dibanding sekadar pengawal. Brenda duduk, memesan kopi, lalu menatap Meela tanpa senyum. Tatapannya dingin, menusuk, membuat Meela ingin lari. Ketika Meela menghampiri dengan nampan, Brenda mencondongkan tubuh, suaranya tajam. “Aku dengar kau sudah melihat wujud aslinya.” Meela membeku, nampan hampir jatuh. “A-apa maksudmu?” Brenda tersenyum miring. “Jangan pura-pura polos. Goldbin sudah menunjukkan rahasianya padamu, bukan? Kau tahu betapa berharganya itu? Betapa berbahayanya?” Meela menunduk, tidak berani menjawab. Brenda mendekat, berbisik di telinganya. “Kau pikir dia benar-benar mencintaimu? Jangan naif. Goldbin hanyalah Lycan murni. Baginya, kau hanyalah obsesi sesaat. Dan ketika dia bosan, kau akan dibuang, sama seperti yang dia lakukan pada semua orang.” Ucapan itu menusuk hati Meela, meski ada bagian dirinya yang menolak percaya. Brenda kembali ke kursi, menyesap kopi, lalu tersenyum puas. “Ingat kata-kataku, gadis kecil. Jika kau benar-benar mencintainya, satu-satunya cara melindunginya adalah dengan pergi jauh. Karena bersamamu, dia hanya akan semakin lemah.” Malamnya, Meela berdiri di balkon rumahnya, menatap langit yang penuh bintang. Kata-kata Brenda terus bergema di kepalanya. Ia menggenggam dadanya yang sesak. Saat itulah Goldbin muncul, melompat ringan ke balkon. “Meela.” Meela menoleh, matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau terus datang? Tidakkah kau sadar… aku hanya membuatmu dalam bahaya?” Goldbin mendekat, menggenggam tangannya. “Kau pikir aku takut? Tidak, Meela. Aku lebih takut kehilanganmu.” Air mata jatuh begitu saja. “Tapi Brenda benar. Aku hanya manusia. Aku lemah. Aku tidak pantas berada di duniamu.” Goldbin menggeleng keras, suaranya bergetar. “Kau salah. Justru karena kau manusia, kau menjadi satu-satunya yang bisa membuatku merasakan sesuatu… yang lebih besar dari kekuatan, lebih kuat dari darah. Kau membuatku hidup.” Meela menatapnya, hatinya berperang antara takut dan cinta. “Goldbin…” Tanpa menunggu jawaban lagi, Goldbin menariknya ke dalam pelukan hangat. “Dengar baik-baik. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Jika dunia menentang kita, biarlah. Aku akan melawan mereka semua. Karena kau, Meela, adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan sebagai manusia.” Pelukan itu membuat Meela menyerah. Ia menutup mata, membiarkan dirinya larut dalam d**a bidang Goldbin. Untuk pertama kalinya, rasa takutnya mereda, digantikan oleh keyakinan bahwa bersama pria ini, ia tidak akan pernah sendirian. Namun jauh di kejauhan, di atap gedung tinggi, Brenda berdiri mengawasi dengan mata penuh dendam. Angin malam berdesir membawa bisikan hatinya. “Baiklah, Goldbin. Kalau kau memilih dia, maka bersiaplah kehilangan segalanya. Aku akan memastikan cinta kalian berakhir… dengan darah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD