Meela merapatkan jaket tipisnya, duduk kaku di kursi penumpang mobil mewah yang meluncur mulus menembus gelap malam. Hatinya masih berdegup cepat, seolah tubuhnya belum bisa menerima kenyataan bahwa ia baru saja selamat dari bahaya. Rasa takut, syukur, sekaligus gugup bercampur jadi satu.
Di sampingnya, Goldbin tetap tenang. Kedua tangannya mantap menggenggam kemudi, wajahnya tegas tanpa ekspresi berarti. Namun mata keemasannya sesekali melirik ke arah Meela, seperti seorang pemburu yang tengah mengamati mangsa barunya.
“Rumahmu di mana?” suaranya terdengar datar, namun penuh wibawa.
Meela menelan ludah sebelum menjawab. “Di jalan Merpati, dekat stasiun kecil.”
Goldbin mengangguk singkat, lalu melajukan mobil ke arah yang ia tahu. Keheningan kembali menguasai kabin, hanya diisi dentum pelan mesin dan detak jantung Meela yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri.
Ia ingin berbicara, tetapi lidahnya kelu. Ada sesuatu pada pria ini yang membuatnya enggan mengeluarkan suara sembarangan. Aura yang dipancarkan Goldbin terlalu mendominasi, terlalu kuat untuk ditentang.
Akhirnya, keberanian kecil muncul dalam dirinya. “Tapi… siapa sebenarnya Anda?” pertanyaannya lirih, nyaris tertelan suara hujan tipis yang mulai mengguyur kaca mobil.
Goldbin menoleh sekilas, bibirnya melengkung samar. “Seseorang yang seharusnya tak pernah kau temui.”
Jawaban itu membuat d**a Meela bergetar aneh. Bukan sekadar misterius, tetapi juga mengandung ancaman halus.
Mobil berhenti di depan rumah kecil sederhana yang tampak kontras dengan kendaraan mewah itu. Meela menatap pintu rumahnya, lega sekaligus ragu.
“Terima kasih… untuk malam ini,” ucapnya hati-hati.
Goldbin tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit, menatap Meela lekat-lekat, membuat gadis itu kembali merasa seperti terperangkap dalam tatapan predator. “Ingat ini, Meela. Mulai malam ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”
Meela terdiam. Hanya jantungnya yang menjawab, berdebar semakin kencang.
“Masuklah.” Goldbin akhirnya melepas tatapannya.
Dengan langkah gugup, Meela membuka pintu dan turun. Hujan yang mulai deras membasahi rambut dan bahunya, tapi ia tak peduli. Begitu kakinya menjejak tanah, ia refleks menoleh lagi ke arah mobil. Namun Goldbin sudah memacu kendaraannya, meninggalkan jejak lampu merah yang memudar di kejauhan.
Meela berdiri lama di depan pintu rumahnya. Kata-kata terakhir pria itu berputar-putar di kepalanya: “Hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”
Ia tidak tahu bahwa ucapannya bukan sekadar peringatan. Itu adalah kebenaran.
Sementara itu, di penthouse mewah yang menjulang di pusat kota, Brenda berjalan mondar-mandir. Jam menunjukkan hampir tengah malam, tetapi Goldbin belum juga pulang.
“Apa yang dia lakukan di luar sampai selama ini?” gerutunya, wajah cantik itu berkerut.
Gaun satin merahnya berkilat terkena cahaya lampu kristal. Dengan segelas anggur di tangan, Brenda berusaha menenangkan diri. Namun rasa cemburu yang tajam terus menyusup ke dalam hatinya.
Ia mengenal Goldbin sebagai pria yang tak pernah memberikan hatinya sepenuhnya, bahkan padanya yang sudah bertahun-tahun menjadi wanita simpanan sekaligus pendamping resmi dalam banyak acara bisnis. Tetapi Brenda tahu ia tidak bisa kehilangan Goldbin.
“Aku satu-satunya yang pantas ada di sisimu,” bisiknya pada bayangan sendiri di kaca besar balkon. “Siapa pun yang mencoba merebutmu, akan berhadapan denganku.”
Malam terus bergulir. Di sebuah ruangan pribadi tersembunyi di menara bisnis miliknya, Goldbin berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang tertidur. Jas hitamnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung.
Tatapan matanya berkilat emas samar, tanda bahwa pikirannya masih diguncang sesuatu.
“Meela…” ia menyebut nama itu lirih, seolah mencicipi rasa baru di lidahnya.
Ada sesuatu dalam diri gadis itu aroma, tatapan, kepolosan yang membangkitkan sisi terdalam dari dirinya. Sisi yang bahkan Brenda, dengan segala kecantikannya, tidak pernah mampu sentuh.
Insting Lycan murninya berbisik jelas: gadis itu bukan orang biasa. Ia seperti magnet yang menarik jiwanya, seakan takdir telah mengikat mereka.
Namun di balik desakan hasrat itu, ada bahaya. Lycan sepertinya tidak boleh terikat pada manusia biasa. Dunia mereka berbeda, dan konsekuensinya bisa fatal.
Goldbin mengepalkan tangan. “Aku tidak boleh goyah… tapi mengapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?”
Keesokan harinya, Meela mencoba menjalani rutinitasnya. Ia pergi bekerja di kafe, tersenyum pada pelanggan, dan pura-pura seolah malam kemarin tidak pernah terjadi. Namun bayangan Goldbin terus menghantui pikirannya.
