AUTHOR POV
SETELAH selesai diujian pertamanya, Fano pulang lebih cepat dari biasanya. Disekolahnya ia benar-benar dipandang aneh oleh semua orang. Bahkan dirinya tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk hal yang tidak penting seperti mengobrol tentunya
Alex beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, namun Fano memilih bungkam dan tidak peduli. Fano malas berbicara untuk hal yang tidak terlalu penting, baginya menjawab pertanyaan Alex hanyalah membuang waktunya.
Alex menatap kepergian Fano dengan raut kecewa. Karna Fano benar-benar menulikan telinganya dan tidak mendengarkannya sama sekali.
"Lex? Fano udah ngomong?" Tanya Andi diikuti Zafran dibelakangnya. Alex menggeleng pelan. Lalu Zafran membuang nafasnya.
"Hm, yaudah biarin dia tenang dulu. Mungkin dia masih belum bisa maafin lo kali, Lex. Seiring berjalannya waktu pasti Fano kembali seperti dulu," ujar Zafran diangguki Andi.
Tiba-tiba Alex berdecak kesal.
"Ini semua gara-gara cewek sialan itu Fano jadi marah sama gue. Coba dia nggak nunjuk Fano, pasti nggak akan kayak gini!" Murkanya menyalahkan seluruhnya kepada gadis itu.
"Sebenernya yang salah elo, Lex. Lo nggak seharusnya nyalahin tuh cewek!" Tanggapi Andi, lalu Alex menoleh.
"Nggak! Dia emang salah. Dia itu p*rek, dia godain gue," ujarnya tetap pada pendiriannya lalu berjalan meninggalkan Andi dan Zafran.
"Ck! Emang si keras kepala susah diomonginnya," gerutu Zafran menanggapi sikap Alex.
"Yaudah yuk balik," ajak Andi akhirnya lalu meninggalkan sekolah yang sudah mulai sepi.
***
Sesampainya dirumah, Fano langsung masuk ke kamar dan mendapati Asya tengah menonton TV sembari memakan mie instan.
Hal itu membuat Fano mendengus pelan lalu berjalan menghampiri gadis itu dan segera mengambil alih piring yang berada ditangan Asya. Refleks Asya menoleh ke Fano.
"Eh kok-"
"Makanan instan gak baik buat bayinya. Apalagi ini mie," ucap Fano lalu memakan mie instan milik Asya. Gadis itu mendengus pelan
"Tapi kan enak,” gumamnya yang terdengar oleh lelaki itu.
Fano tak menanggapi dan tetap melanjutkan melahap mie milik Asya. Hening cukup lama, akhirnya Asya buka suara.
"Ujiannya susah?" Tanya Asya. Fano melihat wajah polos gadis itu sejenak lalu kembali fokus memakan makanannya.
"Biasa aja," balasnya tanpa ekspresi.
"Emang tadi mapel apa?" Tanya Asya lagi.
"B-indo," jawabnya yang kini tanpa menoleh.
"Menurut aku pelajaran yang susah itu Bahasa Indonesia. Karna soalnya itu banyak jebakannya," terang Asya seraya menyenderkan kepalanya pada penyangga kasur mengingat dulu dia pernah merasakan ujian dan itu saat kelas 6 SD dan 3 SMP.
Fano menaikkan sebelah alisnya.
"Kalo MTK itu susah-susah gampang. Intinya kalau kita tahu rumus, pasti semuanya ke isi!” ucapnya bangga. Fano hanya mendengarkan saja malas untuk berkomentar.
"Hm, kalo menurut Fano mana pelajaran yang sulit?" Tanya Asya seraya menoleh ke orang yang diajak bicaranya.
"Yang sulit?" Beo Fano, lalu Asya mengangguk antusias karna ingin mengetahui pelajaran apa yang menurut lelaki itu sulit.
"Yang sulit itu menerima keadaan," jawab Fano tanpa ekspresi membuat Asya tersentak.
Lalu Asya membuang mukanya dan rasa bersalah kembali menyelimutinya, Fano pasti sedang membahas tentang keadaannya yang sekarang, yang di pertemukan gadis bodoh sepertinya.
"Tetapi bagaimana pun keadaannya. Terkadang kita memang diharuskan tabah untuk menghadapinya, sesulit apapun keadaan itu, kita harus menerimanya," jelas Fano membuat Syasya menoleh.
Senyum Fano mengembang samar-samar melihat wajah Asya yang merona.
"Apa aku boleh nanya sesuatu, Fan?" Tanya Asya. Fano mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Tapi- jangan marah ya."
"Tergantung pertanyaannya." Mendengar itu Asya meringis lalu menggeleng pelan.
"Nggak jadi deh," akhirinya seraya tersenyum tipis.
"Tapi sayangnya gue udah terlanjur pengin tahu," kata Fano tanpa ekspresi membuat Asya menunduk dan mau tidak mau dirinya harus melanjutkan pertanyaannya.
“Fano punya pacar, nggak? Atau ada cewek yang Fano taksir?” tanyanya, Fano menaikkan sebelah alisnya, pasti Fano marah. Asya dengan segera menunduk untuk menghindari tatapan menusuk Fano.
"Hm, Fano...”
"Perlu gue jawab?" Itu suara Fano.
Asya kembali menunduk, sebenarnya ia tidak pantas untuk bertanya seperti itu, memangnya dia siapa berani-beraninya bertanya hal pribadi lelaki itu.
Fano membuang nafasnya kasar.
"Ada," jawab Fano membuat Asya meringis pelan, entahlah ia merasa seperti pelakor. Menghancurkan kisah cinta Fano dengan gadis beruntung itu yang bisa di sukai oleh Fano.
“Maaf, Fan. Maafin aku,” ucap Asya merasa sangat bersalah dengan itu. Fano yang mendengarnya langsung berkacak pinggang.
“Lo tahu siapa orangnya?” tanya Fano, sontak Asya mendongak dan menggeleng pelan sebagai jawaban.
“Kirain gue lo tahu,” gumam Fano.
“Fano, kalau kamu masih mencintai perempuan itu, aku rasa...aku nggak apa-apa,” ucap Asya membuat Fano tersenyum simpul. Dia tahu maksud ucapan Asya.
“Maaf, gue bukan cowok yang kayak gitu. Bagi gue menikah adalah satu kali, dan mencintai adalah seumur hidup bersama istri gue,” balas Fano lalu pergi meninggalkan Asya yang terdiam seribu bahasa.
Siapa yang Fano maksud? Tidak mungkin tentang dirinya kan?