Goldbin menatap ke luar, melihat bayangan Brenda berkerumun seperti badai yang menunggu sinyal untuk menghantam. Di bawah cahaya gerhana samar, tubuh mulai bergetar, bukan karena cuaca yang dingin, tetapi karena kenaikan emosi yang berbaur antara amarah dan ketakutan. Meela, yang duduk di tangga batu menuju ruang utama kuil, menggenggam perutnya dengan tangan serupa sarang hangat. Ia menatap suaminya dengan mata penuh keyakinan, meski bibirnya masih pucat. “Diam-diam mereka menghitung langkah kita,” katanya pelan. “Tapi kuil ini… terasa sekali wasiat para leluhur seperti selimut. Mereka akan membantu, setidaknya sebisa mereka.” Goldbin mengangguk, namun suaranya keras ketika menjawab. “Mereka bukan pasukan tak terlihat. Roh leluhur dapat mengikat, menahan, bahkan memanggil badai kenangan