Tatapan keemasan itu. Suara berat yang menenangkan sekaligus menakutkan. Cara ia menyelamatkan Meela dengan kekuatan yang tak masuk akal.
Siapa sebenarnya pria itu?
Pertanyaan itu tak berhenti berputar di benaknya, membuatnya tak fokus bahkan ketika pelanggannya memanggil.
“Meela, kopi pesananku!” suara rekan kerjanya menyadarkan.
“Oh! Maaf!” Meela buru-buru menyerahkan gelas kopi pada pelanggan, wajahnya memerah karena malu.
Namun ketika ia mengangkat kepala, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Di sudut kafe, duduk seorang pria dengan jas hitam rapi. Tatapan keemasan yang familiar itu langsung menancap pada dirinya.
Goldbin.
Meela hampir menjatuhkan nampan yang ia bawa. “Apa dia sengaja datang…?” bisiknya panik.
Selama ia bekerja, tatapan Goldbin tak pernah lepas darinya. Tidak peduli ada pelanggan lain, pria itu duduk tenang seolah seluruh kafe hanya milik mereka berdua.
Ketika shift Meela selesai, ia melangkah ke ruang ganti dengan hati berdebar. Tapi begitu ia keluar, langkahnya terhenti. Goldbin berdiri menunggunya di dekat pintu, seakan sudah memperkirakan jam ia pulang.
“Kau…” suara Meela tercekat.
“Aku menjemputmu,” jawab Goldbin tenang. “Aku sudah bilang, jangan pulang sendirian lagi.”
Nada suaranya bukan tawaran, melainkan perintah.
Meela ingin membantah, tetapi sorot mata itu terlalu menekan. Pada akhirnya ia hanya bisa menurut, berjalan di samping pria itu menuju mobil mewah yang menanti di luar.
Dalam perjalanan, Meela akhirnya memberanikan diri. “Kenapa Anda melakukan ini? Saya tidak mengenal Anda… dan Anda juga tidak mengenal saya.”
Goldbin menoleh sejenak, lalu tersenyum samar. “Aku mengenalmu lebih dari yang kau kira.”
“Bagaimana mungkin?”
Ia tidak menjawab. Hanya tatapan tajamnya yang membuat Meela menunduk lagi.
Keheningan berlangsung lama, hingga akhirnya Goldbin berkata lirih, “Kau tak perlu tahu sekarang. Yang perlu kau tahu hanyalah… kau bukan gadis biasa.”
Meela menatapnya bingung. “Maksud Anda?”
Goldbin hanya menghela napas. “Cepat atau lambat, kau akan mengerti.”
Sementara itu, Brenda semakin gelisah. Ia mendapat kabar dari salah satu orang suruhan yang tak sengaja melihat Goldbin di kafe sederhana, duduk memperhatikan seorang gadis.
Amarah langsung menyulut hatinya. “Siapa perempuan itu? Berani-beraninya dia menarik perhatian Goldbin…”
Brenda meraih ponselnya, menekan nomor seorang pria yang sudah lama ia jadikan alat. “Ikuti gadis itu. Cari tahu siapa dia, di mana tinggalnya, semua tentangnya. Aku ingin laporan lengkap.”
“Baik, Nyonya,” jawab suara di seberang.
Brenda meneguk anggurnya lagi, senyum tipis terukir di bibir merahnya. “Jika kau pikir bisa merebut Goldbin dariku, kau salah besar.”
Malam berikutnya, Meela kembali pulang ditemani Goldbin. Kali ini, hujan deras mengguyur jalanan, membuat suasana semakin hening.
Begitu tiba di depan rumahnya, Goldbin tidak langsung membiarkan Meela masuk. Ia menahan pergelangan tangan gadis itu, sentuhan hangat namun penuh kuasa.
“Meela,” suaranya rendah. “Aku ingin kau berhati-hati. Dunia ini… lebih berbahaya dari yang kau kira.”
Meela menatapnya bingung. “Apa maksud Anda?”
Tatapan keemasan itu menusuk lagi. Goldbin mendekat, jarak di antara mereka hampir hilang. “Jika suatu hari kau melihat sisi lain dariku jangan takut.”
Hati Meela bergetar. Ia tak paham maksud kata-kata itu, tetapi ia bisa merasakan sesuatu yang besar tersembunyi di baliknya.
Goldbin melepas tangannya perlahan, lalu berbalik menuju mobil. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Meela sekali lagi. “Ingat, kau bukan sekadar wanita biasa bagiku.”
Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Meela dengan d**a yang berdegup tak terkendali.
Dan dari kejauhan, sepasang mata lain mengawasi. Mata milik orang suruhan Brenda, yang diam-diam mengintai dari balik kegelapan.
Malam itu, Meela tidak bisa tidur. Kata-kata Goldbin bergema tanpa henti mengisi di kepalanya. Siapa sebenarnya pria itu? Mengapa ia merasa ada hal yang berbeda pada diriku, entah aku dibuat bingung dengan dia."
Ia tidak tahu bahwa di balik kegelapan, dua dunia berbeda, dunia manusia dan dunia Lycan, sedang bergerak perlahan mendekat, menjeratnya ke dalam pusaran takdir yang tak terelakkan.
Dan di pusat pusaran itu, ada Goldbin. Sang CEO tampan, arogan, sekaligus keturunan Lycan murni, yang kini telah menandai Meela sebagai miliknya.