Hujan telah reda, menyisakan sisa embun yang menempel di kaca jendela kamar Meela. Malam itu, ia berguling gelisah di ranjang tipisnya, memeluk guling dengan wajah yang terus memandang langit-langit. Kata-kata Goldbin berulang-ulang menghantui benaknya: “Kau bukan sekadar wanita biasa bagiku.”
Kenapa pria itu terus muncul dalam hidupnya? Kenapa harus ia yang terjerat?
Meela menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Aku hanya ingin hidup normal… bekerja, pulang, tidur, tanpa drama. Namun entah mengapa, sejak malam ia diselamatkan, semua terasa berbeda.
Ia tidak menyadari bahwa dari luar jendela kamarnya, bayangan samar berdiri memperhatikannya. Mata keemasan itu bersinar halus dalam kegelapan. Goldbin.
Ia berdiri diam, seolah menjaga, namun wajahnya menegang menahan pergolakan batin. Ada dorongan dalam dirinya untuk masuk, menggenggam gadis itu, melindunginya dari semua ancaman. Tapi sisi lain dirinya berkata: Jangan dekat… semakin dekat, semakin ia terperangkap.
Goldbin akhirnya melangkah pergi, membiarkan malam menelan wujudnya.
Keesokan harinya, suasana kafe lebih ramai dari biasanya. Meela sibuk melayani pelanggan, mencoba mengusir pikiran tentang Goldbin. Namun ia gagal. Bahkan suara denting bel pintu kafe membuatnya reflek menoleh, seakan menunggu pria itu datang.
Namun kali ini bukan Goldbin yang muncul, melainkan seorang wanita anggun dengan gaun mahal. Rambutnya bergelombang hitam, bibir merah menyala, dan sepasang mata penuh penghakiman. Brenda.
Ia duduk dengan elegan di salah satu meja, menaruh tas tangan bermerek di sampingnya. Semua mata di kafe menoleh, takjub pada pesona wanita itu.
“Espresso satu,” katanya pada pelayan lain, namun pandangannya tidak pernah lepas dari Meela.
Saat giliran Meela mengantar pesanan, Brenda sengaja mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, tatapan yang membuat tubuh Meela seketika merinding.
“Kau Meela?” Brenda tersenyum samar, senyum yang terlalu dingin untuk disebut ramah.
Meela bingung. “I-ya… betul. Ada yang bisa saya bantu lagi?”
Brenda menyesap espresso, lalu menunduk sejenak. Setelah itu ia berbisik cukup keras agar hanya Meela yang mendengar. “Jauhi Goldbin.”
Tubuh Meela menegang. Kopi hampir tumpah dari nampan. “Ma—maaf?”
Brenda menatapnya lekat. “Kau dengar aku. Jangan dekat-dekat dengannya. Dia bukan pria yang bisa kau miliki. Aku tidak peduli apa yang dia katakan padamu, tapi aku satu-satunya wanita yang pantas di sisinya.”
Ucapan itu menusuk seperti pisau. Meela terdiam, wajahnya memucat. Ia ingin menjawab, namun lidahnya kelu.
Brenda tersenyum puas melihat reaksinya. Ia meraih tasnya, berdiri anggun, lalu meninggalkan kafe dengan langkah yang penuh kemenangan.
Meela berdiri terpaku. Kenapa wanita itu tahu namaku? Dan apa hubungannya dengan Goldbin?
Sore itu, saat jam kerjanya selesai, Meela berjalan pulang lebih cepat. Hatinya gundah. Kata-kata Brenda menekan kepalanya, bercampur dengan rasa takut.
Namun begitu melewati gang kecil menuju rumah, langkahnya terhenti. Seorang pria berwajah kasar muncul, menghalangi jalan.
“Halo, nona. Kau Meela, kan?” Suaranya serak, matanya penuh niat jahat.
Meela mundur satu langkah. “Siapa kau?”
Pria itu menyeringai. “Anggap saja aku orang yang ditugaskan untuk memberimu pelajaran. Jangan berani dekat-dekat dengan yang bukan kelasmu.”
Meela panik. Ia berbalik ingin lari, namun dua pria lain sudah muncul dari arah belakang.
“Tidak… tolong!” jeritnya.
Namun sebelum tangan kasar itu sempat menyentuhnya, suara berat bergemuruh dari ujung gang. “Sentuh dia, aku pastikan kalian menyesal.”
Goldbin.
Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan gang, tatapannya berkilat keemasan, aura mengancam memancar.
Para preman itu sempat ragu, tetapi salah satu tertawa mengejek. “Kau pikir siapa kau? Jangan sok jagoan.”
Ucapan itu tak sempat selesai. Dalam sekejap, Goldbin sudah berada di hadapannya, mencengkeram kerah bajunya dengan kekuatan tak masuk akal. Pria itu terangkat setengah meter dari tanah, tercekik.
Kedua preman lain terperangah. “A-apa dia manusia?!”
Goldbin melemparkan pria itu ke dinding, membuatnya pingsan seketika. Tatapannya kemudian beralih ke dua sisanya.
“Kalian punya dua pilihan,” suaranya rendah dan tajam. “Pergi sekarang, atau kalian bernasib sama.”
Mereka tak menunggu perintah kedua. Dengan ketakutan, keduanya kabur terbirit-b***t.
Meela berdiri kaku, tubuhnya bergetar. Ia melihat sendiri bagaimana Goldbin bergerak, secepat kilat, sekuat monster. Itu bukan kekuatan manusia biasa.
Goldbin berbalik, mendekatinya. “Kau tidak apa-apa?”
Meela hanya bisa mengangguk, meski jantungnya berdegup kencang.
Goldbin menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan sorot mata yang lembut namun sarat beban. “Aku sudah bilang, dunia ini berbahaya. Dan sekarang kau mulai melihatnya.”
