5 GUSTAV (1)

802 Words
Aku berkali-kali menoleh ke arah ponsel yang tergeletak diam di atas meja dan sama sekali tidak berdering sejak kemarin pagi. Apakah wanita itu sudah bangun? Hanya ada satu orang yang mengetahui nomor telepon di dalam ponsel tersebut. Dan, wanita itu adalah wanita yang telah mencuri hatiku selama 3 tahun belakangan. Sayangnya, saat itu, aku juga baru mengetahui kalau ia sudah menikah, walaupun belum memiliki anak. Lalu, kelihatannya, mereka berdua juga adalah pasangan yang cukup harmonis. Jadi, aku tahu diri dan mundur perlahan. Sialnya, hati dan pikiranku sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Walaupun aku berusaha mengenyahkan bayangan wanita tersebut tapi tetap saja senyum dan tawanya terus terbayang-bayang di dalam otak dodol ini. Aku sama sekali tak pernah berani untuk menyapanya bahkan mengajaknya untuk berkenalan ketika aku melihatnya secara tak sengaja saat aku mengunjungi kantor cabangku di Indonesia waktu itu. Aku masih ingat ketika kami berdua tak sengaja berpapasan saat aku sedang berjalan bersama Meilani dan berdiskusi seputar masalah bisnis. Ia berjalan dan sebelum melewati kami, ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum sopan. Hanya itu. Sekilas saja. Tapi sejak hari itu, aku sama sekali tidak bisa melupakan senyum manis berlesung pipit tersebut. Lalu, tanpa sadar, aku mulai mencari-cari informasi seputar dirinya. Namanya. Alamatnya. Hobinya. Teman-temannya. Semuanya tentang gadis tersebut. Renata Maria. Sesosok bidadari atau malaikat yang bayangannya telah berhasil masuk ke dalam hatiku dan meniupkan rindu di dalam paru-paruku setiap kali aku bernafas. Setiap kali aku mengunjungi Indonesia, aku selalu memikirkan dirinya tapi di saat yang sama, aku juga harus mati-matian menahan langkahku.  Ia sudah menikah!  Ia sudah menikah!  Ia sudah menikah!  Begitu bisikku berulang-ulang pada hatiku yang terus menderu ingin bertemu dengannya. Sampai kemudian, aku tiba di malam itu….     Secara tak terduga, aku bertemu lagi dengannya. Tapi dalam kondisi yang sama sekali tidak memungkinkan. Wanita yang kucintai itu tengah mabuk. Ya, mabuk berat. Berjalan normal saja ia tak bisa. Parahnya lagi, ada seorang b******n yang sedang mencari keuntungan dari keadaannya yang berantakan tersebut dan berusaha untuk memperkosanya di tengah keramaian. Beruntung, aku datang tepat waktu dan bisa memapahnya keluar dari tempat laknat tersebut!! Haha…kau bingung kan kenapa aku bisa tahu kalau wanita idamanku ada di sana? Aku harus berterima kasih pada sahabatku, Hendarto. Yang juga kebetulan bertugas sebagai bartender di bar pada saat itu. Ia langsung meneleponku ketika tahu Renata sedang berada dalam bahaya besar dan kebetulan ia juga tahu kalau aku sedang berada di Jakarta waktu itu. Ya, ia juga tahu betapa aku sangat terobsesi pada wanita tersebut sejak beberapa tahun belakangan. Lalu, aku membawanya ke hotel tempatku menginap. Dengan lembut, aku merebahkannya di atas kasur dan bersiap untuk mandi karena tubuhku terasa sangat penat. Tapi, yang tidak kuduga, Renata langsung menarik tanganku kuat-kuat. Seakan-akan bagian tubuhku itu adalah penyambung nyawa terakhirnya di atas bumi ini. Dengan wajah memelas, ia meratap pilu supaya aku tidak meninggalkannya malam itu. Lebih gilanya lagi, ia mengajakku bercinta. BERCINTA!!!! ASTAGA!!! BISA KAUBAYANGKAN ITU?    Aku menolaknya pelan. Aku tahu aku tak layak dan tak bisa. Tubuhnya adalah milik orang lain. Tapi di saat yang sama, ia pun berkata kalau ia baru saja dibuang oleh suaminya. Dan, aku pun tak bisa menahan diri lagi. Kami berdua bergulat dengan peluh habis-habisan malam itu. Menumpahkan semua hasrat dan nafsuku untuk memilikinya selama 3 tahun belakangan ini dalam satu malam. Setelahnya, ia tertidur pulas. Tapi, ia mungkin tak tahu bahwa setelah kami bercinta, efek samping yang ditimbulkannya pada tubuhku jauh lebih gila lagi. Aku semakin mencandu pada dirinya. Renata Maria. Kutinggalkan obat pengar, secarik kertas dengan nomor telepon pribadiku, kartu debet untuknya supaya ia bisa bertahan hidup setelah berpisah dengan suaminya, dan sebuah dress karena aku sudah membuat baju yang dikenakannya menjadi gundukan kain gombal di pojok ruangan. Aku sangat… sangat… sangat berharap, ia menghubungiku sehingga kami bisa mengobrol lagi. Aku rindu suaranya. Aku rindu wangi tubuhnya. Sayang, dering telepon yang kutunggu tak pernah berbunyi. Lalu, ketika aku mengirim orang untuk mengecek kamar hotel dan alamat rumahnya, nihil. Renataku sudah menghilang. Entah ke mana. Aku memijit keningku sambil menghela nafas panjang. Hufff....... Tidak kuduga, di pagi pertamanya setelah ia mabuk berat kemarin malam, wanita pujaanku masih bisa menghilang dengan sangat gesitnya. Aku benar-benar salut tapi juga sekaligus kuatir padanya di saat yang bersamaan. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Bagaimana jika ia tersesat? Bagaimana jika ia kembali ke rumahnya dan kembali bertemu dengan suaminya? Berjuta pertanyaan bagaimana memenuhi benakku pagi ini dan segera kusuruh dua orang pengawal kepercayaanku untuk segera mencari jejaknya secepat mungkin. Tak lama, beberapa saat kemudian, mungkin ada sekitar 2 jam yang penuh kecemasan di dalam hatiku, aku mendapat kabar yang langsung membuatku menghela nafas lega.  Renataku masih ada dan dengan gesitnya, ia langsung memutuskan untuk pindah rumah pagi itu juga ke tempat lain. Sebuah senyum lebar muncul di wajahku. Di saat yang bersamaan, tekadku kembali berkobar hebat. Kali ini, aku akan mengejarnya sampai ia jatuh di dalam pelukanku dan kami berdua bisa bersama sampai tua nanti.   .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD