Sebuah mobil SUV hitam keluaran terbaru lalu sampai di depan sebuah rumah besar nan mewah di kompleks perumahan elit yang teletak di kawasan kota satelit. Sekali lihat pun, semua orang tahu kalau para penghuni kawasan perumahan di sini, bukanlah orang-orang biasa. Dengan harga setiap unitnya senilai 10 milyar (paling murah), para penghuni kawasan elite ini pastinya adalah orang-orang super kaya yang memiliki kedudukan tinggi di dalam masyarakat. Entah pejabat tinggi, konglomerat ataupun para penemu yang memiliki aset royalty dengan kekayaan digit tanpa batas di dalam rekening mereka.
Dan keluarga besar Johan, terutama kedua orangtua kandungnya. Mama Sharren dan Papa Benigno yang masih memiliki darah keturunan Filipino adalah salah satu dari orang-orang terpilih tersebut. Tak lama, gerbang besar dari logam yang dihias dengan berbagai ornament neo klasik pun terbuka secara otomatis. Mobil SUV itu lalu meluncur masuk dengan mulus ke dalam halaman parkir di depan rumah mewah tersebut.
Setelah Johan memarkir mobilnya dengan rapi diantara deretan mobil-mobil mewah lain milik kedua orangtuanya, ia pun turun dengan wajah kusut dan layu. Siang itu, orangtuanya menelepon dan menyuruhnya untuk segera datang ke rumah besar mereka. Tanpa banyak berpikir, Johan langsung mengiyakan keinginan mereka untuk segera bertemu dengannya. Otaknya masih linglung karena ia tak sanggup mencegah kepergian Renata tadi pagi. Tatapan muak dan marah mantan istrinya tersebut masih terbayang-bayang di depan matanya. Apalagi ketika wanita itu muncul dan langsung memindahkan sebagian barang-barang perabot rumah tangga yang mereka beli bersama saat mereka menikah dulu tanpa seijinnya. Sekarang, ia pun sudah tak bisa menelepon Renata lagi. Mungkin karena wanita itu sudah memblokir nomornya. Seumur-umur, belum pernah Johan melihat Renata semarah ini kepadanya. Sebagai seorang wanita karir, Renata tergolong wanita penurut, lembut dan tak banyak tingkah.
Tapi, hari ini, Johan bisa melihat sisi gelap dari mantan istrinya tersebut. Sisi wanita pendendam yang terluka karena merasa dikhianati. Dan, ia-lah pemicunya. Johan disesaki rasa penyesalan yang sangat mendalam terhadap Renata. Tapi sebagai seorang putra tunggal dan pewaris bisnis Alvaro Corp yang sudah menggurita dimana-mana, ia merasa tak punya pilihan lain. Ia tersudut ke sebuah celah mati tanpa bisa bergerak sedikitpun. Jika keluarganya membuang dirinya, maka terputuslah semua akses finansial ke semua aset kenyamanannya selama ini. Terus terang, sebagai anak yang terbiasa dimanjakan dengan semua kemewahan dan nama besar keluarganya, Johan belum sanggup untuk mengambil sebuah langkah berani dan memilih untuk mempertahankan Renata di sampingnya.
“Halo, Sayang….”
Mama Sharren lalu menyambut kedatangan Johan dengan sebuah senyum lebar sambil merentangkan kedua belah tangannya lebar-lebar serta memeluk anak kesayangannya tersebut. Wanita tua yang masih tampak cantik tersebut pura-pura tidak melihat penampilan Johan yang masih kusut dengan wajah pucat tapi langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Ada seseorang yang sedang menunggumu di dalam rumah, Johan…” kata Mama Sharren lagi sembari menggandeng tangan anak laki-lakinya dengan lembut dan mengusap-ngusap punggung tangan Johan. Sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang dari wanita tua tersebut sedari Johan masih kecil.
“Kinara…..”
“Kalian berdua sudah saling mengenal kan??”
Mata Johan seketika membulat kaget. Tunggu! Siapa tadi?
Kinara??? Bukan Kinara yang itu kan??
Tapi ketika Johan dan Mama Sharren sampai di ruang tamu, tubuhnya langsung menegang kaku. Waktu terasa berjalan lambat sekali ketika sebuah wajah yang sangat akrab langsung menyapa Johan dengan sebuah senyuman teramat manis.
“Halo, Kak Johan…”
“Lama tak bertemu. Bagaimana kabarnya?”
Kinara Saraswati.
Harusnya ia sudah tahu dari dulu!!! Johan langsung tersenyum sinis.
“Jadi ini semua hasil perbuatanmu??”
………………………………………………………………………………
7 tahun yang lalu….
