Udara di pegunungan Utara lebih tipis dan dingin. Embun menggantung di udara, menyelimuti pepohonan cemara yang menjulang tinggi. Goldbin memapah Meela yang semakin lemah, tubuhnya kerap bergetar menahan sakit dari perut yang semakin sering menegang. Setiap langkah terasa berat, namun mereka tidak punya pilihan selain terus maju. “Aku bisa… bertahan,” desis Meela, suaranya hampir hilang. Goldbin berhenti sejenak, menatap wajah pucat istrinya. “Tidak. Kita akan beristirahat sebentar.” Ia mendudukkan Meela di atas batu besar yang ditumbuhi lumut, lalu berjongkok di depannya, memperhatikan kondisi perut Meela yang terus bergerak. “Dia gelisah… anak kita tahu bahaya semakin dekat.” Meela tersenyum lemah. “Dia seperti ayahnya, selalu waspada.” Goldbin mengusap pipinya, penuh kelembutan yang

