Lorong bawah tanah itu lebih sempit dari yang dibayangkan Goldbin. Dinding batu yang lembab mengeluarkan aroma tanah basah bercampur lumut tua. Setiap langkah mereka bergema pelan, menambah ketegangan yang sudah mencekam. Meela berjalan di belakangnya, satu tangan memegang lengan suaminya, sementara tangan lainnya melindungi perut yang semakin membesar. "Seberapa jauh lagi?" bisik Meela, napasnya terengah karena lorong yang pengap. Goldbin meraba dinding dengan ujung jarinya, mencari petunjuk arah. "Ayahmu bilang langsung ke hutan Blackwood. Kita pasti sudah dekat." Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki bergema di belakang. Bukan hanya satu atau dua, tapi puluhan. Goldbin menghentikan langkah, tubuhnya tegang. Aromanya sudah ia kenali: "Lycan Brenda." "Mereka menemukan lorong