Dulu, sewaktu Renata dan Johan masih pacaran, Kinara adalah salah satu juniornya di dalam kampus dan saat itu posisi Johan adalah salah satu asisten dosen yang cukup terkenal di kalangan para mahasiswa baru karena ketampanannya serta nama besar keluarganya yang memang sangat berpengaruh di Indonesia. Ia adalah satu-satunya pewaris Alvaro Corp. Sebuah perusahaan keluarga yang ladang bisnisnya sudah berkembang pesat di bidang retail supermarket sampai ke properti. Belum lagi, mereka juga berencana untuk melebarkan ekspansi bisnisnya ke bidang ekspor untuk menjual hasil perkebunan yang kebetulan juga dimiliki oleh keluarga besar Johan.
Tadinya, Johan berpikir kalau Kinara hanyalah salah satu dari sekian ratus pengagumnya yang memang suka sekali mengerubutinya di kampus. Sama seperti para mahasiswa juniornya yang lain. Saat itu posisinya, ia sudah berpacaran dengan Renata dan Renata juga sudah sangat memaklumi status Johan sebagai salah satu pria paling popular di kampus mereka. Dan hubungan mereka baik-baik saja. Bagi Renata dan Johan, yang terpenting adalah perasaan mereka berdua satu sama lain. Selama mereka berdua saling mencintai dan percaya, seperti apapun perasaan orang lain terhadap mereka, sama sekali bukan masalah besar.
Tapi Johan salah besar. Jika ia menganggap kekaguman Kinara hanya sebatas rasa suka junior kepada seniornya sama seperti yang lain. Bagi Kinara, Johan adalah idolanya. Sebuah piala emas yang layak untuk diperjuangkan bahkan didapatkan dengan segala cara. Johan adalah pusat semestanya yang harus ia raih selama ia masih tinggal dan menjejak di atas bumi ini!
Sejak hari pertama Kinara bertemu dengan Johan sebagai asisten dosen pembimbingnya, ia sudah jatuh cinta dengan pria tersebut. Tergila-gila. Dari apa yang sekedar rasa suka, lama kelamaan berubah menjadi sebuah obsesi. Posesif. Candu.
Kinara juga mulai mencari tahu semua hal tentang Johan. Mulai dari makanan kesukaan, alergi yang dimiliki oleh pemuda tersebut, wangi parfum favoritnya, bahkan sampai pada ukuran baju dalamnya, Kinara tahu tentang semuanya itu! Bahkan hal-hal terkecil yang Renata pun tak tahu.
Tapi Johan pun bukan pria bodoh. Ia lama-lama tahu tentang rasa suka Kinara yang dirasakannya semakin lama semakin tak wajar terhadapnya. Walaupun Johan sudah mengatakan kalau ia sudah memiliki pasangan dan sebentar lagi ia dan Renata akan bertunangan, Kinara tetap tak bergeming. Ia bersikukuh untuk mengejar Johan bagaimanapun caranya. Dan pada akhirnya, keinginan obsesif Kinara juga yang membuat acara pertunangan Johan dan Renata dipercepat. Plus, begitu Renata lulus kuliah, mereka berdua langsung menikah.
Harapan Kinara langsung pupus saat itu ketika ia melihat pria pujaan hatinya akhirnya berhasil menikahi kekasihnya di atas pelaminan 4 tahun yang lalu dan senyum bahagia mereka. Kinara masih ingat, betapa hancur hatinya waktu itu. Tapi kini, dengan kondisi rahim Renata yang kurang baik untuk memberikan calon penerus untuk Johan, sebuah pintu kesempatan lain terbuka lebar untuknya!!!
Pelan-pelan, ia mulai mendekati kedua orangtua Johan dan berhasil menarik hati mereka untuk berpihak pada dirinya. Dan kini, usahanya membuahkan hasil.
…………………………………………………………………………..
Kinara tersenyum manis padanya diikuti oleh senyum ibunya yang juga sama-sama sedang berada di dalam ruangan yang sama dengan kedua orangtuanya. Johan memutar kedua bola matanya. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pertemuan ini sebenarnya. Belum ada satu kali dua puluh empat jam ia berpisah dengan Renata, kini ibu kandungnya sendiri yang sudah menyodorkan calon betina lain yang siap untuk dibuahi. BENAR-BENAR SIAL!!!
Johan hanya bisa tertawa konyol pada ketidakberdayaannya sendiri sebagai seorang laki-laki.
“Hanya seorang ibu yang tahu pilihan terbaik untuk anaknya. Bukankah begitu, Johan?”
“Ini calon istrimu yang baru. Kinara Saraswati. Cantik, berpendidikan tinggi, latar belakang keluarganya juga sangat bermartabat, dan yang terpenting, tidak ada masalah kesehatan pada rahimnya sehingga ketika kalian berdua menikah, mama bisa mengharapkan untuk segera menimang cucu ya?”
Kinara tersenyum sekali lagi. Kali ini, senyum kemenangan.
.