Meela menggenggam tangannya sendiri, mencoba menahan gemetar. “Apa… kau… bukan manusia biasa, kan?”
Keheningan panjang tercipta. Hanya suara hujan sisa sore yang menetes dari atap seng.
Akhirnya, Goldbin menjawab lirih, “Tidak. Aku bukan manusia biasa.”
Tatapan mereka bertemu. Meela bisa merasakan kebenaran yang jauh lebih besar daripada semua dugaannya.
Malam itu, di penthouse, Brenda melempar gelas anggur ke dinding hingga pecah berderai. Laporan dari anak buahnya jelas: Goldbin menyelamatkan Meela lagi.
“Dia bahkan melindunginya di depan umum!” teriak Brenda marah.
Ia berputar resah, wajahnya penuh dendam. “Apa istimewanya gadis itu?! Hanya pelayan kafe, bukan siapa-siapa! Bagaimana mungkin Goldbin yang selama ini tak pernah peduli bisa sebegitu… terikat padanya?”
Brenda mencengkeram pinggir meja, giginya terkatup rapat. “Kalau dia pikir bisa merebutmu dariku, dia salah besar. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan apa yang sudah bertahun-tahun kubangun.”
Ia menyalakan ponselnya, menghubungi seseorang. “Aku ingin kau menyingkirkan gadis itu. Pastikan dia tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Goldbin.”
Suara di seberang mengiyakan. Brenda tersenyum dingin. “Bagus. Kalau Goldbin tidak bisa melupakannya, maka aku akan menghapus sumber masalahnya.”
Sementara itu, Goldbin duduk di ruang kerjanya yang sepi. Tangannya menekan pelipis, pikirannya kacau. Ia tahu apa artinya perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Insting Lycan murninya tidak pernah salah: Meela adalah penanda, belahan jiwa yang dipilih takdir.
Namun ikatan itu berbahaya. Jika Meela tetap berada di sisinya, dunia Lycan akan mengetahuinya. Dan ketika itu terjadi, hidup Meela bisa terancam lebih besar daripada sekadar preman bayaran.
Goldbin menggertakkan rahang. “Aku harus memilih… melindunginya, atau melepaskannya.”
Tetapi saat mengingat wajah Meela, tatapan polosnya, dan cara tubuh gadis itu bergetar saat ia dekap untuk menenangkan, hatinya luluh. Ia tahu ia tidak bisa lagi mundur.
“Meela… kau sudah jadi milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Mata keemasannya berkilat tajam, tekadnya semakin kuat.
Keesokan malam, Meela terbangun oleh suara ketukan di jendela. Ia terlonjak, takut, namun ketika menoleh, ia melihat Goldbin berdiri di balkon kecil rumahnya.
“Boleh aku masuk?” tanyanya, suaranya rendah namun hangat.
Meski gugup, Meela membiarkan ia masuk. Goldbin menatap sekeliling kamar sederhana itu, lalu duduk di kursi kayu dekat ranjang.
“Aku tidak bisa lagi bersembunyi darimu,” katanya serius. “Ada hal yang harus kau ketahui.”
Meela menelan ludah, jantungnya berdegup. “Tentang siapa kau sebenarnya?”
Goldbin mengangguk. Mata keemasannya berkilau samar, lalu perlahan wujudnya bergeser. Tubuhnya memanas, otot-ototnya menegang, dan dalam sekejap, bayangan bulu hitam pekat menyelimuti lengannya. Gigi taringnya memanjang, auranya berubah menjadi sesuatu yang menggetarkan udara kamar.
Meela menutup mulut, tercekik oleh rasa ngeri sekaligus takjub.
“Aku Lycan,” ujar Goldbin lirih. “Keturunan serigala murni. Itulah sisi lain yang kumaksud.”
Meela terdiam. Matanya bergetar menatap sosok setengah manusia setengah serigala itu. Ketakutan bercampur rasa ingin tahu.
“Kenapa kau tunjukkan ini padaku?” suaranya bergetar.
Goldbin mendekat, menunduk agar wajah mereka sejajar. “Karena kau harus tahu kebenaran sebelum terlambat. Aku tidak bisa lagi membohongimu… dan karena kau, Meela, adalah takdirku.”
Kata-kata itu mengguncang hati Meela. Air matanya menggenang tanpa ia sadari. Entah karena takut, atau karena sesuatu yang lebih dalam.
Sebelum ia sempat menjawab, dari kejauhan terdengar suara langkah berat. Atap rumah berderit, seakan ada yang melompat ke atasnya.
Goldbin seketika menegang, instingnya peka. “Mereka datang.”
“Mereka?” Meela panik.
Goldbin menoleh padanya, sorot matanya berubah menjadi tatapan protektif. “Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari ruangan ini.”
Ketika pintu depan rumah tiba-tiba dihantam hingga terlepas, sosok-sosok asing berwajah kejam masuk. Mereka bukan preman biasa, mata mereka memerah, gigi taring mencuat. Lycan lain.
Meela tercekik ketakutan. “A-apa mereka sepertimu?”
Goldbin berdiri di depan, tubuhnya berubah penuh menjadi Lycan murni, lebih besar, lebih menakutkan, namun juga lebih gagah. Suaranya bergemuruh, “Tidak. Mereka hanyalah kawanan yang dikirim untuk merenggutmu.”
Perkelahian tak terelakkan.
Dan malam itu menjadi titik awal bagi Meela, ketika kehidupannya yang sederhana benar-benar hancur. Dunia manusia dan Lycan bersatu menghancurkan ketenangan, dan di tengah pusaran itu, hanya ada satu kebenaran: Goldbin tidak akan membiarkannya pergi.